Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 25



Matahari sudah terbit, menyambut hari yang sangat dinantikan oleh sepasang kekasih untuk mengikat janji.


Segala persiapan sudah beres, rias pengantin sudah beres dan kerabat dekat kedua keluarga sudah berkumpul.


Berharap tidak ada yang menganggu acara ini hingga usai, jangan ada halangan. Lancarkan, doa semua orang yang ada di rumah Aditya.


Adelia dan ibunya memasuki kamar yang digunakan untuk merias Kirana.


"Wuaaahhhhh mah, kak Kirana mana?" Ucap Adelia menggoda. Namun sang ibu hanya diam sambil tersenyum


"Mesti laporan abang nih, calon pengantin diculik,,,,,"Ucapnya histeris


"Mak!!! Ni salah nggak sih? Kayaknya ketuker deh, bukan dia calon kakak ipar ku." Masih dengan candaan jahilnya, membuat Kirana sedikit cemberut kesal


"Eitsss jangan nggak boleh cemberut, ntar keriput, peyot udah deh kelar. Abang nggak jadi nikah sama kakak..." Adelia keluar karena takut diamuk kakak iparnya itu


"Sudah jangan ganggu kakakmu. Kamu cantik sekali sayang, bahkan mama kira ini bidadari..." Hibur Mira kepada Kirana yang cemberut karena ulah putri nya


Terdengar suara pintu dibuka, mama Kirana masuk menghampiri anak gadisnya. Lalu memeluk sembari meneteskan air mata kebahagiaan


"Maafkan mama sayang, mama jarang berada disampingmu. Bahkan mama tidak tau kau mengalami hal yang mengerikan itu. Seharusnya mama selalu menjagamu, kamu cantik sekali sayang. Kamu beruntung ada Aditya yang mencintaimu dan kamu dapat bersanding dengannya..." Mama Kirana menoleh ke arah Mira dan memeluk haru wanita paruh baya disamping Kirana.


"Terimakasih sudah mau menerima anak saya menjadi anggota keluarga ini. Dan maaf baru sekarang bisa menemui anda. Putri saya sungguh beruntung bisa berada di keluarga yang penuh kasih sayang ini...."Ucap nya penuh haru dan rasa syukur.


Mereka bertiga saling berpelukan, ketiga perempuan itu lalu tertawa bahagia. Adelia langsung iku memeluk ketiganya dengan wajah gembira


"Meski telat, adek ucapin Selamat ya kak. Jangan nakalin adek ya kalo udah jadi istrinya abang...."Pesan Adel sok bijak


" Yang ada juga kamu yang jahilin kakak mulu...."Kirana memeluk sang adik


"Udah deh nggak usah lebay, ini belum mulai acaranya. Nggak boleh nangis, kalo itu make up luntur, adek ogah punya foto pernikahan pengantinnya lebih jelek dari adeknya.."Goda Adelia lalu mengajak ketiganya ke depan. Karena memang sudah ditunggu oleh penghulu.


Kirana diarahkan untuk duduk disamping Aditya, lalu kepala ditutup menggunakan kain putih oleh sang ibu. Kedua saling menatap dan tersenyum malu. Disaksikan keluarga dan kerabat dekat acara akad nikah dilaksanakan.


"Bang, jangan salah sebut. Jangan bikin adek malu." Adelia berbisik ketelinga sang kakak, bermaksud mengurangi rasa grogi yang dialami sang kakak. Dan itu berhasil membuat Aditya sedikit santai tidak setegang tadi.


Setelah acara akad selesai dilanjutkan dengan bacaan doa, sungkeman dan berbagai acara yang lainnya. Semua terlihat lelah namun lebih terasa kebahagiaan di hati mereka.


Kirana digandeng sang adik menuju kamar untuk membersihkan riasan wajahnya diikuti Aditya. Memasuki kamar, Adelia diusir kakaknya agar segera keluar. Dengan wajah sedikit kesal timbul kejahilan di otak Adelia


"Jangan langsung gas bang, masih siang..."Adelia berlalu meninggalkan mereka berdua sambil cekikikan puas. Sedangkan Aditya hendak menendang sang Adik yang sangat gesit menghindar sambil menutup pintu.


"Kamu cantik sekali, " Ucap Aditya sambil membelai lembut wajah Kirana. Lalu keduanya saling berpelukan melepas rindu, semenjak kejadian penculikan itu mereka baru bertemu hari ini saat acara akad nikah.


