
"Naa..... Tunggu sayang. Jangan lari. Kamu lagi hamil!" Aditya mengejar Kirana yang tampak sangat murka.
Tidak memperdulikan teriakan suaminya, Kirana berjalan meninggalkan panti asuhan menuju sebuah taman.
Setelah jalannya mulai pelan, Aditya hanya mengikutinya dibelakang. Baru setelah Kirana berhenti, Aditya memeluk Kirana dari belakang.
Mereka terdiam sesaat, tidak ada perlawanan dari Kirana. Dia hanya diam, tanpa ada kata terucap sedikit pun.
"Kamu kenapa sayang?" Aditya berbisik lirih di telinga Kirana. Membuatnya merinding dan menggeliat karena geli. Aditya tau titik sensitif istrinya, sehingga dengan sengaja berbisik.
Masih diam seribu bahasa, tak ingin menjawab Pertanyaan Aditya yang menurutmu tidak perlu didengarnya.
Aditya paham, istrinya marah karena ada Zenith disana.
"Baiklah kalau tidak mau bicara, lebih baik aku kembali kesana dan berbincang lagi dengan Zenith." Aditya melepas pelukannya hendak pergi Meninggalkan Kirana. Namun itu hanya godaan.
Dan benar saja, belum selangkah pun Aditya pergi Kirana sudah berbalik memeluk dirinya.
Dengan senyum penuh kemenangan dia membalas pelukan istrinya dan mengusap lembut kepalanya.
"Kamu jangan khawatir, tadi Zenith hanya berpamitan. Dia minta surat pengantar untuknya pindah ke Rumah Sakit lain. Dia tak ingin ada gosip murahan itu lagi. Dia juga tak ingin membuat kamu sedih sayang." Aditya menjelaskan maksud kedatangan Zenith sampai harus menyusulnya saat acara keluarga.
Kirana menengadahkan kepalanya, menatap sang suami. Di lihat dari cara bicaranya dan juga tatapan matanya memang Aditya tidak bohong.
"Apakah itu bukan hanya alasan agar kamu saat menemuinya tidak ada yang melihat?" Masih dengan tatapan curiga Kirana menanyakan hal bodoh itu kepada Aditya.
"Tentu tidak sayang, bahkan aku tak tau kemana dia akan pindah." Dengan gemas Aditya mencubit hidung Kirana yang terlihat sangat manis saat memperlihatkan wajah Cemburunya.
"Benarkah itu?" Ucap Kirana manja
"Tentu saja sayang, tanpa dia minta pun. Aku sudah berencana memindahkannya ke rumah sakit lain. Kalau tidak, bukan hanya kamu yang akan ngamuk. Si cerewet itu juga akan menghabisiku seketika." Ucap Aditya dengan senyum geli.
"Maksudmu Adek?" Kirana mengerutkan keningnya
"Siapa lagi? Dia lebih sayang padamu dari pada abangnya..." Aditya memperlihatkan wajah memelasnya
"Itu karena kamu suka marah marah padang."
"Kamu benar sayang..."
Mereka pun segera kembali menuju panti asuhan tempat mereka mengadakan acara amal. Berjalan sambil berpelukan mesra, sesekali Aditya mencubit gemas hidung istrinya itu.
Terlihat semuanya sudah bersiap-siap untuk pulang. Aditya dan Kirana pun memasuki mobil mereka lalu melajukan mobil menuju sebuah restoran setelah mendapat pesan dari kakek agar berkumpul disana.
Kakek Kirana mengajak semuanya untuk makan bersama sekaligus berpamitan untuk kembali ke Indonesia. Beberapa menit lalu kakek mendapat panggilan dari stafnya bahwa ada tanda-tanda iblis itu mulai bergerak.
Semuanya memaklumi itu. Karena memang setau mereka, kakek adalah orang yang sangat sibuk. Tentu saja kakek tidak memberitahukan hal yang sebenarnya kepada semua yang hadir. Hanya kepada Aditya kakek berpesan bahwa harus lebih berhati-hati karena dia sudah mulai bergerak.
Aditya paham dengan maksud kakeknya. Dia hanya mengangguk karena tak ingin Kirana banyak bertanya.
Kakek pun kembali ke Indonesia secepatnya.
