
Satu bulan setelah tragedi yang menimpa Aditya di kampusnya, dan Aditya masih terbaring lemah tak sadarkan diri. Dokter bilang tak ada yang salah dengan tubuh Aditya, dia hanya tidur panjang. Karena semua fungsi syarafnya masih berfungsi.
Kayla masih rajin menjenguknya meski ia tau, dia tak ada hubungan apa-apa dengan Aditya. Pacar bukan, teman dekat pun bukan. Bisa dikatakan Kayla adalah salah satu gadis yang mengidolakannya dikampus.
Kirana sembunyi-sembunyi memperhatikan kondisi Aditya selama dirawat di Rumah Sakit. Kirana tak mau teman-temannya salah paham jika dia secara terang-terangan menjenguk Aditya yang berbaring tak berdaya karena menggantikannya tertimpa balok dari atas gedung setengah jadi di kampusnya kalanitu.
Andai saja gue nggak ceroboh Dit, pasti gue yang terbaring disitu sekarang dan bukan lo
Kirana merasa hidupnya tak berguna, dia menangis dibalik tembok ruang perawatan Aditya tanpa seorang teman disampingnya. Kedua orangtuanya memilih bercerai meninggalkannya, dan pria yang selalu dia caci untuk pelampiasan amarahnya kini terbaring lemah disana.
Kirana beranjak dari tempat dia selalu menunggu perkembangan Aditya tanpa seorang pun tau kecuali dokter yang bertanggung jawab merawat Aditya. Kirana berjalan gontai meninggalkan Rumah Sakit dengan perasaan kalut dan penuh dengan rasa bersalah sekaligus rasa kesal. Rasa itu berkecamuk di hatinya, dan rasa itu pula yang membentuk kepribadiannya yang keras ini.
Sepulang Kirana dari Rumah Sakit Aditya membuka matanya, dengan berbagai pemeriksaan Aditya dinyatakan sehat hanya butuh pemulihan otot-otot nya karena terlalu lama berbaring. Dari belajar berjalan, berbicara, bahkan belajar makan sendiri dengan tangannya ia jalani. Namun ada sesuatu yang aneh kala ia memandang pasien yang ia temui di sepanjang koridor saat dia akan menjalani pemeriksaan. Ia tak tau apa yang aneh dengan matanya. Berulang kali ia mengucek matanya, berharap itu hanya efek samping dari komanya selama sebulan terakhir.
Kenapa dengan mata gue, ada yang nggak beres. Apa gue bakalan buta? Tapi kenapa setiap dari orang yang kutemui Mempunyai warna yang berbeda?
AAAAARRRRGGGHHHHH
Teriak Aditya dengan frustasinya, ibu dan bapaknya terkejut mendengar anaknya berteriak tiba-tiba. Mereka menghambur ke arah Aditya.
" Kenapa nak, apa yang kamu rasakan sayang....." seru Mira dengan penuh kekhawatiran menyelimuti hatinya.
Aditya hanya terdiam sambil menitikkan air mata tanda bahwa dirinya tidak baik-baik saja.
Dokter dan perawat berhamburan setelah melihat tanda darurat di kamar Aditya.
"Tolong bapak ibu keluar sebentar, kami akan memeriksa kondisi Aditya terlebih dahulu."
Mira dan suaminya diikuti putrinya berjalan keluar sesuai perintah dokter.
"Mak, bang Adit kenapa? Kenapa abang teriak kenceng begitu? Abang nggak papa kan mak?"
"Semoga saja abangmu tidak kenapa-kenapa sayang." Mira merengkuh putrinya kedalam pelukannya, memberi kekuatan pada dirinya juga anak polos yang berada dipelukannya.
®®®
Seminggu pasca kejadian itu, Aditya diperbolehkan pulang dan beraktivutas seperti biasa namun harus rajin kontrol seminggu sekali untuk memastikan ada apa dengan matanya.
DI KAMPUS
"Udah sehat lo, uluh uluh yang tiap hari samperin Kayla, udah nggak betah aja istirahat di rumah, " Ledek Agung
"Paan sih, " sahut Adit sedikit ketus
Dari arah kantin muncul Kirana yang berjalan kearah kelas mereka. Dengan sigap Aditya menghampiri Kirana dan mengekor dibelakangnya hingga Kirana duduk. Aditya dengan wajah cerah menyapa Kirana tak peduli seberapa sering dia mendapat perlakuan kasar dari gadis itu.
"Pagi Kirana,,,,,,"
"Heran gue, baru juga lu masuk kuliah. Udah bikin eneg aja, cih."
Bentak Kirana sambil melengos mencari hape di ranselnya.
"Na, pulang kuliah ada waktu nggak?"
Gila ni anak, pulang dari Rumah Sakit makin berani aja. Nggak kapok apa gua treakin mulu?
"Kita jalan yuk, ada yang mau gue omongin. Berdua aja sama lo. Mau ya....."
Kirana hanya membuang muka mendengar ajakan Aditya, tanpa jawaban apapun dia langsung memainkan hapenya tanpa peduli apa yang dikatakan pria aneh didepannya.
"Lo diem gue anggep lo mau."
Aditya berlalu pindah ke bangku bersama teman-temannya.
"Ngapain lo?" Sam bertanya penuh selidik kearah Aditya
"Mau tau aja lu...."Seru Adit sambil memonyongkan bibirnya.
"Lo g sadar? Dia dibully gegara kejadian yang nimpa lo? Dia juga dibully karena dia ditinggal orangtuanya cerai." Agung menjelaskan panjang lebar agar Aditya berhenti mengganggu Kirana. Namun Aditya tidak menggubris perkataan sahabatnya itu.
