
Aditya Saputra itulah namaku, entah mengapa kehidupanku berubah setelah kecelakaan yang menurutku tidak masuk akal itu. Ya, hanya karena aku tertimpa balok kayu saat pembangunan dikampusku siang itu, semua berubah seperti dunia komik.
®®®
"Mak, Adit berangkat kuliah dulu ya......" Sambil berlari keluar rumah Adit berpamitan kepada ibunya.
Sang ibu hanya menggeleng melihat kelakuan putra sulungnya pagi ini.
"Tidak biasanya anak itu lupa mengecup tangan ibunya kala pergi dari rumah" ucap ibu Mira lirih
Tak lama setelah kepergian putra sulungnya, putri tercintanya menghampirinya sambil menengadahkan kedua tangannya pertanda dia mengharapkan sesuatu darinya, Mira paham dengan apa yang diperbuat Putrinya itu.
"Mak, adek mau berangkat sekolah dulu ya. Tadi udah pamit sama bapak, katanya suruh minta emak buat jajannya....." dengan senyum manisnya Adelia Putri mengerlingkan mata kanannya pertanda dia mengharap lebih untuk kali ini.
Sambil merogoh kantong pada bajunya wanita paruh baya itu berpesan.
" Jangan jajan sembarangan, contoh abang kamu tuh......" seraya memberikan lembaran 20ribu kepada putrinya
"Makasih emak sayang, luv you pull dah pokoknya. Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
Emang dasar emak-emak ya, sehari aja kagak bandingin anaknya yang super kece ini sama abang. Pasti hariku akan sangat indah dalam sesaat, he he he
Adelia mengayuh sepedanya menuju sekolahnya yang tak jauh dari rumahnya.
®®®
Sementara itu Aditya telah sampai dikampusnya setelah memacu kendaraan roda duanya menembus kemacetan kota dikala pagi.
"Alhamdulillah ya Allah nggak sia-sia aku ngebut. Asataga, aku lupa cium tangan emak. Anak macam apa aku ini. Semoga emak ngarti...."
Aditya bergumam sambil berjalan menuju ruangan BEM yang tak jauh dari parkiran motornya. Dia tidak sadar kalau ada yang mengawasinya sedari tadi, semenjak dia memasuki gerbang kampusnya itu.
Aditya adalah sosok mahasiswa yang supel dalam bergaul, berparas tampan, rambut sedikit ikal, dan tatapan matanya yang selalu sukses membuat para gadis mengekor setiap kali dia berjalan di lorong kampus. Jadi tidak heran bila dia punya banyak penggemar. Ini adalah tahun keduanya menjadi mahasiswa kedokteran di kampus itu. Dengan keenceran otaknya, tak perlu bersusah payah baginya untuk mendapatkan beasiswa penuh hingga lulus.
"Dit!"
Suara ini tak asing ditelinga Aditya. Ya, dia adalah Agung, sahabatnya sedari SMA.
" Paan sih bikin gua jantungan aja lu."
" Kenapa lo? Pagi-pagi udah bengong disini, mikirin Kayla ya?"
Sontak pipi adit memerah, mendengar nama Kayla disebut.
Bagaimana tidak, dua hari lalu primadona kampus ini mengajaknya berkencan sabtu depan. Meski tak ada hubungan spesial diantara mereka, tapi Adit tau Kayla menyukainya dari awal masuk kuliah.
"Gila buat apa gua mikirin gebetan orang. Kayla terlalu tinggi kelasnya bro, nggak kuat aku ngikutinnya"
"Tapi kalo hati bicara lain, babat aja boy...." ucap Agung sambil memperagakan menebas semak dengan tangannya yang kekar itu.
Ya kali gua main babat gebetan orang, bisa ancur persahabatan gua sama Sam.
" Lo nggak usah mikirin Sam, dia juga tau kok Kayla suka sama lo. Cuma dia menunggu sikap lo aja, makanya tu anak diem."
"Maksud paan sih!"
"Dit, gua tau lo datang pagi ini sengaja biar bisa cewek sadis itu. Yah meski bisa dibilang Kayla jauh lebih cantik daripada Kirana si cewek sadis itu..."
