
Mata Jeff terbuka lebar ketika menatap istrinya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Karena terkejutnya, ia bahkan belum sanggup mengatakan apapun. Mendadak lidahnya terasa kaku. Bahkan jantungnya berdetak dengan kencang seperti habis berlari jauh.
“Me-Mentari? Kamu ...”
Mentari berdiri di ambang pintu dengan gaun tidur tipis yang memperlihatkan lekukan tubuhnya. Dengan malu-malu ia menundukkan kepala, saat menyadari Jeff yang begitu terpana memandanginya.
“Kak Jeff, saya ...” Ucapan Mentari menggantung. Semakin gugup dan gemetar karena tatapan Jeff seperti sedang melahap tubuhnya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jeff berdiri di hadapan wanita yang hanya setinggi dagunya itu. Mentari mendongakkan kepala sehingga tatapan mereka saling beradu.
"Kamu kenapa?"
“Saya sudah siap,” ucap Mentari meskipun masih terlihat ragu dan malu.
Melihat usaha Mentari untuk menyenangkannya, Jeff pun tersenyum. Ia menatap istrinya penuh cinta. Diusapnya dengan penuh kelembutan puncak kepala istrinya itu, kemudian membenamkan kecupan sayang di kening.
“Terima kasih. Tapi kamu tidak perlu melakukan ini hanya untuk menyenangkan saya? Saya akan menunggu sampai kamu benar-benar siap.”
“Kenapa harus terpaksa? Kak Jeff berhak atas diri saya. Bukankah kewajiban seorang istri melayani suaminya?”
"Iya sih. Tapi menjalankan kewajiban sebagai istri itu bukan hanya soal ranjang saja."
"Kalau begitu mulai dari sana saja."
Mentari menyandarkan kepala di dada tela*njang suaminya, membuat Jeff membalas dengan memeluknya. Rasa hangat pun kembali dirasakan Mentari ketika tangan kekar itu melingkar erat di tubuhnya.
"Kamu yakin?"
Dalam pelukan Mentari mengangguk. Hingga beberapa saat kemudian, Jeff melepas pelukan. Menggendongnya menuju tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka di sana.
.
.
.
.
Berbaring dalam balutan selimut yang sama, Jeff dan Mentari saling menghangatkan satu sama lain. Jeff memulai dengan mengobrol tentang beberapa hal demi menghilangkan kecanggungan di antara keduanya.
Pria itu sudah tak sekaku di awal, begitu pun dengan Mentari yang mulai menunjukkan sisi manjanya di hadapan sang suami. Ia mulai memeluk, mencium dan sesekali bersandar di dada suaminya.
Sedangkan Jeff sendiri, ia sudah hampir gila dengan tingkah istrinya yang begitu manja dan menggemaskan. Bahkan mentari sengaja menunjukkan bentuk tubuhnya dengan menggunakan gaun malam tipis.
"Jadi baju ini Bu Giany yang kirim lewat Shantoloyo?"
"Namnya Mbak Shanty, Kak Jeff," protes Mentari sambil tertawa. Tetangga mereka itu memang terkadang menyebalkan, tetapi sangat baik hati dan suka membantu.
"Iya kalau malam. Kalau siang tetap Shantono."
“Bagaimana kalau kita merubah panggilan.” Jeff yang kembali menarik tubuh Mentari dan menyandarkan di dadanya. "Masa sama suami panggilnya kakak."
“Terus panggilnya apa?”
“Pasangan suami-istri itu kan panggilnya sayang.”
“Malu, Kak,” cicit Mentari yang terasa begitu menggemaskan bagi Jeff. Meskipun masih ada sedikit tanda tanya di benaknya. Ada apa dengan Mentari yang tiba-tiba berubah menjadi manis dan terkesan manja.
“Ya sudah, pelan-pelan saja. Nanti juga kamu terbiasa.”
Meskipun telah mendapat izin dari Mentari untuk memilikinya seutuhnya, namun Jeff tak terburu-buru menjalankan malam pertamanya. Ia memberi waktu kepada Mentari untuk mengurai rasa malu dan gugupnya.
Jeff menangkup kedua pipi istrinya hingga keduanya saling tatap. Sebuah tatapan yang menyiratkan api cinta yang menggelora. Dan detik itu juga, Jeff mendekatkan wajahnya.
Mentari pun memejamkan matanya saat merasakan lembutnya Jeff mencium bibirnya. Juga sentuhan tangannya yang menjelajahi seluruh tubuh istrinya. Ciuman pertama itu pun berubah menjadi ciuman manis yang kemudian semakin dalam.
Keduanya terhanyut dalam kenikmatan dunia yang melenakan. Mentari tak sadar lagi kapan Jeff berhasil melepas pakaian tipisnya. Kini keduanya hanya terbalut selimut.
Wajah Mentari semakin memerah saat baru tersadar Jeff telah melihat seluruh bagian tubuhnya hingga bagian paling pribadi. Menyadari itu, Jeff kembali membujuknya.
"Tidak usah malu, lagi pula hanya aku yang melihat. Kamu boleh teriak kalau merasa sakit. Kamar kita kedap suara, jadi tidak akan ada yang mendengar suaramu selain aku."
Jeff membenamkan ciuman di bibir seraya mengarahkan miliknya ke tempat yang seharusnya. Membuat Mentari harus beberapa kali menjerit kesakitan dibuatnya.
"Sakit, Kak Jeff," rintih Mentari dengan membenamkan wajahnya di ceruk leher sang suami.
"Iya, Sayang, maaf. Pelan-pelan saja, ya."
Mentari mengangguk, membuat Jeff terdiam beberapa saat. Hingga dirasa Mentari telah siap menerima, barulah ia mulai bergerak.
Jeff pun mencurahkan semua cinta yang ia miliki untuk Mentari. Mengalirkannya melalui setiap sentuhan.
Mentari melingkarkan tangannya di punggung suaminya. Memejamkan mata saat merasakan sensasi tak tertahan yang berpusat di bawah perut.
Rintihan, desa*Han, memenuhi seisi kamar dengan pencahayaan temaram itu. Hingga pada saat segalanya mencapai puncaknya, Jeff menciumi leher istrinya sambil mempercepat gerakan di pinggang. Matanya terpejam ketika merasakan sesuatu mengalir di bagian bawah tubuhnya.
Jeff mencium kening sesaat setelah menuntaskan hasr*atnya, dengan napas yang masih tersengal.
"Terima kasih, Mentariku."
*
*
*
*