HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kamu Suka Sarapan Apa?



Dirga melangkah menuju lemari pendingin dan mengeluarkan sebotol air mineral dari sana. Pekerjaan hari ini cukup melelahkan dan menguras tenaga. Laki-laki itu duduk di kursi dengan bersandar sambil membuka tutup botol, meneguk hingga menyisakan setengahnya. Segarnya air dingin yang menyapu tenggorokan seakan mampu mengembalikan tenaganya. 


Ia menatap punggung Lula yang masih tampak sibuk dengan kegiatan memasaknya. Tiada kata yang terucap di antara keduanya, hanya ada bunyi peralatan memasak yang saling beradu. 


Dirga terdiam sebentar. Menatap botol air mineral di tangannya. 


Sementara Lula kini sedang menata makanan di atas meja. Dirga memperhatikan gerak tangannya yang cukup cepat, baru menatap makanan yang terhidang di meja saja sudah berhasil membuat perutnya keroncongan. Apa lagi ketika melihat uap panas yang berasal dari sana dan melayang di udara, berikut aroma lezat yang menyapu penciumannya. 


“Lula ...” 


“Iya, Mas.” 


“Kamu baik-baik saja, kan? Apa Alika berbuat kasar sama kamu?” tanya Dirga membuat Lula menghentikan kesibukannya sejenak. Ia lalu menatap suaminya. 


“Kalau dia kasar terhadapku ... apa yang akan kamu lakukan?” 


Pertanyaan itu membuat Dirga terpaku. Ucapan Lula selalu menohok dan kadang menusuk ke hati. 


“Apa kamu akan diam saja, membelaku atau malah membelanya? Kamu punya dua istri. Kalau salah satu istrimu menyakiti istrimu yang lain, apa yang akan kamu lakukan?” 


Dirga masih diam. Tangannya terulur meraih jemari Lula. Menggenggamnya dengan erat. 


“Lula ... suami mana pun tidak akan senang jika ada yang berbuat kasar terhadap istrinya. Apa lagi di depan matanya sendiri. Tidak peduli siapapun yang melakukannya, kamu istriku dan aku tidak akan suka jika ada yang menyakitimu.” 


Lula tersenyum, membalas genggaman tangan itu hingga jari-jari mereka saling bertaut. “Aku tidak apa-apa, Mas. Kamu tenang saja,” ucapnya membuat Dirga bernapas lega. “Oh ya ... kamu mau makan sekarang?” 


“Aku mau mandi dulu. Gerah, nanti makannya kurang nikmat.” 


“Tapi nanti makanannya dingin, Mas.” 


"Tidak."


Dirga berdiri tepat di hadapan Lula, membuat wanita itu mendongakkan kepalanya karena tinggi tubuhnya hanya sebatas ujung dagu suaminya. 


 Dirga pun melirik ke arah pintu kamar yang masih tertutup, kemudian berbalik dan mencium kening Lula dengan gerakan yang cepat tetapi sangat lembut—yang mana menciptakan rona merah di wajah wanita itu. 


“Aku mandinya tidak lama kok. Sebentar ya ...” Ia tersenyum sambil membelai pipi Lula. Kemudian beranjak menuju kamar.


Sementara Lula menatap punggung tegak suaminya yang perlahan menghilang di balik pintu kamar.


Ia menarik napas dalam. Meskipun sadar Alika adalah istri sah suaminya, tetapi naluri wanitanya tetap membawa rasa cemburu melihat suaminya sekamar dengan wanita lain.


*


*


*


Makan malam berlangsung dengan diamnya Alika. Tak ada sepatah kata pun yang terucap dari bibirnya. Sesekali tatapannya mengarah kepada Dirga yang begitu lahap menikmati makan malamnya. 


Ia memutar bola mata dengan malas ketika melihat Lula sedang menuang air putih ke dalam gelas dan menggeser ke hadapan Dirga, yang kemudian disambut Dirga dengan senyuman hangat.


Terlihat sederhana, namun penuh makna. 


Dan, interaksi kecil itu saja mampu membuat hawa panas merambat ke setiap jengkal tubuh Alika. 


“Dirga ...” 


“Hemm ...” 


“Besok aku mau shoping ke mall. Aku sudah lama tidak belanja.” 


“Terserah kamu, Al. Memang kapan aku melarang?” balas Dirga dengan acuh tak acuh seraya mengunyah makanan.


Alika menerbitkan senyum pongah. Menatap Lula seolah ingin menunjukkan kepada madunya itu bahwa dirinya adalah ratu di rumah itu, dan tentunya di dalam hidup Dirga. Namun, Lula tampak tak begitu mengindahkan.


"Mas, kamu suka sarapan apa?" tanya Lula.


Dirga menatap Lula sejenak dan tersenyum. Perlakuan lembut Lula selalu membuat hatinya menghangat.


"Apa saja. Kalau kamu yang masak pasti enak."


Ucapan mengandung pujian itu membuat seluruh tubuh Alika terasa meremang.


Mendadak sesak kembali menjalar.


****