
Jeff menatap beberapa perhiasan cantik yang terpajang di sebuah etalase. Hampir tiga puluh menit pria itu berada di toko perhiasan untuk memilih cincin yang dirasa cocok untuk melamar sang pujaan hati.
“Ini juga bagus, Pak!” Seorang wanita meletakkan sebuah kotak perhiasan cantik ke atas meja berisi cincin bertahtakan berlian dengan ukuran yang bagi Jeff lumayan besar. Pria itu tiba-tiba teringat seorang pengacara terkenal yang gemar mengoleksi berlian.
“Jangan yang inilah, Mbak! Ada yang bentuknya lebih simpel tapi elegan?”
“Ada, Pak! Sebentar!” Wanita itu berjalan menuju etalase lain dan mengeluarkan sebuah cincin dari sana. “Ini, Pak!”
Jeff menatap cincin tersebut, sederhana tetapi sangat cantik. Persis seperti Mentari.
"Ya sudah, saya ambil ini."
Sesi memilih cincin selesai. Pria setengah bule itu bergegas meninggalkan toko perhiasan menuju mobil miliknya. Ia bersandar sambil menatap lekat kotak kecil berwarna biru gelap di tangannya.
Mendadak kenangan masa lalu yang menyakitkan kembali berputar dalam ingatan.
"Sekarang harus gerak cepat. Dulu mengalah sama Pak Azka, masa sekarang mengalah lagi sama adiknya."
.
.
.
Butuh tiga puluh menit bagi Jeff untuk tiba di apartemen tempatnya tinggal setelah seharian disibukkan dengan urusan sang bos. Begitu pintu terbuka, pria itu langsung disambut dengan senyuman hangat seorang wanita paruh baya.
"Sudah pulang, Jeff?" sapa wanita itu.
"Iya, Mi," jawabnya dengan pandangan berkeliling seolah mencari sesuatu.
Tak seperti biasanya, malam ini Mentari tak terlihat di ruang televisi. Padahal biasanya di jam seperti ini, ia akan menemani Mami Joanna untuk sekedar mengobrol atau menonton acara televisi.
Jeff melepas sepatu dan mengganti dengan sandal rumahan. Berjalan melewati ruang televisi menuju dapur. Mentari juga tak terlihat di sana. Hanya ada seorang wanita muda yang sedang membersihkan dapur.
Mentari masih di kamar kali ya.
Ia menuang air putih ke dalam gelas dan meneguknya. Kemudian kembali ke ruang televisi di mana Mami Joanna sedang duduk. Menghempas tubuhnya di sofa tunggal dengan menyilangkan kaki. Jangan lupakan matanya yang sesekali menatap pintu sebuah kamar.
Cukup lama Jeff uring-uringan menunggu. Langsung bertanya kepada Mami Joanna pun gengsinya setinggi Gunung Himalaya. Sebab, sang mami pasti akan menggodanya seperti biasa.
Kenapa tidak keluar-keluar ya. Apa Mentari sudah tidur?
"Mami ..." Akhirnya menyerah. Jeff memanggil Mami Joanna setelah sekian lama terdiam menunggu.
"Iya," jawab sang mami tanpa menoleh karena terfokus dengan tayangan di TV.
"Memangnya kenapa?"
"Biasanya kan ada Mentari yang temani Mami nonton TV. Memang Mentarinya mana, Mi?"
Mendapat pertanyaan itu membuat Mami Joanna menatapnya dengan alis berkerut. "Memang kamu belum diberi tahu sama Mentari?"
"Diberi tahu tentang apa?" Jeff tampak bingung, sebab belum mengerti arah pembicaraan sang mami.
"Loh, mami pikir Mentari sudah izin kamu untuk pulang ke Surabaya? Tadi katanya dia tidak enak tinggal di sini terus. Baru dua jam yang lalu dia berangkat ke bandara."
Jeff membeku. Keterkejutan membuat lidahnya seperti terkunci.
"Mentari pergi, Mi?"
"Iya. Mami sudah berusaha cegah tapi dia tetap mau pergi. Mami pikir dia sudah bilang sama kamu."
Tanpa menunggu lagi, Jeff pun bangkit. Menyambar kunci mobil dari atas meja dan berlari keluar.
.
.
.
Mentari menatap sebuah tiket penerbangan yang baru dibelinya beberapa menit lalu. Malam ini, ia memutuskan akan kembali ke kota asalnya dan memulai hidup baru. Meninggalkan segala kenangan buruk tentang masa lalu.
Gadis itu berjalan dengan langkah terseok karena kondisi kakinya yang belum sembuh benar. Sebuah tongkat berbahan stainless mengapit di sela ketiaknya.
"Ini tiket saya, Pak!" Gadis berambut panjang itu menunjukkan tiket penerbangan miliknya kepada petugas bandara yang berdiri tak jauh dari pintu masuk.
Di sisi lain, Jeff baru tiba di bandara dan langsung turun dari mobil. Ia bahkan tak mengindahkan teriakan beberapa orang yang kesal karena Jeff memarkir mobil sembarangan, sehingga menghalangi pengendara lain.
Kunci mobil ia serahkan kepada seorang petugas parkir bandara. Lalu berlari menuju lobi.
"Mentari!" teriak Jeff memanggil dengan raut wajah frustrasi. Pandangannya berkeliling di antara lautan manusia. Adakah Mentari di antaranya?
Kakinya terus melangkah. Matanya meneliti setiap gadis berambut panjang yang dilihatnya dari belakang. Hingga melihat sosok gadis yang berjalan menuju pintu masuk.
"Mentari!"
***