®®®
Acara tujuh bulanan telah selesai, satu persatu saudara berpamitan untuk kembali. Sam, Sivia, Adel dan juga Agung siap berangkat setelah berpamitan ke apartemen Aditya sebelum menuju bandara.
"Kirana jelek! Kalau udah lahiran kabarin gue ya. Gue pasti segera kesini buat gendong sikembar." Sivia memeluk Kirana cukup lama.
"Jangan banyak pikiran. Kasihan keponakanku, ntar lahir langsung dapet gelar presiden galau...." Kembali Sivia memeluk Kirana dengan menahan air mata mengalir dimananya.
"Dedek bayi, aunty pamit dulu ya. Ntar kalo dede bayi udah lahir, kita keroyok daddy kamu yang ganjen itu.." Ucap Adel sambil mengelus perut Kirana lalu menciumnya.
"Udah, jangan dibisikin hal yang aneh. Abang nggak mau anak abang jadi bar-bar kayak kamu..." Aditya menarik Adelia lalu memeluknya sambil menjitak pelan kepala sang adik.
Sedangkan yang dijitak hanya meringis sambil membalas pelukan kakaknya.
"Ingat, jangan main api kalo nggak mau kebakaran!" Pesan Adelia.
"Kita pamit ya Na!" Agung dan Sam bergantian menjabat tangan Kirana lalu memeluk Aditya
"Ingat men! Jangan bikin ibu hamil galau. Ajak dia jalan-jalan, belanja, makan eskrim. Jangan diajak ngamar aja!" Seru Agung sambil menjabat tangannya
"Sialan lu!" Aditya menjabat tangan Agung dengan kencang hingga yang bersangkutan mengaduh
"Aduh!!"
Hahahahaha
Yang lainya tertawa melihat tingkah mereka.
"Gue pamit ya bro! Doain biar cepet halal kayak kalian, biar itu si kembar punya temen main...." Sam pun memeluk Aditya lalu menjabat tangannya.
"Denger tu! Udah nggak sabar pengen punya anak Vi!" Ledek Kirana menyikut tubuh Sivia yang berada disampingnya.
"Yaudah ya, kita brangkat sekarang. Kalian yang akur disini. Jangan berantem mulu....."
Mereka berempat pergi meninggalkan apartemen Aditya menuju bandara.
Kirana terlihat bahagia, melihat sahabatnya tersenyum lebar dan akan segera menikah. Melihat istrinya tersenyum bahagia Aditya merangkul sang istri lalu mengajaknya keluar.
"Sekarang giliran kita." Mendengar ucapan suaminya, Kirana menatap heran. Tak tau apa yang dimaksud suaminya.
"Maksudnya?" Tanya Kirana sambil mengerutkan keningnya
"Kita jemput emak, emak bakal tinggal disini buat temenin kita sampai kamu lahiran. Bahkan kalo perlu sampe anak kita sekolah...." Ucap Aditya kegirangan sambil menarik lengan Istrinya yang masih kebingungan.
Kirana hanya mengikuti saja langkah Aditya. Sesekali diliriknya wajah sang suami yang tampak sangat bersemangat.
"Kenapa?" Sadar istrinya menatap dari tadi hingga berada di dalam mobil. Sampai Kirana tidak memasang safetybelt nya.
"Kamu ganteng." Ucap Kirana dengan polos
"Darimana aja buk??? Udah hamil segitu gede baru nyadar suaminya ganteng!!!"
"Iya aku sadar dari dulu kamu ganteng. Tapi hari ini lebih ganteng." Ucap Kirana polos
Aditya pun melajukan mobilnya menuju hotel tempat ibunya menginap. Diperjalanan Kirana masih menatap kagum wajah suaminya yang sangat ia cintai. Ia bersyukur telah bersama dengan pria sebaik Aditya.
Kirana asyik dengan lamunannya hingga tertidur pulas dikursi penumpang.
Melihat wajah istrinya yang tertidur pulas, Aditya tersenyum lalu mengelus kepala sang istri kemudian perutnya
Kalian beruntung nak, punya ibu seperti dia. Kelak kalau kalian sudah dewasa, ayah harap kalian tak kan lupa betapa ibu kalian memperjuangkan kalian.
Kembali Aditya fokus ke jalan menyetir mobilnya.
☘☘☘