HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kejadian Sebenarnya?



Dirga mempercepat langkahnya menuju mobil yang terparkir di halaman gedung tinggi itu, seolah sudah tak sabar menanti kejutan yang ingin diberikan Lula. Tingkah Dirga layaknya ABG yang sedang jatuh cinta membuat Jeff geleng-geleng kepala. Sejak tadi sang bos memainkan ponsel seraya tersenyum senang.


Ia sedang saling berbalas pesan dengan istrinya melalui aplikasi WhatsApp.


"Jeff, antar saya ke toko perhiasan dulu ya! Saya mau mau beli sesuatu untuk Lula," ucap Dirga sesaat setelah mobil yang dikemudikan oleh Jeff melaju meninggalkan gedung kantor Anva Group.


Jeff melirik Dirga yang duduk di sebelahnya sekilas, kemudian kembali terfokus pada jalan di depannya. "Tapi Pak, Bu Lula nanti menunggu lama. Lagi pula saya rasa tidak perlu beli perhiasan. Kan ini hanya makan siang biasa."


"Saya mau melamar Lula hari ini, untuk menikah dengan saya secara resmi," ucapnya santai. "Saya keren ya, Jeff?"


Alis Dirga bergerak naik turun dengan rasa bangga, sebaliknya alis Jeff malah berkerut mendengar betapa narsisnya sang bos.


Keren apanya? Begitu tatapan Jeff berbicara. Jika saja bisa, mungkin Jeff akan memilih memaki saja.


"Apa tidak sebaiknya cari waktu lain yang lebih tepat? Melamar itu kan harus romantis dan berkelas."


Dirga menatapnya tajam, membuat pria yang duduk di sisinya gelagapan. "Kamu tahu apa tentang romantis-romantisan Jeff? Memang kamu pernah pacaran?"


"Memang Pak Dirga pernah?"


Cukup sudah! Ucapan Jeff seolah menginjak harga diri dan image keren yang selama ini melekat dalam diri seorang Anggareksa Dirga Mahendra.


"Kamu belum tahu siapa saya, Jeff. "


"Hehe, soalnya gelagatnya meragukan."


"Jeff, kamu lagi mau latihan bela diri, tidak?"


...........


PRANG! 


Suara pecahan kaca menggema memenuhi ruangan pribadi sebuah restoran mewah. Alika menatap pecahan gelas yang baru saja dilempar Hito. Berhamburan di lantai membentuk kepingan kecil.


Hito meluapkan amarah yang terasa menembus ubun-ubunnya dengan melempar benda apapun yang ada di atas meja. Tak peduli jika wanita super cantik yang duduk di hadapannya meringkuk ketakutan, menutupi kedua daun telinganya dengan telapak tangan. 


Pertemuan Alika dan Lula di salon membuat Hito panik bukan kepalang. Terlebih setelah mendapat laporan dari orang suruhannya yang tak menemukan Lula di mana pun. 


“Di mana anaknya Dirga sekarang?” tanya Hito lagi-lagi nyaris  berteriak. Menyandera Baby Zav sebagai jaminan baru saja terlintas di pikiran jahatnya sebagai jalan satu-satunya untuk lolos dari jeratan hukum.


“Sial!” Hito meletakkan ponsel dengan kasar. Ia jambak rambutnya dengan kedua tangan. "Kita harus bagaimana sekarang?"


"Lakukan sesuatu, Hito. Kalau sampai Dirga tahu semua ini, tamat riwayat kita," ucap Alika dengan hela napas frustrasi.


“Ini semua gara-gara kamu, Al. Sejak awal kamu terlalu lama bergerak. Sejak bertunangan dengan Vino seharusnya kamu bisa membuat dia tanda tangan surat pengalihan aset-asetnya. Lihat sekarang apa akibatnya. Lula pasti akan menceritakan kepada Dirga tentang apa yang kita lakukan kepada Azka dan Vino.” 


Tak terima Hito menyalahkan dirinya, Alika pun mendengus kesal. Ia berdiri tepat di hadapan Hito dan mendorong dada laki-laki itu hingga mundur beberapa langkah. 


“Kamu jangan bisanya menyalahkan aku!” pekik Alika. “Aku yang paling banyak berkorban di sini."


Hito membuang pandangan dengan malas.


"Pertama, kamu memaksa aku untuk bertunangan dengan Vino, lalu kamu menjebak dia dengan membuat rencana seolah-olah Azka sudah melecehkan aku.” Alika menunjuk-nunjuk dada Hito dengan amarah yang membuncah. “Dan akhirnya kamu membuat aku terjebak dalam pernikahan dengan Dirga! kamu pikir aku senang?” 


“Stop, Alika! Sekarang lebih baik kamu pikirkan cara untuk membungkam Lula.” 


Alika menarik napas dalam. Ia kembali terduduk di kursi dengan tatapan kosong. Sesal mulai merambat ke hatinya. 


“Seandainya saja kamu tidak membunuh Vino malam itu, ini semua tidak akan terjadi. Kamu menjebak Azka, membuat dia mabuk dan menuduhnya menikam Vino. Kamu juga kan yang menyabotase mobilnya sampai dia mengalami kecelakaan? Kamu yang membunuh Vino, bukan Azka!” 


"Iya! Memang aku yang merencanakan semuanya. Puas kamu?!"


BRAK!


Suara pintu terbuka membentur dinding dengan keras membuat Alika dan Hito terlonjak.


Seketika kelopak mata keduanya terbuka lebar menyadari siapa yang kini tengah berdiri di ambang pintu dengan sorot mata tajam.


"Jadi seperti itu kejadian sebenarnya? Kalian berdua benar-benar aktor hebat."


Baru saja Hito akan menghampiri pria itu, ia sudah kembali dikejutkan dengan kehadiran Dirga di sudut lain ruangan itu.


Dirga tampak membeku. Tak ada ekspresi berlebihan di wajahnya. Tangannya terkepal, menatap Hito dan Alika dengan bola mata memerah yang tergenang oleh cairan bening.


“Di-Dirga—” panggil Alika dengan suara gemetar. 


.....