Kuliah pun usai, Aditya dengan girangnya menunggu Kirana didepan pintu sambil mengayunkan kakinya seperti sedang menari .
Saat Kirana keluar kelas Aditya langsung menarik lengan Kirana tanpa persetujuan pemiliknya.
"Heii!!!!! Ngapain sih lo tarik-tarik tangan gue. Sakit bego!" Bentak Kirana sambil memukul lengan Adit.
Aditya tak peduli, baginya Kirana sedang bernyanyi merdu untuknya.
Adit memakaikan helm untuk Kirana dan menyuruhnya segera naik, pertanda ia tak mau ada penolakan. Dengan terpaksa Kirana menaiki jok kosong motor Ninja yang dikendarai Aditya. Tak lama Aditya memarkirkan motornya ke sebuah Rumah Makan didekat kampus. Aditya mencari tempat dipojokan tanda dia butuh privasi dengan gadis yang ia gandeng itu. Jantung Kirana berdegup cukup kencang, dan mungkin Aditya pun mendengarkan dentuman itu. Genggaman tangan Aditya yang tak cukup kuat namun lembut itu, membuat hati Kirana sedikit merasa tenang dan nyaman.
Setelah mereka duduk dan baru dia sadari bahwa tangannya masih dipegang Aditya. Sontak Kirana menarik tangannya begitu tersadar dari lamunannya yang tak ada gunanya itu.
Gue udah nggak waras, kenapa gue ngerasa seneng digandeng sama ni cowok aneh.
Suara pria aneh yang ia kenal itu menyadarkannya dari lamunan receh ini.
"Eeehhh ya kenapa?" Jawabnya sedikit gagap karena masih terkejut
"Lo mau pesen apa? Tenang gue yang traktir"
"Samain aja sama punya lo."
"Oke mbak, dua ya."
Pelayan itu pergi meninggalkan mereka berdua dipojokan sambil tersenyum.
"Na, lo kalo ada masalah cerita aja ama gue. Gue bakal dengerin kok."
"Ah, gue nggak papa. Kenapa harus elu?"
"Na, kalo lo pengen nangis. Nangis aja, gue siap minjemin pundak gue," sambil menepuk pundaknya pertanda dia siap menampung kepala yang mau nyender
Yak elah , kapan gue belajar gombal begini sih. Ntar kalo dia makin illfeel sama gue berabe.
Kirana masih diam membisu mencerna perkataan yang baru saja diucapkan pria dihadapannya itu. Karena selama ini, hanya Aditya yang berani terang-terangan mengajaknya ngobrol walaupun sering dia abaikan.
"Apaan sih, siapa juga yang mau nyender di pundak lo...."
"Ya kali lu pengen nyender, udah gua bersihin. Dijamin nyaman dah, adek gue aja sering nyender sampe ketiduran saking nyamannya hahaha...."
"Garing amat sih...." Seru Kirana sedikit sewot dibarengi dengan senyum manis dibibirnya
"Cantik..."
"Hah???? Apa lo bilang?"
"Lo cantik kalo senyum, gue suka"
"Jangan ngibul ditengah hari bolong gini deh..."sedikit senyuman tersungging dibibir manis Kirana lagi
"Gue nggak ngibul Na, emang lu pernah denger gue ngibul??"
"Mana ku tau, gue kan nggak pernah ngobrol ama elu."
"Na,"
"Mmm"
"Boleh nanya nggak?"
"Nanya paan"
Belum terucap satu kata, mbak-mbak pelayannya sudah menata rapi pesenan Aditya di atas meja.
"Selamat menikmati...."Seru gadis itu sambil berlalu menjauh dari dua insan yang entah punya hubungan apa.
"Makan dulu Na, baru ntar dilanjut." ucap Adit pelan.
Diikuti Kirana yang menyantapa hidangan di depannya dengan lahap, berharap ia segera pergi tanpa harus lama-lama bersama pria aneh dihadapannya itu.
Dalam sekejap piring mereka telah bersih, dan menyisakan minuman di meja itu.
"Na, kita lanjutin yang tadi ya, gue mau nanya sesuatu boleh kan ya?"
"Nanya apa? Buruan gue mau kerja...!" Seru Kirana dengan nada ketus
Yah, dia balik ketusnya. Salah gua, diempanin dulu. Ya jelas full tu tenaganya.
"Lo kerja???" Tanya Aditya tak percaya
Hanya dijawab anggukan pasrah oleh gadis dihadapannya itu. Setahu Aditya, Kirana berasal dari keluarga mapan.Masak iya ditinggal cerai orang tuanya dia jadi nggak punya apa-apa.
"Buruan, kalo nggak gue pergi nih." Kirana beranjak dari duduknya, namun tangannya dengan sigap diraih Adit. Kirana mulai duduk lagi
"Na, tunggu sebentar. Gue beneran mau nanya. Tapi jangan marah ya." ucap Adit lembut diikuti anggukan oleh Kirana
"Waktu itu lo marah trus nendang tiang itu. Lo kenapa?"
Deg! Begitu teringat kejadian itu, Kirana tanpa terasa menangis tanpa suara.
Aditya berdiri dan duduk pindah disamping Kirana sambil menyandarkan kepala gadis itu didadanya. Baru kali ini Kirana menangis dihadapan pria, apalagi pria yang dia benci.
" Tenang nggak usah dijawab dulu.."
Aditya masih memperhatikan perubahan warna dari merah gelap ke merah muda yang terpancar dari tubuh gadis dalam dekapannya itu. Dia berharap perasaan Kirana sedikit tenang, setelah ia menangis.