
Dirga tercengang menatap istrinya. Bola matanya melotot dengan rahang yang terbuka. Untuk beberapa saat ia seakan kehilangan akal sehatnya akibat terkejut. Pria itu bahkan belum sepenuhnya percaya bahwa wanita di hadapannya adalah benar istrinya.
Ia meneliti tubuh itu. Lula tampak sangat berbeda dalam balutan lingerie tipis bermotif garis hitam putih menyerupai kulit zebra.
Sedangkan Lula langsung menunduk malu saat menyadari suaminya yang tak kuasa berkedip menatapnya. Jangan lupakan pipinya yang mendadak merah merona.
“Kamu dari mana?” Sebuah pertanyaan basa-basi ia lontarkan kepada sang suami.
“Aku dari apartemen. Ambil hape sekalian istirahat sebentar,” jawabnya santai.
Lula menatap penampilan sang suami. Jika biasanya Dirga berpenampilan formal dengan kemeja dan celana bahan, kini tampak cukup santai dengan jaket dan celana jeans. Namun, justru sangat keren bagi Lula. Apa lagi ia habis mencukur bulu halus yang tumbuh di wajahnya, yang membuat suaminya itu tampak lebih muda.
Dirga menutup pintu dan menguncinya. Kemudian berjalan menuju sudut kamar dan membuka jaket yang dikenakannya. Kini hanya tersisa baju kaus yang membuat bentuk tubuh kekarnya terlihat jelas. Lula masih membeku menatap punggung lebar itu. Pikiran konyol tiba-tiba merasuk, entah mengapa ia merasa ingin bersandar di sana. Pasti akan sangat nyaman.
“Kenapa ngeliatinnya begitu?” tanya Dirga ketika menyadari tatapan istrinya.
Lula gelagapan.
“Tidak apa-apa, Mas.”
Wanita itu masih membeku. Ingatannya berputar ke malam pertama kalinya bertemu dengan Dirga setahun lalu. Di mana pria itu merupakan suami dari bosnya—yang sialnya sedang mabuk dan merenggut kesuciannya tanpa sadar.
Lula tersadar dari lamunan. Kembali terfokus kepada tubuh suaminya yang menggoda. Postur tubuh yang tinggi menjulang dengan otot lengannya yang tidak terlalu besar, berikut dada yang sedikit membusung. Sangat sempurna dalam pandangan Lula.
Wanita itu larut dalam khayalan hingga tak sadar lagi sejak kapan Dirga berdiri tepat di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat. Ia pun kembali menunduk menyembunyikan rona merah di pipinya.
Menyadari ekspresi malu-malu Lula, Dirga pun menariknya ke dalam pelukan. “Kamu kenapa mukanya begitu?” Sambil tertawa kecil.
“Tidak apa-apa.” Lula menyandarkan kepala di dada bidang itu hingga dapat mendengar detak jantung dan suara dalam suaminya. Mata Lula terpejam menikmati rasa damai yang ia peroleh dalam pelukan hangat itu.
“Kenapa aku jadi malu begini ya. Apa karena aku belum pernah berpakaian terbuka seperti ini di hadapan Mas Dirga?”
Keduanya diam dan saling memeluk satu sama lain.
“Aku lumayan kaget loh, lihat kamu berpakaian seperti ini.” Semakin malu saja Lula dibuatnya hingga rasa panas terasa menjalar di pipinya, yang kemudian ia benamkan di ceruk leher suaminya.
“Iya, Sayang.”
Dirga mencium ubun-ubun istrinya dan menyesap aroma wangi dari sana. Kemudian melirik ke arah pembaringan di mana bayi kecilnya tampak tertidur nyenyak dalam balutan selimut.
“Zav mau tidur di sini atau titip ke mama dulu?” Sebuah pertanyaan yang menyiratkan keinginan untuk menghabiskan malam berdua saja tanpa gangguan dari apapun.
“Di sini saja, Mas. Apa kata keluarga yang lain kalau titip anak sama mama? Aku kan malu.”
"Kan tidak apa-apa. Mereka pasti mengerti kalau kita butuh waktu berdua."
"Tidak usah, Mas. Di sini saja Zav-nya," pinta Lula penuh harap. Pasti akan sangat memalukan baginya jika menitipkan putranya pada sang mertua.
Dirga mengangguk pelan. “Ya sudah. Tapi yakin Zav tidak akan rewel?”
“Memang sejak kapan Zav rewel malam-malam?”
“Maksud aku ... takutnya pas lagi enak-enaknya dia bangun minta susu.” Ucapan Dirga yang terasa vulgar bagi Lula membuat wanita itu menggigit bibir bawahnya dan Dirga tidak pernah bisa tahan melihatnya. Bibir mungil yang selalu tampak merah itu sangat menggemaskan. Jika tidak segera dimulai, ia bisa hilang kendali.
“Zav jarang bangun malam-malam. Palingan subuh bangunnya.”
Dirga bernapas lega. “Baiklah. Kalau gitu kamu ganti bajunya dulu ya!”
Lula melepas pelukan dan meneliti tubuhnya, mengira ada yang salah dengan penampilannya. “Memang kenapa, Mas?”
“Tadinya aku pikir kamu akan terlihat sangat seksi kalau pakainya baju motif zebra. Tapi ternyata—” Ucapan Dirga yang menggantung menciptakan kerutan tipis di kening istrinya.
“Ternyata apa?” Lula menatap penuh tanya.
“Kamu jadi mirip zebra cross,” jawab Dirga mengatupkan bibirnya menahan tawa. Membuat senyum manis yang menghiasi wajah Lula meredup saat itu juga.
“Maassssss!!!!”
...........