
Aku harus bagaimana sekarang? Kalau aku kembalikan Zav kepada Lula, sama saja aku memberikan Dirga.
Tangan Alika terkepal. Napasnya terlihat memburu. Ia berada dalam sebuah pilihan yang sulit dan keduanya tidak ada yang menguntungkan baginya.
“Baiklah, aku setuju Lula tinggal di sini. Tapi aku ada satu syarat. Lula hanya akan tinggal bersama kita sampai Zav bisa lepas dari asi. Tapi setelah itu, perempuan itu harus angkat kaki dari rumah ini.”
Dirga menghembuskan napas kasar. Ia hanya dapat menggelengkan kepalanya. Memilih untuk diam dan tidak begitu menanggapi ucapan Alika. Sebab berdebat dengannya tidak akan ada habisnya.
“Kamu tahu satu hal, aku mulai merasa mama memang benar.”
Alika menatap tajam suaminya.
“Apa maksud kamu?” tanya Alika yang tak mengerti arah pembicaraan suaminya.
“Kamu memang seorang wanita gila dan penuh ambisi." Ucapan frontal Dirga sontak membuat rahang Alika terbuka lebar.
Ia ingin marah dan melayangkan keberatan, tetapi Dirga malah berlalu meninggalkannya begitu saja. Membuat Alika menahan rasa kesal.
*
*
*
Setelah melewati perdebatan yang menguras emosi, Dirga memutuskan untuk menemui Lula untuk menceritakan kondisi putra mereka. Meskipun Alika tak begitu setuju dengan pilihan yang diberikan Dirga, namun nyatanya laki-laki itu tak begitu peduli. Baginya Zav adalah hal terpenting untuk saat ini.
Mobil memasuki halaman rumah. Dirga turun dengan tergesa dan segera mengetuk pintu. Ia menunggu beberapa saat sambil melirik arah jarum jam di pergelangan tangannya. Dua hari tak bertemu Lula cukup baginya untuk memendam kerinduan.
Ceklek! Pintu pun terbuka. Tampak seorang wanita muncul dari balik pintu.
Seketika Dirga membeku. Jantungnya berdebar lebih kencang. Ia terpaku hingga rasanya enggan mengerjapkan kelopak matanya. Betapa tidak, sosok wanita yang membuka pintu membuatnya terpana.
Lula tampak sangat berbeda. Rambut panjangnya tergerai dengan indah, wajahnya yang selama ini terlihat polos dan sederhana, hari ini tampak sangat cantik dengan balutan make up yang natural. Jangan lupakan aroma tubuhnya yang berhembus terbawa angin dan menyapu penciuman Dirga.
“Lu-Lula? Kamu?” Antara percaya dan tidak bahwa wanita di hadapannya benar-benar istrinya.
“Mas ... Ada apa kamu kemari?” tanya Lula menatap Dirga yang masih mematung di ambang pintu.
Dirga menggelengkan kepala demi menyadarkan dirinya dari lamunan. Ia menarik napas panjang.
“Emh ... maaf, kalau aku mengganggu waktu kamu. Ada hal penting yang harus kita bicarakan.”
Lula mengangguk pelan. Sementara Dirga masih menatapnya dengan kekaguman.
“Ya sudah, silahkan masuk dulu.” Lula membuka pintu lebar, sehingga Dirga segera masuk ke rumah. Mengikuti langkah Lula yang sudah masuk lebih dulu.
Menjatuhkan tubuhnya di kursi, pandangan Dirga tak lepas dari Lula yang kini berada di dapur, yang dapat terlihat dari ruang tamu.
Beberapa saat kemudian, Lula pun kembali dengan secangkir teh yang ia buatkan untuk suaminya.
"Kamu terlihat sangat lelah. Minum dulu tehnya."
Dirga menatap Lula dengan sedih. Meskipun sadar selama ini terus menyakiti Lula, namun wanita itu selalu memperlakukannya dengan lembut. Hanya secangkir teh, namun hal sekecil itu mampu membuat perasaannya menghangat.
