Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 48



Setelah Vina melihat wajah Tama, baru kali ini dia merasa tenang. Perasaan yang tidak bisa dia tepis.


Tama pun terlihat sedikit pendiam dibandingkan biasanya. Dia tak lagi jahil, namun sikapnya lebih hangat dibandingkan biasanya.


Setelah semua menikmati makanan yang mereka pesan di kafe. Semuanya pun berpamitan untuk pulang.


Kali ini Vina tidak menolak untuk diantar oleh Tama.


Entah kenapa Vina tak kuasa menolak tawaran Tama kali ini. Sedikit kebahagiaan terukir di sudut hatinya. Meski rasa benci masih ada.


Dipandanginya wajah Tama yang dudu bersebelahan dengannya di kursi penumpang.


Tak kusangka kalau kamu juga ganteng, ternyata selama ini aku dibutakan oleh kebencianku. Tetap saja semua itu tak mengubah bahwa kamu lebih muda dari ku. Jika usiamu lebih tua sehariiiii saja, mungkin aku akan sangat bahagia mendapat perhatian darimu.


Tersungging senyum manis di bibir Vina


Tama pun sadar, dirinya telah diperhatikan oleh gadis disampingnya sedari tadi. Tanpa menoleh, Tama menggenggam tangan Vina.


Tak ada penolakan. Mungkin Vina masih asik dengan dunia khayalannya.


Tak masalah bagi Tama. Karena itu lebih baik, karena jika Vina sadar maka sebuah bogem mentah bisa dipastikan bersarang di wajah gantengnya.


Setelah beberapa saat, Vina pun sadar. Ini bukan jalan ke rumahnya.


"Lo mau bawa gue kemana adek kecil??" Vina sedikit sewot mendapati mobil yang ia kendarai bersama Tama berlawanan arah menuju rumahnya.


"Ada yang mau aku omongin."


Tersirat sedikit kesedihan di raut wajah Tama.


Tak biasanya bocah ini menampakkan wajah sedih kepadanya. Seberat apakah masalah yang ia hadapi?


Vina memutuskan diam saja dan menuruti kemauan Tama.


Tiba di sebuah taman bunga, Tama mengajak Vina turun menuju sebuah bangku di pinggir pohon besar.


Romantis juga ni bocah, tapi perasaan gue nggak enak. Nggak biasanya dia kayak kucing rumahan. Nurut banget...


Tama mengajak Vina duduk di bangku taman itu.


"My Sweety...... Maafin aku ya..."


Ucapan Tama terpotong, namun Vina tak menyambung dengan pertanyaan. Vina membiarkan Tama menyelesaikan kalimatnya.


"Tolong jangan benci aku."


Vina semakin jengkel dengan kata Tama yang tidak ia mengerti.


"Dari tadi lo minta maaf, trus sekarang bilang gue jangan marah..... Emang ada apa?" Vina sudah tidak tahan dengan luapan amarahnya.


"Kamu harus maafin aku dulu..." Kali ini Tama benar-benar serius


"Tunggu, lo nggak sakit parah dan besok mati kan? Lo nggak kelilit utang sampe harus di penjara kan?? Atau lo maling pakaian dalam tetangga??"


"Bukan itu....."


"Udah gue maafin sebelum lo minta maaf. Dan maaf buat apa? Emang lo ngerasa punya salah??" Kali ini Vina lebih tenang, lebih lembut.


Karena melihat Tama yang nampak sedih.


"Janji kamu tidak akan marah padaku??" Kembali Tama Menanyakan pertanyaan yang sama.


"Gue meskipun nggak suka, tapi gue nggak marah..."


"Jaga hati kamu hanya untuk ku. Jangan kamu berikan kepada pria lain. Jangan pernah kamu ijinkan pria lain untuk merayumu. Hanya aku yang boleh bersikap manis padamu, hanya aku yang boleh manja kepadamu. Dan hanya aku yang boleh mencintai wonder girl ini .." Tama diam setelah berbicara lumayan panjang.


"Maaf, hari ini aku harus balik ke Indonesia. Aku akan bersekolah disana....." Ucap Tama pelan


"Kalo lo mau sekolah di Indonesia kenapa lo balik lagi kesini? Keluarga lo mampu ngurus pindah sekolah tanpa lo disini. Lo mau pamer kalo lo bisa bebas bolak balik Inggris Indonesia semau lo???!!!!!" Vina berteriak sangat kesal mendengar ucapan Tama.


