HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Saya Curiga ....



Dirga belum sanggup menghentikan tawanya sejak beberapa menit lalu. Pembicaraan dengan Jeff di kafe tadi menciptakan sensasi geli yang berpusat di perutnya. Tingkah Jeff yang sangat posesif terhadap Mentari dan juga drama salah paham berkepanjangan membuat Dirga begitu senang menjahili asistennya itu.


"Kalau cinta ngomong makanya, Jeff! Jangan sembunyi-sembunyi terus."


Puas tertawa, pria itu lantas mengeluarkan ponsel dan mengetikkan sebuah pesan.


"Malam ini siap-siap, ya. Kita akan makan malam berdua. Ada sesuatu yang penting mau aku bicarakan." ~ Dirga.


Pesan terkirim. Sambil menunggu balasan, ia menyetel lagu favoritnya dan ikut bernyanyi dengan riang. Hingga beberapa saat terdengar bunyi pesan masuk.


"Tumben mau ajak makan malam. Biasanya kamu lebih suka makan masakan aku." ~Istriku.


"Ada sesuatu yang penting mau aku bicarakan. Dandan yang cantik, ya!" ~Dirga.


Ia meletakkan ponsel di dashboard. Bibirnya melengkung membentuk senyuman, sehingga lesung pipitnya tampak semakin dalam yang membuat wajah pria itu terlihat lebih manis.


"Memangnya apa yang penting, Mas? Tidak bisa di rumah saja?" Sebuah balasan yang membuat Dirga menghela napas panjang.


"Kalau di rumah tidak ada kesan romantisnya." Kemudian mengetikkan pesan balasan berikutnya.


"Tidak bisa kalau di rumah, soalnya ini rahasia negara. Nanti akan ada orang yang menjemput kamu sebelum jam tujuh!"


"Ok!"


Setelah saling berkirim pesan, Dirga pun melajukan mobil meninggalkan parkiran kafe. Dirga harus bersiap-siap untuk makan malam istimewanya.


.


.


.


.


Seperti biasa, di hari libur Mama Diana akan menghabiskan waktunya untuk menjaga cucu kesayangannya. Wanita paruh baya itu sedang menikmati acara televisi kesukaannya dengan Baby Zav yang terbaring di sampingnya.


Sekilas ia melirik ke arah pintu sebuah kamar. Lula tak kunjung menampakkan diri sejak dua jam lalu. Entah apa yang ia lakukan setelah menerima sebuah pesan di ponselnya.


"Kita lihat bunda dulu yuk. Dia ngapain di kamar, jangan-jangan pingsan lagi bunda kamu itu," gumam Mama Diana seraya menggendong cucunya.


Baru memasuki kamar, sudah terlihat kerutan di kening wanita itu. "Kamu sedang apa?" tanyanya heran ketika melihat banyak pakaian tergeletak di atas tempat tidur.


Lula menoleh sekilas, kemudian kembali memilih pakaian di dalam lemari. "Ini mah, Mas Dirga mengajak makan malam berdua. Katanya harus dandan yang cantik. Tapi aku nggak punya baju yang bagus."


"Tumben suami kamu itu romantis. Biasanya kelakuannya seperti suami dzalim." Mama Diana memilih duduk di sofa. Masih dengan memangku sang cucu.


"Katanya ada sesuatu yang penting mau dibicarakan." Lula menatap beberapa dress cantik yang sudah dikeluarkan. Terlihat bingung memilih. "Pakai baju apa ya, Mah?"


"Kalau bingung, kamu ke butik langganan mama saja. Terus nanti dandannya di salon supaya cantiknya maksimal. Biar suami kamu itu makin menyesal pernah jadi suami dzalim."


Tawa kecil terdengar dari bibir Lula. Mama Diana tak henti-hentinya menyerang putranya sendiri dengan sebutan suami dzalim. Ya, kelakuan Dirga yang menyembunyikan status Lula sebagai istri membuatnya cukup geram.


"Kok suami dzalim, Mah?"


Mama Diana pun melirik arah jarum jam di dinding, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Yang artinya, Lula harus segera berangkat. Memilih gaun di butik dan berdandan di salon membutuhkan waktu yang cukup lama.


"Kamu berangkat sekarang saja. Nanti mama suruh sopir antar kamu."


.


.


.


Lula menatap pantulan dirinya di balik sebuah cermin dengan tatapan takjub. Sempat tak percaya bahwa bayangan cantik yang tampak pada cermin adalah dirinya.


"Terima kasih, Mbak!" ucapnya ramah kepada seorang wanita yang telah membuat penampilannya sangat sempurna.


"Sama-sama, Bu." Semuanya selesai. Lula segera keluar dari salon ternama itu.


Sementara di depan sudah ada Jeff yang menunggu. Tadi ia harus terlibat keributan kecil dengan seorang sopir yang ditugaskan Dirga untuk menjemput istrinya. Karena Jeff tiba-tiba datang dan merebut kunci mobil.


Begitu melihat istri dari sang bos keluar dari pintu kaca, pria itu pun segera membuka pintu bagian belakang mobil.


"Silahkan, Bu."


Melihat bahwa ternyata Jeff yang menjemputnya membuat Lula sedikit heran. Sebab tadi Dirga memberi informasi bahwa akan ada seorang sopir yang menjemputnya, tetapi yang muncul di sana malah Jeff.


"Saya pikir bukan kamu yang jemput."


"Tadinya memang bukan, Bu. Kebetulan sopirnya berhalangan, jadi saya yang jemput," jawabnya santai.


Mobil melaju meninggalkan salon. Jeff berkendara dengan kecepatan sedang, sambil sesekali melirik kaca spion.


Sialan juga itu bos satu. Istri bening begini masih kurang puas.


"Bu ..." panggil Jeff terdengar agak ragu.


"Iya, Jeff," balas Lula menatap punggung pria itu.


"Nanti kalau bapak minta macam-macam, jangan dikasih, ya!" Ucapan Jeff yang mengandung keambiguan itu melukis kerutan di alis Lula.


"Memangnya kenapa?"


"Biasanya kan laki-laki itu manis kalau ada maunya. Saya curiga bapak mau minta izin menikah lagi!"


.


.


.


😤😤😤