
Entah apa yang ada dipikiran Kirana semenjak pagi ini, Aditya tak tau harus berbuat apa. Karena memang dia tidak bisa membaca isi hati seseorang. Namun ia memperhatikan warna yang keluar dari tubuh gadis itu yang bisa dikatakan suram.
Ragu untuk bertanya, tapi penasaran. Ada sedikit niat untuk menjahilinya,
"Na, kita bolos aja yuk...." Yang dipanggil masih diam saja
"Na, kiya bolos kuliah aja yuk...." masih tidak ada respon dari Kirana. Lalu Aditya menghentikan motornya didekat gerbang kampus, dan menarik lengan gadis yang duduk di jok belakan motornya.
Tak lama Kirana tersadar dari lamunannya
"Ya mah ada apa?"
"Mah? Kamu kira aku mama mu?" Tanya Aditya sedikit mengerutkan keningnya
"Ada apa? Kamu nggak mood buat kuliah? Apa kita bolos aja hari ini?"
"Enak aja! Gue pengen lulus cepet, nih anak malah ngajakin bolos...." Kirana memaki Aditya sambil memukul punggungnya dengan kesal
"Gue turun sini aja, gue nggak mau fans lo salah paham. Trus gue diteror gila-gilaan. Lebih parahnya lagi kalo gue disantet, hiiiii kan ngeri...." Seru Kirana sambil bergidik dan hendak turun dari motor Aditya.
Namun sebelum dia sempat turun, motor Aditya sudah melaju ke parkiran dekat fakultas mereka.
"Heii!!!!! Lo budeg ya?"
"Iya gue budeg, kupingku kesumpel sama suara manis kamu sayang,,,,,"
"Iihhh najong! Pokoknya kalo sampe ada yang bully gue lagi, lo arus jelasin ke mereka kalo kita nggak ada hubungan apa-apa...." pinta kirana seraya meninggalkan Aditya sambil melempar helem kearah pria gila itu
Manis sekali kalo lagi bete gitu, gemesin. Rasanya pengen cium itu bibir manyun. Tapi ntar kalo digaplok bahaya juga
Aditya membatin sambil tersenyum gel.
Entah kenapa Aditya jadi semakin tidak bisa mengendalikan dirinya setelah kecelakaan itu. Padahal dulu, meskipun dia menaruh hati pada Kirana. Paling tidak dia hanya berani menyapanya setiap pagi.Namun pasca kecelakaan itu emosi dan tingkahlakunya tak dapat ia kendalikan sama sekali.
Bejalan mengekor dibelakang Kirana yang disambut godaan kawan mereka dan juga tatapan sinis dari segelintir orang.
Baik itu pria maupun wanita yang mereka lewati. Begitu sampai di kelas, mereka disambut dengan sorakan riuh memenuhi ruang kelas
"Cuit cuiiittttt......gini ye kalo udeh pacaran. Kemane-mane berduaan, nyang lainnye kagak keliatan kayak ketombe ketutupan topi....."
Hahahahahah
Disambung gelak tawa dari teman-temannya menambah Aditya semakin semangat mengejar Kirana yang duduk dibangku bersama Sivia sahabat Kirana.
"Via cantik, bisa geser nggak. Gue mau duduk disamping pacar gue,," Pinta Aditya dengan wajah memelas namun lebih ke arah genit
"Dengan senang hati Yang Mulia Pangeran....." Dengan hormat ala-ala dayang kerajaan Sivia pindah ke bangku sebelah memberi tempat kepada Aditya agar bisa bersanding dengan sahabatnya.
Meski mendapat sorotan mata siap membunuh dari sahabatnya, Sivia tidak peduli.
Awas aja Vi, kagak bakalan gue kasih contekan lagi lu
Sambil melayangkan tinju udara kearah Sivia yang disambut dengan senyum manis Sivia dan tubuh seraya terkena bogem mentah dan pura-pura limbung sambil tertawa bahagia.
®®®
Belakangan Aditya sangat sensitif dengan matanya. semua orang dihiasi banyak warna dan membuatnya sedikit risih. Selain dia melihat warna itu, entah kenapa emosinya pun ikut berubah. Dan perubahan emosinya itu berubah tanpa ia ketahui sebabnya.
Sudah lumayan lama Kirana menjadi pacar halu nya, namun masih sangat sulit Aditya membuka hati Kirana agar lebih terbuka dan menerimanya.
