HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Kena Batunya!



Sejak keluar dari toko pakaian tadi, wajah Dirga tampak cukup kusut. Makin maju ke depan saja bibirnya ketika Lula tak henti-hentinya menggoda. Wanita itu bahkan sengaja membeli beberapa buah lingerie seksi, padahal ia tahu betul bahwa permintaan Dirga tadi hanyalah untuk menggodanya.


Senjata makan tuan, mungkin ungkapan itulah yang tepat bagi Dirga. Niat hati untuk menjahili Lula malah berbalik menyerangnya. Lula berhasil membalasnya dengan cara yang cantik dan membuatnya uring-uringan. Ternyata Lula tak sepolos yang dipikirkan Dirga. Malah sekarang wanita itu sedang cekikikan melihat wajah suaminya yang masih memerah karena malu. 


“Puas-puasin!” ketus Dirga sambil mendorong kereta bayi. Sejak tadi Lula tak henti-henti menggoda dirinya.


"Aku mau pakai yang mana malam ini, ya? Yang rendanya di bawah apa di atas? Ulalahh, malam ini aku manjalita banget guling-guling di kasur," ucapnya dengan gaya centil diiringi kedipan mata yang membuat bulu mata lentiknya ikut menari.


"Sono guling-guling di lantai!" Dirga menunjuk lantai dengan kesal.


Lula terkekeh, tetapi tak lantas menghentikan kejahilannya. "Eh Mas, menurut kamu malam ini sebaiknya aku kunci pintu kamar apa tidak ya?"


"Gembok sekalian! Pasang jeruji besi!"


"Kayak narapidana dong! Oh ya Mas, nanti malam kamu ada rencana jenguk aku tidak?"


Dirga menatapnya dengan kerutan tipis di alis. "Memang kalau aku jenguk mau dikasih?"


"Dikasih kok! Kan aku baik."


"Ah yang benar?" Senyum penuh harap mulai terbit di sudut bibir seksinya yang membuat lesung pipitnya terlihat semakin dalam.


"Dikasih lihat aja maksudnya. Hehehe!"


Kali ini tatapan Dirga sudah sangat memelas. Senyumnya pun mulai meredup. "Stop, Lula! Kamu benar-benar sengaja merayu aku, ya?"


“Aku, merayu? Kan kamu yang minta aku beli ini.” Masih tertawa dan dengan sengaja memamerkan paper bag berisi lingerie belanjaannya. 


Sementara Mama Diana yang belum mengerti pembicaraan anak dan menantunya itu hanya menjadi pendengar. Ia terlalu bahagia hari ini setelah berhasil menguras kartu kredit putranya. Padahal dirinya memiliki jumlah kekayaan yang terbilang lebih dari Dirga. Entahlah, mungkin benar kata orang, bahwa terkadang yang gratis lebih menyenangkan.


Sambil menunggu Mama Diana, Lula berjongkok di depan kereta bayi dan memeriksa Baby Zav yang tampak masih terlelap dengan sebuah pacifier yang menempel di mulutnya. Kemudian memastikan diapers putranya tidak basah.


“Kita makan dulu yuk. Dari tadi temani kalian belanja bikin perut shock! Di sana aja makannya.” Dirga menunjuk sebuah restoran jepang yang cukup terkenal tak jauh dari tempat mereka berada sekarang. 


“Baru belanja sudah bikin perut kamu shock.” Lula tersenyum jahil, lalu berdiri dari posisi berjongkoknya dan mendekati sang suami. “Nanti giliran jantung kamu yang shock, setelah aku pakai lingerie zebra ini,” bisiknya dengan sengaja mendesahkan napas ke telinga Dirga. 


Hingga pria itu mendengus kasar seraya menatap dengan mata elang yang seolah siap menerkam mangsanya.


“Stop, Lula!” 


Tetapi dasar Lula, bukannya berhenti menggoda, ia malah sengaja mendekap lengan suaminya hingga Dirga dapat merasakan dengan jelas dua bongkahan kenyal milik istrinya menempel ketat. Padahal hanya sebuah sentuhan, tetapi sudah mampu membuatnya blingsatan. 


“Kamu masih ingat yang pernah diajarkan Dokter Allan ke kita?"


"Memangnya si Allan pernah mengajarkan kita apa, selain ajaran sesat?"


"Spoon position, ada juga yang namanya women on top!” Lula kembali berbisik.


Mendengar kalimat itu, Dirga pun mengusap wajahnya yang kembali memerah. Tanpa dapat dikendalikan, otaknya langsung menerawang membayangkan posisi yang baru saja disebutkan istrinya yang jahil itu. 


“Lula, jangan sampai aku jadi primitif dan makan kamu di sini, ya,” ancam Dirga membuat Lula melepas lengan suaminya.


"Sini kamu!"


“Aaa kabur ada duda bernafsu!” Lula cekikikan mempercepat langkahnya menuju toilet untuk menyusul Mama Diana. 


...........