
Saat ini Jeff dan Mentari sedang duduk di tepi sebuah danau. Setelah menghadiri pernikahan Dirga dan Lula, Mentari menjadi banyak diam dan tampak sedih, meskipun telah berusaha ditutupinya dengan senyum.
Gadis itu memang tak mengucapkan apapun, namun Jeff sudah mampu menebak, bahwa foto-foto mendiang Azka yang terpajang di dinding rumah Mama Diana, membuat Mentari teringat dengan kepergian Azka yang menyakitkan.
"Mentari!" panggil Jeff.
"Iya, Kak."
"Boleh saya tanya sesuatu?"
Mentari mengangguk pelan. "Boleh."
Jeff melirik gadis yang duduk di sisinya sekilas, kemudian kembali menatap indahnya danau malam itu dengan kunang-kunang yang beterbangan.
"Apa kamu masih memikirkan Pak Azka?"
Mendapat pertanyaan itu, Mentari terdiam. Tatapannya lurus ke depan dan dalam hitungan detik sudah terlihat genangan air mata. Melupakan seseorang yang sangat dicintai memang sulit. Azka pergi dengan membawa cinta Mentari yang terkubur bersamanya.
Dan, mungkin Jeff akan butuh perjuangan untuk membangkitkan hati yang pernah mati. Meskipun tahu akan sulit, namun cintanya kepada gadis itu menguatkannya.
Jeff mengusap air mata yang sudah jatuh membasahi pipi gadis itu. Ia genggam tangannya.
"Tuhan menempatkan seseorang dalam hidupmu karena sebuah alasan. Saat kamu kehilangan, mungkin karena ada alasan yang lebih baik."
"Tapi kenapa Kak Jeff? Dia pergi di saat aku belum ada kesiapan untuk merelakan."
Jeff mengeratkan genggaman tangannya. "Tidak ada kata siap untuk merelakan seseorang yang kamu cintai. Merelakan memang menyakitkan, tapi akan membuat kamu merasa damai."
Dengan berlinang air mata, Mentari menatap pria itu. "Bagaimana caranya?"
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Yang pergi biarlah pergi. Hidupmu tidak akan berakhir hanya karena perpisahan. Sedih dan bahagia itu sifatnya sementara. Semua tetap akan berlalu, jadi biarkan waktu yang menjawabnya."
Mentari kembali diam. Merenungi setiap kata yang diucapkan calon suaminya itu.
Bagai sebuah kejutan, Jeff dengan mudahnya datang ke dalam hidupnya dan menawarkan kebahagiaan.
Jeff merangkul dan menyandarkan Mentari di bahunya. Sehingga gadis itu dapat menangis sepuasnya dan melepaskan semua beban kesedihannya di dada kokoh itu.
Butuh beberapa saat bagi Mentari untuk dapat meredam tangisnya hingga menjadi lebih tenang.
"Kamu merasa lebih baik?" Jeff membuka suara, memecah keheningan.
Mentari menjawab dengan anggukan kepala.
"Kalau begitu sekarang kita pulang ya. Saya bisa dijadikan dendeng sama Dokter Allan kalau bawa keluar anak gadis yang tinggal di rumahnya sampai tengah malam."
Mentari tertawa kecil. Rupanya gunung es yang biasanya dingin itu bisa bercanda juga.
.
.
.
Jeff membantu Mentari melepas sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Posisi yang begitu dekat membuat gadis pemalu itu menundukkan kepala.
"Makasih, Kak Jeff. Maaf merepotkan."
Apanya yang merepotkan? Kamu kan calon istriku. Ungkapan itu hanya berani ia teriakkan dalam hati.
"Sama-sama. Cepat masuk, itu Pak Amir sudah menunggu di depan gerbang."
.
.
.
.
Sementara itu, hawa panas masih menyelimuti sebuah kamar.
Lula tak terima dengan ucapan Dirga yang menyebut dirinya mirip dengan zebra cross.
Bibir Dirga mengatup demi menahan tawa, melihat Lula yang mulai merajuk. Apa lagi saat wanita itu mengerucutkan bibir merahnya. Memang inilah yang sejak tadi ditunggu oleh Dirga, dari dulu bibir mungil merah itu terasa sangat menggemaskan jika berkerucut. Tak tahan, ia pun melahapnya dengan gerakan yang tak terduga.
Waktu seakan terhenti bagi Lula ketika merasakan lembutnya benda kenyal yang sedang menyapu bibirnya. Matanya terpejam menikmati sensasi panas dari sentuhan itu. Ini adalah ciuman kedua dengan Dirga yang diambil secara tiba-tiba yang kemudian diakhiri laki-laki itu dengan gigitan lembut.
Dirga menyatukan kening, hingga tatapan mereka saling bertemu.
Lula pun mendorong dada suaminya itu dengan kesal hingga mundur satu langkah. “Sana pulang ke apartemen tidur sama Mbak Shanty!” Bibirnya masih mengerucut dengan bola mata yang berkaca-kaca.
Membuat Dirga semakin tak tahan dibuatnya. "Kamu yang rugi loh kalau aku sampai tidur sama dia." Dirga pun meraih tubuh wanitanya itu dan membenamkan dalam pelukannya.
"Kamu bikin aku kesal!"
“Aku cuma bercanda, Sayang. Kamu terlalu cantik sampai rasanya aku tidak tahan.”
“Terus kenapa bilang aku mirip zebra cross?”
“Cuma mau lihat bibir kamu monyong-monyong kalau kesal, soalnya lucu.” Ia mengecup bibir itu lagi dan lagi. “Aku baru tahu kalau koala imut ini bisa ngambek juga.”
“Kamu bikin orang kesal. Sudah pakai baju zebra juga.”
“Kalau gitu sini aku zebrangin,” bisik Dirga dengan menggoda. “Tapi Zav pindah ke box nya dulu. Takut bangun kalau ngerasain gempa.”
***