Walau satu rumah namun terasa amat jauh


"Dit, makasih ya."Masih dalam pelukan Aditya Kirana merasa sangat bahagia


"Kok Dit? Ganti dong! Sekarang aku suamimu, kita sudah sah. Panggil aku sayang.."Pinta Aditya dengan wajah melas


"Iya sayang, "


Cup


Aditya dengan lembut mencium Kirana lalu merebahkan tubuh mungil itu ke kasur.


Aawww


Aditya menghentikan aktivitas nya,


"Kenapa sayang?" Sedikit khawatir mendengar jeritan Kirana


Aditya tersenyum, dia lupa bahwa istrinya masih mengenakan hiasan kepala yang super ribet. Aditya membantu melepas riasan di kepala Kirana hingga usai. Lalu mulai melepas kebaya yang dipakai Kirana, kembali Aditya mencium Kirana mulai dari kening, pipi, mata, hidung lalu bibir yang berangsur sangat lama dan ganas.


Keduanya bermandikan peluh penuh gairah, Aditya melepas ciumannya mengambil napas sesaat.


Lalu mulai melepas pakaiannya dan kembali menyerbu dengan ciuman yang lebih ganas. Disetiap hembusan napasnya terasa hangat dikulit Kirana. Sudah hampir dua jam hingga keduanya terkulai lemas dengan senyum dibibir.


"Mandi dulu yuk, pasti yang lain sudah menunggu kita." Aditya mengajak Kirana membasuh tubuh agar lebih segar.


"Aduhh, pelan-pelan. Kamu duluan deh." Pinta Kirana sambil memegangi daerah sensitifnya yang terasa nyeri." Aditya tidak tega melihat istrinya kesakitan seperti itu. Dengan sigap Aditya menggendong Kirana ke dalam kamar mandi untuk mandi bersama. Lalu disana keduanya memadu kasih sekali lagi.


Seusai mandi, keduanya tampak segar. Dan Kirana sudah tidak merasakan sakit yang amat sangat.


Keduanya keluar kamar dengan kondisi yang sangat segar. Keduanya menuju ke meja makan, disambut kedua keluarga juga kedua sahabat Aditya.


"Gimana kak?" Tanya Adel jahil menuju kursi disamping Kirana.


"Sakit dek.."Kirana tak kalah jahil


"Bang Agung, kita nggak jadi nikah.."


Hahahahahahaha


Seisi ruangan tertawa mendapati reaksi dari Adelia.


"Lah malah pada ketawa..."Adel tak habis pikir dengan orang dewasa diruangan itu.


Sam pun menimpali guyonan Kirana "Makanya nikahnya sama abang aja dek, Agung mah kalah..."


Dibalas dengan sikutan Agung di perutnya


"Jangan dengerin Sam dek, dia mah setan. Suka ngebisikin yang iya-iya.."


Hahahahaha


Suasana riuh dimeja makan, niat awal meledek pengantin baru malah Adel dan Agung yang kena batunya.


Seusai makan, orangtua Kirana berpamitan. Mamanya kembali ke rumahnya, sedangkan papanya kembali ke luar kota dengan kesibukannya.


Aditya dan kedua sahabatnya menuju ruang kerja ayahnya karena akan berdiskusi dengan kakek Kirana.


Setelah menyalakan laptop, lalu melakukan panggilan video. Mereka membicarakan langkah selanjutnya untuk menghadapi Mr. X yang belum jelas identitasnya.


Sedangkan Kirana, Adelia dan juga Mira membereskan meja makan. Meski termasuk kalangan kelas atas, Mira hanya memerlukan asisten rumah tangga untuk bersih-bersih, menyetrika baju dan merawat kebun.


"Kak, yang bener sih?"Adelia masih penasaran


"Apaan?"


"Nikah enak nggak?"


"Sakit dek, apalagi pas dipasang konde, kepala rasanya berat, pas ditusuk kembang pentulnya itu, sakit."


"Ooooo, itu mah adek udah tau. Dulu sering jadi putri kipas pas di nikahan sodara."


"Emang adek pikir apaan?" Tanya Kirana jail sambil menatap penuh selidik ke wajah Adelia


"Yaaa adek kira itu.. Aahhh udah ah. Jadi malu sendiri kan. Uuuhhhh" Adelia meninggalkan Kirana dengan sangat malu.


Senyum bahagia menghiasi wajah Kirana. Dia berhasil mengimbangi kejahilan sang adik, dan bisa dikatakan ia menang telak.