Namun yang ia heran, kalau memang Kirana akan menikah kenapa belum ada tanda-tanda gadis itu akan menikah. Apakah bertanya langsung akan menemukan titik terang?
Kirana berjalan dengan teman-temannya. Dan entah semenjak kapan Kirana punya banyak teman. Dilihat wajahnya gadis itu tidak sesuram biasanya, namun masih ketus kepada setiap pria yang menggodanya.
Aditya mendekat, namun raut wajah Kirana tak berubah sadis. Apakah dia mulai terbiasa dengan kehadirannya? Baguslah kalau begitu.
"Maaf ya Dit, gue udah dapet tempat magang."
Jawab Kirana santai
"Dimana???"Tanya Aditya penuh semangat.
"Rumah Sakit Harapan Bunda, milik paman."
Pamannya punya Rumah Sakit?
Melihat ketidak percayaan Aditya buru-buru Kirana menjelaskannya
"Rumah Sakit ayahnya Hendra, lo inget kan sama Hendra?"
Kebetulan Kirana menyebut Hendra, dia akan memancing Kirana agar memberitahunya bagaimana hubungannya dengan Hendra kini.
"Hendra??? Hendra calon suami kamu?" Tanya Aditya penuh selidik.
Pertanyaan itu terdengar oleh beberapa teman mereka?
"Hah? Cewek judes mau kawin? Bukan ama elu Dit? Lo dijadiin ban serep nih?"
Hahahaha
Suasana menjadi sangat riuh, beberapa dari mereka ada yang tidak peduli dengan apa yang terjadi. Karena bisa ditebak dari awal bahwa mereka seperti pasangan yang tidak saling sayang.
Agung yang penasaran dengan itu mulai mendekat,
"Dit, lu yakin tu cewek judes mo kawin?"
Sam pun mendekat tak mau kalah dari Agung siap memberondong pertanyaan kepada Aditya dan minta penjelasan.
Sebelum mengucapkan sepatah kata Aditya bangkit dan memberi isyarat kepada sahabatnya itu agar mengikutinya. Begitu sampai disebuah bangku taman mereka bertiga duduk melingkar. Untung hari ini dosen absen dan hanya meninggalkan tugas.
"Gung, Sam. Lu berdua punya koneksi nggak? Biar gue bisa magang ditempat yang sama ama Kirana?"
"Lu ngigo?" Jawab Agung
Orang tua Agung dan Sam memang punya Rumah Sakit juga, jadi wajar jika Aditya bertanya seperti itu.
"Gue serius, soalnya gue ngeliat kayaknya si Hendra itu ada yang nggak beres. Ya gue nggak peduli dia calon suami Kirana. yang gue pikirin kebahagian Kirana."
"Kok lo bisa mikir ke situ bro!" Tanya Agung
"Kayaknya mereka dijodohin, dan si Hendra itu selingkuh." Jawabnya serius
"Apaaa??? Ya itu urusan dia, lagi lu bukan pacar benerannya Kirana. Dan dari awal itu hanya hubungan sepihak. Gue heran lu bisa bertahan dengan status jemuran kayak gitu...."
"Sialan lu Sam, maksud lo status jemuran?"
"Ngegantung!!!!Hahahahah" Sahut kedua sahabatnya sambil tertawa lebar
"Mending lu magang di Rumah Sakit gue. Udah ikhlasin aja itu si nona judes kawin sama Hendra...." Ucap Agung mencoba menengahi
"Gue nggak bisa, udah terlanjur cinta gue. Meski ditolak beribu kali dia nggak pernah protes kalo gue panggil sayang....." Ucap Aditya dengan bangga
" Itu karena dia kasian ama elu! Ya udah ntar gue tanya bokap, moga aja bisa bantuin lu buat ngejar cinta khayalan lu...."
"Makasih ya, gue mau kencan dulu...." Aditya langsung beranjak meninggalkan sahabatnya begitu melihat Kirana berjalan hendak meninggalkan kampus dengan setengah berlari.
Belum sempat Aditya menghampiri Kirana, gadis itu sudah menaiki motor bersama pria yang dia yakini adalah Hendra. Tampak tergesa-gesa. Sebenarnya ada apa?
Banyak pertanyaan muncul di kepala Aditya. Hubungan sepihak ini sungguh melelahkan namun menyenangkan. Kelak jika dia berhasil mendapatkan hati Kirana dan menikahinya ini akan menjadi kisah yang sangat manis, karena melihat betapa sulit perjuangannya demi cinta.