Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 21



TIIIINNNNNN TIIIIIINNNNNN


BRUUUAAAKKKKK


AAAAAAAAAA


A : " Ada kecelakaan"


B : " Kasian banget, telpon ambulans!!!"


Semua orang yang berada di sekitar tempat kejadia berkumpul berusaha menolong korban kecelakaan antara mobil sedan, truk, dan beberapa kendaraan lain.


BREAKING NEWS


"Kecelakaan beruntun yang disebabkan adanya genangan air di tengah jalan yang membuat sebuah truk hilang kendali. Semua korban sudah dibawa ke Rumah sakit terdekat. Ada sekitar 15 korban kecelakaan, dari luka ringan hingga berat. Tidak hanya penumpang kendaraan tetapi pejalan kaki juga menjadi korban kecelakaan siang ini.


Setelah hujan lebat yang mengguyur kota dari pagi, banyak mengakibatkan pohon tumbang dan juga jalan rusak dikarenakan rendaman air hujan yang merusak struktur jalan........"


Kirana melihat ada siaran berita yang menyiapkan adanya kecelakaan, dia mengenali salah satu kendaraan yang menjadi korban. Mebuatnya sedikit panik. Berusaha meyakinkan bahwa korban bukan orang yang ia kenal. Volume tivi ia kencangkan, mata semakin fokus memperhatikan siaran berita. Sebuah motor yang biasa digunakan Aditya. Setelah pasti, Kirana segera menghubungi Aditya.


Tuuuuttttt tuuuutttt tuuuuutttt


Tidak ada respon, Kirana pun makin panik. Segera ia mencari tau kemana para korban dibawa. Bergegas mengendarai mobil yang hampir tidak pernah ia kendari, melaju kencang ke arah rumah sakit para korban kecelakaan dibawa. Tubuh gemetar, keringat dingin bercucuran. Hampir tiga kali menyenggol pengendara lain, Kirana berusaha bersikap tenang.


Begitu sampai di parkiran Rumah Sakit, Kirana segera menuju ruang gawat darurat. Disana ada sosok yang ia kenal, Dhani.


Bergegas Kirana menghampiri dokter Dhani, dan menanyakan siapa saja yang menjadi korban.


Dengan terbata-bata Kirana bertanya kepada mantan pembimbingnya " Paakkk eh Mmas Dhani, bisa saya tanya keadaan para korban kecelakaan lalu lintas siang ini?'


"Apakah ada yang kamu kenal?"


"Mungkin"mengikuti langkah dokter Dhani ke bangsal pasien di IGD


Satu persatu ia perhatikan, ada sosok yang dikenalnya segera Kirana berlari dan menarik lengan orang yang dimaksud, dan benar saja. Saat ria itu menoleh,


"Aditya,,,"segera memeluk sang kekasih dihadapannya.


"Yang sakit gue, yang dipeluk abang! Segitu malangnya nasib hambaMu Ya Allah" protes Adelia


Tersadar dengan suara sang adik, lalu melepas pelukannya segera " Kamu nggak papa dek? Apanya yang sakit? Patah tulang? Luka dalam.." begitu panik hingga tak bisa mengontrol pertanyaan dari mulutnya


"Sayang,,,,nggak usah khawatir. Adek cuma sakit perut, nyeri haid" Bisik Aditya


"Nyeri haid?!!! Bukan karena kecelakaan lalu lintas?" kaget tapi ada rasa senang bahwa mereka tidak menjadi korban kecelakaan.


"Kok bilang gitu sih? Nyumpahin adek kecelakaan?"Adelia cemberut sambil membalikkan badan. Masih memegang perut bagian bawahnya yang sakit.


"Bukan gitu, tadi kakak lihat ada motor kakakmu. Kakak takut kalian kecelakaan. Langsung kesini, ditelpon nggak diangkat. panik banget pokoknya.." menghembuskan nafas lega mendengar pernyataan sang adik


"Tadi emang aku lewat sana, mau bantuin korban. Trus baru turun dari motor, ada telpon kalo Adel pingsan....."Mengelus kepala sang adik yang masih lemah terbaring di ranjang rumah sakit


Setelah mendapatkan perawatan keadaan Adelia membaik dan boleh pulang namun harus mendapatkan perawatan di rumah. Adelia ikut di mobil Kirana sedangkan Aditya mengikuti dari belakang menuju rumah Aditya. Selain sakit karena nyeri haid, juga keracunan makanan. Biasa berisik dan bertingkah lucu, sekalinya sakit loyo tidak punya daya.