Tak dapat ditahan lagi tangisnya.


Tanpa banyak kata Tama memeluk Vina dengan lembut. Mengusap kepalanya, dan sesekali mengecupnya.


"Kalau aku sanggup mungkin akan seperti itu. Tapi aku tidak sanggup jika harus pergi tanpa salam perpisahan dari mu. Aku tidak sanggup jika harus pergi tanpa melihat senyum manis mu...." Ucapan Tama lumayan bisa membuat Vina semakin terisak.


Terasa sakit di dada Vina. Saat dia sudah mulai mencoba untuk menerima perlakuan Tama. Malah dengan gampangnya bocah ini meninggalkannya.


Saat Vina tidak peduli dengan usia mereka. Walau masih anak SMP, itu cukup dalam. Dan membuat hati sangat sesak.


"Bisakah kamu memenuhi keinginanku my Sweety??" Tama mendongakkan kepala Vina dengan tangannya dan pengecup pipi gadis itu.


Sebuah anggukan yang terasa berat, terpaksa dilakukan Vina.


"Kapan berangkat?"


"Lusa... Karena aku ingin besok seharian menghabiskan waktu bersamamu. Awalnya aku ragu. Takut kamu menolak, karena biasanya kamu akan memaki atau memukulku. Tapi aku sangat senang, kamu mau tersenyum untukku."


Keduanya beranjak dari bangku taman menuju mobil yang masih setia menunggu keduanya.


Vina dan Tama memasuki mobil dan menuju rumah Vina.


Di perjalanan tidak ada sepatah kata pun keluar dari keduanya.


Namun tangan mereka saling menggenggam erat. Seakan tak ingin berpisah walau sesaat.


Ingat Vina, lo masih muda banget. Jangan bertingkah seolah dunia runtuh tanpa si tengil Tama.


Vina berusaha menenangkan hatinya sendiri. Mencoba menepis rasa yang baru saja ia sadari.


Begitu sampai di rumah Vina, Tama ikut mengantar kedalam dan hendak berpamitan dengan Kirana, Aditya juga Vian.


Vina tidak ikut ngobrol disana, melainkan segera berlari ke kamarnya. Menuju kamar mandi dan mengguyur badannya dengan shower. Tangisnya pecah, tak ada yang mendengar Jeritan hatinya. Selain Vian.


Vian yang tengah duduk di ruang tamu, mukanya berubah menjadi masam dan sedih.


Dia merasakan sakit yang dialami Vina.


"Tam, mau ke kamarku??" Vian mengajak Tama untuk ke kamarnya.


Dengan senang hati Tama menyambut ajakan Vian.


Setelah memasuki kamar Vian, Tama duduk diatas ranjang Vian.


"Tam, kamu udah tau semuanya kan?" Vian menatap Tama sambil berdiri melipat kedua tangannya.


"Iya, dan akhirnya dia mau menerimaku. Tapi justru aku sangat kejam malah meninggalkannya." Terlihat kesedihan di wajah pria yang biasanya ceria dan selalu membuat adiknya jengkel.


"Sebagai pria kamu harus tegas. Kita masih anak-anak. Jangan terbawa dengan kisah cinta monyet ini. Tenang saja, Vina aku yang akan urus disini. Besok silahkan kalian habiskan waktu seharian untuk kencan...."


Vian terlihat sangat bijaksana sekali, dan itu membuat Tama semakin tenang meninggalkan Vina.


"Tentu, besok aku akan menikmati hari hanya berdua dengan Vina. Dan Terimakasih sudah diperbolehkan menginap disini. Terima kasih selalu menjadi pembimbingku. Terima kasih sudah mau memaafkan ku..."


Sungguh perbincangan dua bocah yang masih labil namun mampu membuat kedua orangtua Vian tersentuh. Sedari tadi Kirana dan Aditya mendengar percakapan mereka.


Aditya pun mengajak Kirana untuk kembali ke kamar mereka. Membiarkan kedua jejaka itu berbincang.


Sedangkan Vina masih berada dalam guyuran air shower masih mengenakan seragamnya. Menyesali kebodohannya. Menyesali keangkuhannya. Merutuki dirinya sendiri yang terlalu naif. Harusnya dia memaafkan Tama jauh sebelum hari ini.