BRUUKKK
"Heh!!!! Lu kalo jalan liat-liat dong, mata dipake buat liat. Dasar cowok aneh!!!" sambil memaki gadis itu meninggalkan Aditya yang masih bengong menatap kearahnya saking senang hatinya.
Nggak sia-sia gua berangkat pagi, hanya untuk mendengar nyanyian merdu bidadari ku
Aditya masih tersenyum sambil berlalu mengikuti arah gadis cerewet itu menuju kelasnya. Mereka satu kelas, Kirana adalah gadis yang bisa dikatakan super nyebelin kalau urusan soal cowok. Bahkan Aditya yang pendiam itu pun sering kena semprot karena menurut Kirana, Aditya adalah pria aneh. Pria yang tak pernah menolak bila ada gadis yang mencoba mendekatinya meski hanya sekedar bertanya hal yang tidak penting.
®®®
Gila, pagi-pagi udah tabrakan aja sama cowok loyo. Bikin hari gua surem aja. Gua heran, kok ada ya cowok pendiem gitu banyak yang ngejar. Padahal tu anak kagak ada bagusnya. Aisshhh ngapain gua jadi mikirin dia sih. Fokus Na, lo nggak boleh mikirin cowok dulu. Fokus Fokus Fokus
BYAAARRRR
Cahaya mentari pagi menusuk mata Kirana dengan sadis dipagi ini.
"Pagi Na, " Sapa Adit ramah
" Ngapain lo disitu????...........Oh iya, elu kan juga dikelas ini. Yaudah deh serah lu." Kirana memukul kepalanya sedikit pelan. Merasa nggak perlu banget dia nanya kayak gitu. Ya kali nanya ngapain disitu, kan dia sekelas.
Kelas dimulai sampai jam 10 siang mereka keluar kelas untuk istirahat.
Seperti biasa, Kirana selalu ke belakang kampus untuk menenangkan diri sesaat. Dia masih merasa sedih melihat kedua orangtuanya bertengkar setiap kali bertemu. Dan parahnya, semalam mereka bilang akan bercerai tanpa menanyakan pendapat Kirana terlebih dahulu.
Tak terasa buliran bening mengalir dari sudut mata Kirana, panas, sesak dada. Ingin teriak, namun hatinya melarang. Kirana menumpahkan kekesalannya dengan menendang sebuah tiang di depannya dengan sekuat tenaga
BRUUUKKKKK
Entah apa yang terjadi, beberapa mahasiswa berkerumun disekitar pembangunan gedung baru dibelakang kampus. Riuh suara anak-anak itu, samar terdengar di telinga Kirana, sampai pandangannya gelap dan entah apa yang terjadi.
®®®
DI RUMAH SAKIT
"Mah, apa yang terjadi???" ucap pria paruh baya itu kepada wanita di depan Ruangan Gawat Darurat
" Kirana Pah, " Air mata membanjiri pipi wanita cantik itu hingga menetes ke lengan pria disampingnya
Tak lama dokter keluar dari ruang pemeriksaan,
" Bagaimana dok keadaan putri kami??"
" Keluarga Aditya?" seru dokter
" Bukan Pak, putri kami Kirana....."
"Oooohhh, Putri ibu tidak apa-apa. Hanya luka ringan dan sedikit syok. Oh ya, mana keluarga pasien atas nama Aditya Saputra?"
"Kami dok, saya ibunya...." ucap Mira dengan nada bergetar mendengar nama putranya disebut.
"Mohon maaf bu, putra anda harus segera dioperasi, karena lukanya cukup dalam dan terjadi perdarahan di kepalanya"
" Lakukan dok, lakukan yang terbaik untuk anak kami." Seru pria disamping Mira, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
Mira masih terpukul, masih terngiang suara anaknya pagi tadi kala bergegas dengan penuh semangat menuju kampusnya. Tubuhnya lemas, tak berdaya menghadapi kejadian tak terduga ini. Dia ditemani Bagas suaminya, menunggu didepan ruang operasi. Sudah 2 jam lebih dan operasi belum selesai, menambah kekacauan dalam hatinya yang kalut ini.