Kirana menatap iba Adelia, gadis muda dihadapannya itu sungguh manis dalam keadaan tidur pulas tak berdaya. Rencana makan siang terpaksa batal karena ada kejadian tak terduga seperti ini.


Sesampainya di rumah sudah ada Sam dan Agung yang menanti kedatangan Aditya dari Rumah sakit. Keduanya terlihat sangat panik, dengan sigap Agung menyambut mobil Kirana dan menggendong Adelia tanpa babibu.


Semua yang menyaksikan adegan itu masih melongo melihat tingkah Agung yang sangat sigap membawa Adelia ke kamarnya. Aditya mengikuti sang Adik yang berada dalam gendongan sahabatnya. Setelah membaringkan Adel di kasurnya, Agung menyelimutinya dengan penuh kasih. Membelai rambut sang gadis, tatapannya penuh dengan rasa khawatir.


"Kenapa tu bocah"Sam mendekat kearah Aditya yang hanya dijawab dengan angkatan bahu tanda tidak tau.


Ketiganya menyaksikan ketelatenan Agung mengurus Adelia, hingga gadis itu menggeliat lalu menggengam tangan yang sedang memegang kepalanya lalu membuka mata perlahan.


Adelia terkejut, begitu banyak pasang mata yang memperhatikannya. Dengan cepat menarik tangannya yang berada dalam genggaman Agung dengan malu.


"Gung, lo ikut gue. Biar adek Kirana aja yang nemenin."Agung berjalan mengikuti Aditya sedikit canggung


Setelah ketiganya duduk, Agung berhadapan dengan kedua sahabatnya yang seakan siap menginterogasi seorang maling jemuran di komplek.


"Jelasin."singkat namun membawa suasana menjadi tegang


"Gue sama Adel pacaran."dengan tegas Agung menatap wajah Aditya. "Restuin kita ya..."pinta Agung sambil memegang tangan Aditya


"Gila, gue kalah start." Celetuk Sam asal


Selama ini Sam hanya menggoda sahabatnya agar segera mengambil tindakan. Bagaimana pun sudah ada gadis lain di hatinya. Wajar jika Sam tidak terkejut melihat kejadian tadi. Hanya tidak menyangka secepat itu.


"Adek gue masih bocah! Lo nggak mikir bakal ganggu sekolahnya?" Aditya masih belum yakin


"Iya, gue janji bakalan ngajarin dia biar lulus dapet nilai bagus. Trus kuliah. Baru gue lamar dia. Ya kalo nggak sampe gue punya rumah sendiri."Jelas Agung


"Gila lu Gung! Udah mikirin sejauh itu?" Sam tak habis pikir, sahabatnya sudah punya rencana yang sangat matang soal Adelia.


"Adel udah tau?" Masih dengan nada serius Aditya bertanya kepada Agung


"Malah Adel maunya dia lulus sekolah minta gue nikahin."


"Serius tu bocah ngomong gitu?" Aditya semakin terkejut


"Iya bang, adek nggak mau pacaran kelamaan. Takut nggak kuat...."Yang dibicarakan datang langsung duduk disamping Agung sambil memeluk lengannya.


"Lo udah diapain aja dek sama Agung?'


"Pegangan tangan, nggak kayak abang! Berani ciuman di rumah, padahal ada emak sama bapak. Bang Agung nggak senekat abang!!"


Aditya sangat malu bila mengingat kejadian saat Kirana menginap pertama kali di rumahnya.


Hahahahaha


Semua yang ada di ruangan itu tertawa mendengar pernyataan Adelia yang dibilang masih bocah. Hanya Kirana yang diam, malu karena dipergoki gadis kecil dihadapannya.


"Kapan abang lamar kak Kirana? Jangan sampai keduluan, adek nggak mau beliin macem-macem buat abang ntar kalo adek nikah duluan." Ledek Adelia penuh rasa puas dengan senyum mengembang melihat reaksi kakaknya yang seperti orang linglung.


Gila ni bocah, ngomongnya nggak ada saringannya. Abang sendiri dibikin malu didepan dua cecunguk gila ini. Salah asuh apa gimana emak ni, Ngidam apa emak gue pas hamil ni bocah.


Suara riuh masih terdengar di ruangan keluarga sore itu. Aditya masih menjadi bulan-bulanan kedua sahabatnya dan juga adiknya yang super jail.