
Mendadak aroma horor merambat, hawa dingin yang terasa mencekam membuat Dirga merasa merinding. Apa lagi ketika menyadari tatapan Lula yang begitu mengintimidasi.
“Claudia, Cecilia, Audy, Vienna, Dewi, Cinthya, Mariska, Amora, Marcella—” Seraya menunjukkan sebuah buku kecil yang kemudian ia mainkan di tangannya. "Kamu masih ingat dengan nama-nama itu?"
Dirga menelan saliva. Nama-nama yang baru saja disebut Lula bagai gerbong kereta yang membawanya ke masa lalu. Ribuan umpatan dan makian telah Dirga teriakkan dalam hati kepada dirinya sendiri. Betapa bodohnya ia yang lupa untuk membuang semua benda bersejarah dari masa remajanya itu.
“Maaf, Sayang. Itu cuma catatan kecil semasa kuliah dulu. Aku kan lama tidak tinggal di rumah ini. Jadi lupa membuangnya.” Dengan sedikit tawa kecil yang dipaksakan, mengingat wajah ibu negara sudah menunjukkan status awas.
“Bagus kalau kamu lupa buang. Jadi akhirnya aku tahu seperti apa kelakuan suamiku di masa lalu.” Masih berbicara dengan nada lembut tetapi sangat menusuk.
Tamat riwayatmu, Dirga! batin Dirga.
Lula pun membuka lembar demi lembar buku itu dengan santai tanpa membaca isinya. Tentu saja, karena dirinya telah membaca semuanya di kamar atas tadi, ketika baru menemukannya.
“Di sini ada catatan jadwal kencan yang bergiliran. Selain itu, aku juga menemukan album berisi foto kamu dengan gadis-gadis cantik!”
Jantung Dirga sudah berdetak dengan begitu kencang, hingga rasanya akan keluar dari tempatnya. Otaknya berusaha memikirkan bagaimana cara terbebas dari pertanyaan, yang mungkin akan terasa seperti seorang tersangka yang diinterogasi oleh jaksa penuntut umum dalam sebuah persidangan.
“Nangis dong Zav, tolong ayah. Sebentar lagi bunda kamu akan jadi tukang eksekusi terpidana mati ini. Cubit aja kali ya, biar Zav nangis,” ucap Dirga dalam batin.
“Dalam satu minggu ada tiga kali jadwal kencan. Yang pertama dengan Claudia nonton bareng di bioskop, Mariska di kafe Olive, dan Marcella di kantin belakang kampus.”
Dirga menarik napas dalam-dalam. “Kan cuma kencan doang.” Masih tetap berusaha santai seperti biasanya.
“Lalu bagaimana kencan dengan Dewi? Kamu ngapain sama si Dewi itu di hotel?” Pertanyaan menuntut jawaban itu membuat Dirga gelagapan. "Rupanya dulu kamu seorang casanova ya?"
Sudah pasti Lula akan berpikir yang aneh-aneh mengingat kencan dengan salah satu kekasih suaminya adalah di sebuah hotel mewah.
“Jangan salah paham dulu. Aku bisa jelaskan soal itu.” Ia mendekap Baby Zav di dadanya. “Itu cuma kencan biasa, beneran!” Sambil menaikkan dua jari sejajar dengan dada.
“Kencan biasa bagaimana sampai harus ke hotel segala?”
“Cuma makan malam biasa. Itu juga tidak berdua, kalau tidak percaya tanya saja si Allan. Aku sama dia waktu itu.”
“Dulu, Si Allan selalu ajak taruhan sama teman-teman lain. Aku pernah taruhan dalam satu tahun siapa yang punya pacar paling banyak. Terus gebetan mana yang paling cantik. Namanya juga anak muda, jadi aku terima saja.”
Lula menarik napas dalam demi memenuhi kebutuhan oksigen di paru-parunya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya jika suaminya itu lumayan nakal di masa lalu. Melihat itu, Dirga harus bersiap karena Lula seperti sedang menyiapkan pertanyaan lain.
“Jadi hasil taruhannya bagaimana?”
“Pacarnya si Allan selalu lebih cantik dan lebih banyak, jadi makan selalu aku yang bayar sampai disatroni mama karena tagihan kartu kreditnya bengkak. Gitu doang, sumpah.”
"Dirga!! Jadi kartu kreditnya kamu pakai buat taruhan tidak jelas dan bukan karena kebutuhan penelitian?" Suara Mama Diana yang tiba-tiba muncul dari arah belakang membuat Dirga terlonjak.
"Gawat!"
Dengan penuh keraguan, Dirga menoleh pada sosok yang tengah berdiri di belakang punggungnya dengan mata melotot.
"Eh, Mama ..."
"Jadi waktu itu kamu bohongin mama! Kamu bilang untuk penelitian, beli ini dan itu. Ternyata buat bayar kalah taruhan ya."
Merasa terpojok. Dirga tak tahu harus bagaimana menghadapi dua wanita yang tiba-tiba berubah galak itu.
"Mama, Lula ... kalian lagi mau belanja, tidak! Kita ke mall yuk! Kalian boleh beli apa saja." Satu-satunya hal yang dapat terpikir olehnya adalah membungkam sang mama dan istrinya dengan sesuatu yang menurutnya paling disukai wanita.
"Kamu pikir kita kayak Alika yang bisa disogok dengan belanja?" sambar Mama Diana kesal.
Salah lagi kan?
.
.
.