Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 9



Perubahan sikap Kirana sangat jauh semenjak dia menjadi pacar sepihak Aditya. Bahkan dia sekarang sudah terbuka dan mau berteman dengan banyak orang. Bisa jadi predikat Miss Bengis luntur begitu cepat. Namun sebenarnya semua itu masih awal baginya, karena minggu depan akan segera magang. Banyak persiapan untuk magang nant. Kirana sudah tak sabar ingin segera merasakan betapa seru dan gilanya praktek lapangan.


®®®


Akhirnya hari yang ditunggu pun datang juga. Kirana bersiap serapi mungkin untuk hari pertamanya magang. Seluruh karyawan tidak ada yang tau bahwa Kirana adalah calon menantu pemilik Rumah Sakit. Bagaimana pun juga dia masih calon, belum resmi menjadi menantu. Dan itu pun belum tentu terjadi karena sesungguhnya Kirana sendiri tidak menginginkan pernikahan bisnis ini. Dia juga tau Hendra juga tak ingin menerima pernikahan ini, namun mereka harus bersandiwara di depan keluarga besar.


Meski kedua orang tua Kirana telah bercerai, namun mereka masih kompak dan menyarankan Kirana untuk mempertimbangkan keputusannya untuk menikah. Mereka bercerai karena memang masing-masing telah memutuskan kebahagiaan mereka. Bagaimanapun juga pernikahan orang tua Kirana terjadi juga karena bisnis. Mereka tak ingin Kirana bernasib sama dengan mereka. Namun tak ada kekuatan melawan kuasa orangtua yang masih sehat yaitu kakek nenek Kirana.


Setelah siap dengan segala keperluan nya, Kirana segera meninggalkan rumah yang ternyata sudah ada Aditya disana.Menunggu dengan sabar tanpa berisik seperti biasa.


"Kenapa lo disini?"


"Jemput kamu sayang, biar nggak telat. Kan hari pertama Magang...." ucap Aditya dengan nada lembut


"Iya justru itu, emang lo kagak takut telat nganter gue?" Masih dengan nada tinggi Kirana mencoba mengingatkan bahwa hari ini hari pertama magang.


"Telat demi pacar tercinta aku pun rela. Bahkan jika disuruh menginjak Bara lagi telentang di jalan gue rela ......" Entah semenjak kapan Aditya menjadi tukang gombal. Dia pun heran sendiri.


"Iya elunya mau nginjek, tapi Baranya yang ogah....."


"Makanya itu gue berani. Mana mau si Bara gue injek di tengah jalan. Bisa turun pamor dia hahahahaha"


"Buruan ihhhh"Sedikit senyum terlukis dibibir Kirana.


Tak bisa dipungkiri, dia pun menyayangi Aditya namun enggan menunjukkannya. Karena ia tak punya kuasa untuk menolak perjodohan yang telah diatur kakek neneknya itu.


Aditya menyadari perubahan wajah ceria gadis pujaannya itu. Selain dari warna yang terpancar dari tubuhnya juga raut muka yang terpantul di kaca spion motornya.


Aditya membiarkan Kirana diam agar ia menata hatinya terlebih dahulu, meski tak tau apa sebenarnya yang telah memberatkan hatinya kala itu


Tak lama mereka sampai di Rumah Sakit tempat mereka magang sebagai calon dokter.


"Turun sayang, kita sudah sampai." ucap Aditya secara lirih


"Eh....Udah sampe ya. Yaudah gih pergi..."


"Ngapain aku harus pergi??"


"Emang lu nggak magang?"Masih sama nada bicara Kirana.Nggak ada lembut lembutnya jadi cewek.


"Sayang......Pacarmu ini juga magang disini." Jelasnya


"Whaatttt!!!! Lo nggak halu kan?"


"Nggak lah, demi kamu.. "sambil mencubit pelan pipi Kirana langsung berlalu meninggalkan gadis itu di parkiran.


Kirana masih tak percaya, Aditya juga magang disini? Masih bingung berjalan seperti gadis konyol menuju ruangan para dokter...


Tak sadar bahwa dirinya menabrak sosok tinggi besar dan tubuhnya terjungkang ke rerumputan.