Lula pun duduk di sisi kursi yang lain. Menatap Dirga yang sedang menyeruput teh manis buatannya.
"Ada apa, Mas?"
"Maafkan aku," ucap Dirga membuat Lula menatapnya lekat seraya menghela napas panjang.
"Kesalahan apa lagi yang dilakukan istrimu sampai kamu harus meminta maaf?"
"Ini bukan tentang Alika. Ini tentang Zav."
"Kenapa dengannya?"
“Lula ... Dokter bilang Zav memiliki alergi dengan susu formula. Sudah dua hari ini dia rewel.”
"Alergi?"
Cairan bening pun menggenang di bola mata Lula. Namun sebisa mungkin ia menahannya agar tak mengalir. Membuat Dirga memilih berjongkok di hadapannya dan menggenggam tangan istrinya.
"Lula ... Maukah kamu tinggal bersama aku dan Alika untuk merawat Zav bersama?"
*
*
*
Lula mengedarkan pandangannya saat pertama kali memasuki rumah itu. Tempat tinggal Dirga dan Alika tergolong rumah yang cukup mewah. Sebuah foto pernikahan berukuran besar yang menggantung di dinding seolah menyambutnya.
Memasuki sebuah kamar, Lula memeluk putranya dengan berlinang air mata. Bukan hal mudah baginya terpisah dari buah hatinya selama dua hari ini. Beruntung ada Suster Vira, seseorang yang dapat dipercaya untuk menjaga Zav selama Lula tak berada di sisi putranya.
Lula duduk di sofa dan memeluk Zav dalam pangkuannya. Sementara suster Vira segera mengunci pintu. Kemudian duduk di sisi Lula yang kini mulai menyusui bayinya.
"Makasih, Suster. Sudah menjaga Zav dengan baik," ucap Lula.
"Sama-sama, Bu," balas Suster Vira.
Lula menatap putranya dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap kepalanya.
"Zav tidak rewel, kan?"
Suster Vira tersenyum seraya menggelengkan kepala. "Tidak, Bu. Zav sangat tenang selama dua hari ini. Dia cuma menangis kalau mau susu."
"Tapi Bu Alika tidak curiga, kan?"
"Sepertinya tidak. Bu Alika bahkan tidak menyadari kalau suara tangis bayi yang sering terdengar itu dari rekaman dari ponsel. Selama dua hari ini Bu Alika juga belum pernah menggendong Zav karena takut kena pup. Padahal itu semua cuma tipuan," jawab Suster Vira membuat Lula terkekeh.
"Terima kasih, Suster. Maaf saya harus melibatkan Suster dalam masalah ini."
"Tidak apa-apa, Bu. Saya senang bisa membantu keluarga Dokter Allan. Dokter Allan sudah sangat banyak membantu keluarga saya."
"Oh, ya ... Kemana Bu Alika? Saya belum lihat dia."
"Biasalah, Bu. Bu Alika itu jarang di rumah. Dia pagi keluar dan kadang baru pulang di malam hari."
Mendengar itu, Lula hanya dapat menggelengkan kepalanya.
*
*
*
Malam harinya ...
Alika baru saja pulang ke rumah setelah seharian berada di luar. Dirga juga belum pulang, karena setelah mengantar Lula, ia kembali ke kantor.
"Ini koper siapa, Mbok?" tanya Alika melihat sebuah koper yang belum sempat dimasukkan ke dalam kamar. Alisnya saling bertaut menatap seorang wanita berambut panjang yang berdiri membelakang. Sedang memasak di dapur.
Lula pun membalikkan tubuhnya, membuat kelopak mata Alika terbuka lebar-lebar. Bukan keberadaan Lula yang membuatnya begitu terkejut. Tetapi penampilan Lula tampak sangat berbeda dari biasanya. Alika menatapnya dari ujung kaki ke ujung kepala.
Dalam benak membandingkan dirinya dengan Lula. Rasa iri dalam hati seolah menegaskan bahwa dirinya jelas kalah jauh dari wanita itu. Bahkan rasa tak percaya diri semakin merambat ke hatinya.
Cantik sekali. Begitu pikirnya.
****