
"Perempuan itu kalau ke toilet lama ya, Nak! Mereka ngapain coba. Masa dandan sama ke toilet itu sama lamanya," gerutu Dirga seraya memegangi botol susu putranya. "Kamu mending sama ayah, kalau sama bunda dan Oma ribet."
Ia melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Hampir dua puluh menit menunggu, namun baik Lula maupun Mama Diana belum juga kembali.
"Kamu sudah kenyang ya, Nak?" Ia meletakkan botol susu yang hampir kosong setelah meyakini Baby Zav sudah kenyang. Kemudian meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya.
"Anak ayah sekarang sudah berat ya." Sambil menghujani pipi gempil itu dengan ciuman.
“Dirga!” Suara yang terdengar tak asing menyapa, membuat Dirga seketika menoleh. Tampak seorang pria yang hampir seusianya berdiri dalam jarak kurang dari dua meter dengan ekspresi wajah seperti menahan sakit.
“Simon? Hei, apa kabar?” Keduanya saling menyapa dengan berjabat tangan. Dirga tersenyum ramah menyambut teman sekaligus rekan bisnisnya itu.
"Kurang baik!" ujarnya. "Ngomong-ngomong aku tidak menyangka akan bertemu dengan kamu di sini."
"Sama. Kamu kurang baik kenapa memangnya? Dan muka kamu kenapa kusut begitu?"
"Apes! Tadi habis ketemu mantan di sana." Ia menunjuk ke arah toilet. "Biasalah. Kamu tahu kan?"
Dirga terkekeh setelah menyadari kebiasaan temannya itu. "Jangan-jangan kamu masih brengsek seperti dulu."
"Kamu kan tahu bagaimana aku." Pria bernama Simon itu menatap bayi kecil yang digendong Dirga. “Eh, bayi ini anak siapa? Anak kamu ya?”
“Iya. Ini anakku,” jawab Dirga membuat pria itu cukup terkejut.
“Oh ya? Aku baru tahu loh kalau kamu sudah punya anak.” Ia menatap wajah Baby Zav dan Dirga bergantian. Setelah melihat kemiripan wajah keduanya, barulah ia meyakini ucapan Dirga benar adanya.
“Kita kan belum pernah ketemu lagi sejak proyek terakhir,” jawab Dirga santai.
“Iya juga sih.” Kerutan tipis terlihat di kening pria itu seperti banyak pertanyaan di benaknya. “Eh, tapi beberapa bulan yang lalu aku sempat bertemu Alika di sebuah kafe dan seingatku dia tidak sedang hamil. Makanya aku tidak menyangka kalau kamu sudah punya anak.”
Mendadak senyum yang sejak tadi menghiasi bibir Dirga meredup mendengar ucapan temannya itu, memikirkan sebuah jawaban yang tepat untuk diberikan kepada Simon.
“Emm ... soal itu sebenarnya—”
“Terus Alika mana? Aku harus mengucapkan selamat atas kelahiran anak kalian.”
Lagi, ucapan pria itu membuat Dirga tak tahu harus berkata apa. Sebab Dirga adalah seseorang yang cukup tertutup dan tidak suka urusan pribadinya diketahui banyak orang. Hanya orang-orang terdekat yang mengetahui masalah yang membelit rumah tangganya akhir-akhir ini.
“Simon, sebenarnya aku dan Alika sudah resmi bercerai dan ini adalah anakku dengan istriku yang lain.”
Semakin terkejut saja Simon mendengar ucapan Dirga. Karena tak pernah mendengar kabar tentang Dirga yang bercerai dengan Alika atau pun pernikahannya dengan wanita lain. Lalu kapan dan bagaimana? Pertanyaan itu memenuhi benak Simon.
“Maaf, kalau soal itu aku tidak bisa bahas terlalu dalam. Ini kan masalah pribadi,” ucap Dirga berusaha membatasi keingintahuan temannya itu.
Simon mengangguk tanda mengerti. Sebab dirinya pun tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan pribadi orang lain, meskipun sebenarnya penasaran.
“Oh, baiklah, aku mengerti. Aku ikut sedih mendengar perceraianmu dengan Alika.”
“Terima kasih.”
Kebekuan sejenak mewarnai obrolan mereka. Simon yang menyadari ekspresi Dirga berusaha untuk mengurai kecanggungan yang tercipta.
“Oh ya ... Bagaimana dengan kerja sama pembangunan taman hiburan yang kamu kerjakan dengan Anva Group? Aku dengar sudah berlanjut ya?”
“Sudah. Sekarang sedang dalam tahap pembangunan.”
"Wah, proyek besar seperti itu pasti memberi keuntungan yang sangat besar."
"Lumayan."
"Maaf, Mas. Aku lama di toilet. Tadi ada insiden kecil," ucap Lula yang baru tiba bersama Mama Diana. Ia menatap punggung seseorang yang tengah mengobrol dengan suaminya.
Spontan kelopak matanya melebar ketika pria itu menoleh. Keduanya pun sama-sama menunjukkan reaksi terkejut.
"Simon?" panggil Mama Diana.
Meskipun tampak sangat terkejut, namun Simon berusaha tersenyum sebisa mungkin. "Apa kabar, Tante?"
"Baik. Lama kita tidak bertemu ya? Bagaimana, kamu sudah menikah belum?"
Simon menatap Lula sekilas, kemudian menggeleng pelan. "Belum ketemu jodohnya, Tante."
Pria itu lalu menunjuk Lula dengan matanya. "Kalau yang itu siapa?"
Dirga pun menarik Lula ke sisinya dan melingkarkan tangan di pinggang.
"Kenalkan, ini istriku. Namanya Lula," ucap Dirga membuat mata pria itu membeliak.
****