HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Yang Waras Harus Mengalah!



Seluruh tubuh Alika terasa meremang. Ia belum dapat mengucapkan sepatah kata pun seolah mulutnya sedang terkunci. Sementara Lula tampak tak begitu mengindahkan kehadirannya. Ia malah membalikkan tubuhnya dan meneruskan memasak.


"Mbok, dia tinggal di kamar mana?" tanya Alika ketus.


"Di kamar Zav, Bu. Kan bapak juga bilang tadi, kalau Bu Lula akan tinggal di kamar Zav."


Tangan Alika mengepal. Tentunya ia akan keberatan jika Lula tidur di kamar Zav, yang berada tepat di samping kamarnya.


"Kamar itu untuk Zav. Dia akan tinggal di kamar belakang saja."


"Tapi, Bu ... Bapak bilang ..."


Belum tuntas ucapan Mbok Darmi, sudah dipotong lebih dulu oleh Alika yang tampak semakin kesal.


"Tidak ada tapi-tapian! Di rumah ini saya ratunya. Semua harus atas izin saya. Pokoknya dia akan tidur di kamar pembantu."


"Sudah, Mbok ... biarkan saja. Kita yang waras harus mengalah," ucap Lula berusaha mengingatkan Mbok Darmi.


Mata Alika berkilat marah. Ucapan Lula seakan membuat harga dirinya terinjak. Ia melangkah maju hingga berdiri dalam jarang kurang dari dua meter dari wanita itu.


"Apa maksud kamu? Kamu mau bilang saya gila?"


"Loh, memang Ibu merasa gila?"


Rasa panas semakin merambat ke dalam aliran darah wanita itu. Ia melangkah maju, namun Lula tiba-tiba menatapnya.


"Jangan dekat-dekat, Bu. Saya lagi masak ini. Ibu mau kena minyak panas. Kulit Ibu bisa jadi jelek loh."


Meskipun pengucapan Lula terdengar sangat santai, namun Alika dapat merasakan aroma ancaman di sana. Jika saja tidak, ia pasti sudah menjambak rambut madunya itu.


Tak tahan, wanita itu pun segera meninggalkan dapur. Masuk ke dalam kamar dengan membanting pintu keras hingga membuat Mbok Darmi terlonjak.


Lula terkekeh.


"Iya kan, Mbok. Harus mengalah sama orang gila," ucap Lula membuat Mbok Darmi tertawa kecil.


"Ibu bisa aja."


.


.


.


Matanya terpejam sejenak ketika menyesap aroma masakan yang membuat perutnya terasa kosong. Pelan-pelan langkahnya mengikuti kemana sumber aroma itu berasal. Ia menuju dapur dan melihat seorang wanita berambut panjang yang berdiri membelakang.


Ya, itu Lula ....


"Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Lula menyadarkan Dirga dari lamunannya.


"I-iya ... Kamu masak apa? Wangi sekali."


"Masak rendang kesukaan kamu," balas Lula dengan senyuman yang bagi Dirga mengalahkan manisnya madu.


Dirga balas tersenyum. Tiba-tiba rasa hangat menjalar ke hatinya.


Namun, kemudian senyum itu meredup ketika tatapannya terarah pada ruang televisi, di mana Alika duduk dengan sebuah majalah di tangannya, dan juga bonus tatapan mengintimidasi.


"Kamu dari mana saja? Kenapa pulangnya malam?"


Dirga menghela napas panjang. "Kamu kan tahu aku kerja, Al. Memang aku mau ke mana lagi?"


Alika mendengus menyadari betapa ketusnya Dirga saat berbicara dengannya, sebaliknya sangat lembut terhadap Lula. Ia meletakkan majalah ke atas meja dengan kasar. Kemudian beranjak masuk ke kamar dengan hentakan kaki yang cukup keras.


Membuat Dirga hanya mampu menggelengkan kepalanya. Istrinya itu tidak pernah berubah.


Dirga pun teringat sesuatu.


Paling enak itu, pulang ke rumah dan disambut istri dengan masakan dan senyum, bukannya malah disambut dengan tatapan tajam. Ucapan Dokter Allan kala itu menari-nari di benak Dirga.


Dan Dirga merasa ucapan sepupunya itu sangat benar. Jika Lula menyambutnya dengan aroma masakan enak diiringi senyum yang mampu menciptakan rasa hangat, sebaliknya Alika malah menyambutnya dengan tatapan tajam.


Sungguh berbeda. Perlahan, hati kecilnya mulai membandingkan.


***