"Woyyyy jalan liat-liat napa!!!" Seru Kirana sedikit kesal karena dia jatuh meski tak terlalu sakit


"Hah???? Anda bilang saya nggak liat pas jalan? Jelas sekali Anda yang menabrak saya. " Tak kalah heboh seorang pria tak mau kalah meski masih dengan bahasa yang sopan


Berjalan sedikit tergesa-gesa menuju ruangan dokter, Kirana masih sedikit kesal dengan kejadian tadi. Disana sudah ada Aditya yang dengan santai sudah berbincang dengan dokter magang lainnya yang berasal daru universitas berbeda dengan mereka. Untung Kirana tidak telat karena insiden di parkiran tadi.


®®®


Aditya sedikit khawatir melihat raut wajah Kirana yang suram itu. Apakah ia marah karena ditinggal di parkiran tadi?


Kirana bersikap tak acuh dan itu membuat pikiran Aditya makin kacau. Tapi harus jaga diri, ini di Rumah Sakit bukan di kampus.


Saat tiba waktu perkenalan dan pembagian tugas semua mahasiswa magang berkumpul. Datang seorang dokter senior membagi tugas mereka. Aditya tak luput memperhatikan perubahan raut wajah Kirana yang berubah sedikit kesal setelah Dokter penanggung jawab mereka mulai memperkenalkan diri.


"Selamat pagi semuanya..... Perkenalkan nama saya dokter Dhani. Saya adalah dokter penanggung jawab kalian. Jika ada yang ditanyakan silahkan cari saya. Kalian berlima akan bertugas di IGD hari ini. Selanjutnya mulai besok kalian akan bertugas sesuai jadwal yang dibagian sore nanti sebelum kalian pulang. Dan saya minta kalian agar tidak ceroboh saat bertugas, perhatikan sekeliling kalian." Kata terakhir diucapkan sambil melirik ke arah Kirana.


Aditya masih bingung dengan situasi ini, ada apa Kirana dengan dokter pembimbing mereka? Belum juga masalah dengan Hendra beres, ini muncul saingan di waktu yang sungguh bikin dia hilang akal.


Saat berada di Rumah Sakit, Aditya semakin kacau karena pandangannya sangat mengganggu. Dalam sekilas ia bisa melihat juga bagian mana yang terasa amat sakit yang dirasakan oleh pasir di sini.


Matanya seperti alat Rongent, bisa tau mana yang harus ditangani. Baru hari pertama Aditya sudah mendapat banyak pujian karena semua penanganan yang dia lakukan selalu tepat. Dan dengan mudah menemukan titik sakit pasien. Entah Aditya harus bangga atau merasa terbebani dengan semua pujian itu. Bisa jadi itu menjadi beban baginya.


Selesai tugas hari ini, usai evaluasi semua dokter magang diperkenankan pulang. Saat Aditya hendak meninggalkan Ruang dokter seorang perawat cantik menghampirinya.


"Sore dokter Aditya.... pulang kemana nih?" sapa perawat itu dengan suara lembut dan dibuat agak sedikit manja


"Oh, pulang ke komplek B" jawab Aditya singkat


"Waahhh kita sejalan dong, boleh bareng nggak? Aku juga lewat sana..."Serunya kegirangan


"Maaf, tapi aku sudah ada yang nungguin. Tuuuhhh..." Tunjuk Aditya ke arah Kirana yang baru saja keluar dari toilet


Perawat itu masih sedikit kesal, baru kali ini dia ditolak. Apalagi gara-gara cewek yang tidak sebanding kecantikannya dengan dirinya.


Aditya menggandeng tangan Kirana mengajaknya segera menuju parkiran.


"Ayok Sayang, keburu lapar nih aku....."Aditya sedikit merajuk pada Kirana


"Lepas nggak!!!! Lo lupa ini dimana? Jangan sembarangan bersikap dong! Kalo Paman liat gimana? Kalo staf dan karyawan lain liat gimana??......" Kirana memberondong Aditya dengan segala kata bermaksud untuk protes


Namun tak diindahkan oleh Aditya, apalagi ada saingan baru di Rumah Sakit ini. Mungkin dia sedikit kesal. Kenapa sulit sekali mendapatkan cinta seorang Kirana. Dan mengapa dia jadi segila ini sekarang????


Pokoknya gue harus secara intens mendekati Kirana lagi, biar dia nggak lepas ke pelukan pria-pria genit itu