HIDDEN WIFE

HIDDEN WIFE
Semburan Kopi!



Selepas makan malam yang nikmat, Dirga memilih duduk di ruang televisi dengan sebuah laptop di pangkuannya. Akhir-akhir ini ada banyak pekerjaan yang tertunda sehingga ia harus melanjutkan pekerjaan di rumah. Kini, ia sedang membalas beberapa email yang dikirim Jeff dan sekretarisnya.


Sementara Alika duduk di sisinya sambil memainkan ponsel. Ia harus lebih mengawasi Dirga saat sedang di rumah dan tak memberi celah sedikitpun bagi Lula untuk bisa mendekati suaminya.


Kening Dirga tampak berkerut saat mendapati Lula melintas di depannya dengan menyeret sebuah koper.


“Lula ... Kamu mau bawa kopernya ke mana?”


Lula membalikkan tubuhnya seketika. Menatap Dirga, lalu kemudian Alika yang menghadiahinya tatapan mengintimidasi. 


“Aku mau ke kamar belakang, Mas,” jawab Lula santai.


“Loh ... untuk apa kamu bawa koper ke kamar belakang? Bukannya kamu akan tidur di kamar Zav?” 


Mendengar ucapan suaminya, Alika pun menyela dengan cepat.


"Aku tidak setuju dia tidur di kamar Zav, karena itu aku suruh dia pindah ke kamar belakang. Kamar Zav tepat di samping kamar kita dan aku tidak mau berdekatan dengan dia.” 


“Tapi Al—” Dirga baru membuka mulut, tetapi Alika sudah memotong lebih dulu.


“Lagi pula apa statusnya dia di rumah ini? Dia hanya ibu susu sekaligus pengasuh bagi Zav.” 


Dirga hanya dapat menggelengkan kepala mendengar ucapan sinis istrinya itu. Ia mulai merasa pikiran Alika hanya diisi oleh prasangka buruk. 


“Al, aku tidak suka memperdebatkan hal-hal sepele seperti ini. Kalau kamu tidak mau berdekatan dengan Lula, kamu saja yang pindah. Di atas masih banyak kamar kosong!” 


Mata Alika melotot mendengar ucapan suaminya. Belakangan ini, Dirga tak lagi tunduk sepenuhnya seperti dulu. Sehingga membuat Alika kadang merasa khawatir.


Tanpa memerdulikan pendapat Alika, Dirga berdiri dari duduknya dan mendekati Lula. Meraih koper dan membawa masuk ke kamar Zav. Sementara Alika diam mematung dan tak dapat berbuat apa-apa. Hanya bola matanya yang mengikuti ke mana langkah suami dan madunya.


“Kamu akan tidur di kamar ini bersama Zav. Jangan pedulikan apapun kata Alika.” 


“Terima kasih, Mas.” 


Dirga mengangguk pelan seraya mengusap puncak kepala sang istri. Ia juga merasa bersalah dengan perlakuan buruk Alika.


"Kamu yang kuat ya?" ucap Dirga. Namun berhasil membuat Lula tertawa kecil, sehingga Dirga terheran dibuatnya. "Kamu kenapa ketawa?"


"Seharusnya itu dialog aku, Mas ... Kamu sanggup ya, bertahan dengan istri seperti itu selama hampir dua tahun?"


Dirga terdiam, lalu kemudian mereka tertawa bersama. "Anggap saja aku ketiban durian runtuh."


"Loh, durian runtuh kan artinya keberuntungan, Mas."


"Keberuntungan? Memang kamu mau kejatuhan durian runtuh beneran?" ucap Dirga tertawa lepas. Ini adalah pertama kalinya ia tertawa tanpa beban dan tekanan sejak menikahi Alika.


Perhatian Dirga pun teralihkan kepada box bayi ketika melihat gerakan-gerakan kecil di sana. Sambil tersenyum ia mendekat. Zav terlihat cukup gelisah.


Dengan wajah penuh bahagia, Dirga meraih tubuh mungil itu dan memeluknya. Ia duduk di tepi tempat tidur dan menghujani wajahnya dengan kecupan-kecupan lembut. Menepuk tubuh bayinya dengan lembut hingga kembali terlelap, kemudian menatap wajah Zav dengan penuh cinta.



Setidaknya kini ada Zav yang seolah memberinya kekuatan.


“Uhh ... Lucunya anak ayah.” Ia membelai wajah bayinya dengan lembut.


“Mas, kamu keluar dulu? Aku mau ganti baju.” 


“Oh ... ya sudah. Aku bawa Zav keluar dulu, ya.” 


Lula mengangguk.


Dirga pun menggendong Zav keluar dan kembali duduk di kursi. Sementara Alika yang duduk di sisi sofa lain bertopang dagu menatap Dirga yang tampak begitu bahagia menggendong putranya.


Wanita itu memutar bola matanya dengan malas. 


 "Pak, ini kopinya." Mbok Darmi datang dengan membawa secangkir kopi yang tadi dipesan majikannya itu.


"Simpan di meja dulu, Mbok."


Mbok Darmi meletakkan secangkir kopi ke atas meja, lalu kemudian kembali ke dapur.


Tak lama berselang, tubuh kecil Zav pun menggeliat dalam pangkuan sang ayah. Ia tampak gelisah. Terdengar lenguhan-lenguhan kecil dari bibirnya.


"Kamu kenapa, Nak? Lapar ya? Mau sama bunda?" Dirga lagi-lagi menciumi pipi putranya. "Sebentar ya, bundanya lagi ganti baju."


Sesekali Dirga menatap pintu kamar yang masih tertutup. Sudah beberapa menit Lula berganti pakaian.


"Lula ... Zav nya nangis," ucap Dirga.


"Iya, Mas. Sebentar!" Terdengar sahutan dari dalam kamar.


Sambil memangku Zav, Dirga meraih cangkir kopi. Menyeruput pelan, bersamaan dengan bola matanya yang tertuju pada pintu kamar yang baru terbuka.


Lula keluar dari sana dengan pakaian yang sangat minim yang memamerkan belahan dada dan juga paha mulusnya.


Mata Dirga melotot, ia seketika tersedak kopi hitam yang baru akan melewati kerongkongannya, sehingga menyembur keluar dan memenuhi wajah Alika.


"DIRGAAAA!!!"


****