
Semenjak ledakan malam itu, aura gelap dari tubuh Tama menghilang secara perlahan. Ternyata setelah penyelidikan yang dilakukan kakek. Penyebab ledakan itu adalah upaya Tama untuk menghancurkan Barier yang Aditya dan Kirana ciptakan untuk melindungi tempat tinggal mereka.
Saat itu Si kembar masih kecil, namun tidak bisa dibodohi. Mereka tau dengan cepat ledakan apa itu. Beberapa tahun setelah ledakan, Aditya memutuskan mencari rumah baru yang lebih besar dengan halaman luas. Sehingga dia bisa membangun fasilitas kesehatan, labiratorium maupun Gym untuk kedua anaknya.
Meski pengaruh kegelapan pada diri Tama melemah, namun tekadnya untuk mendapatkan kekuatan Vina dan Vian untuk dirinya sendiri tidak pernah surut. Justru semakin gencar yang malah mengakibatkannya terluka parah. Dan harus dirawat secara intensif agar cepat pulih.
Saat pulih justru perubahan pada sikap Tama yang tidak seperti dulu membuat Vina semakin membencinya. Memang Tama sudah tidak lagi memiliki kemampuan khusus. Tapi malah otaknya yang bermasalah.
Semenjak dirinya pulih dari insiden yang dia ciptakan sendiri, Tama malah menjadi terobsesi dengan Vina. Bahkan lebih posesif dibandingkan Vian kakaknya.
Kemana pun Vina pergi, Tama selalu ada walau tidak terlalu dekat. Seolah Tama menjaganya dari jauh tanpa harus berada disampingnya.
Kejadian itu berlangsung beberapa tahun hingga Vina memasuki Sekolah Menengah Pertama. Vian memang tidak dapat dipisahkan dari adik perempuannya itu. Namun kali ini, pertama kalinya keduanya berbeda kelas. Vina selalu uring-uringan tanpa Vian disampingnya. Meski ada beberapa sahabatnya itu tidak membuat dia tenang.
Kekesalan Vina semakin menjadi kala melihat Tama memasuki ruangan kelas yang sama dengannya. Dan yang lebih menjengkelkan lagi, Tama memilih duduk disamping Vina. Meski diusir anak itu tidak bergeming..
"Eh bocah!!! Lo bisa kan pindah duduknya? Selama ini gue diem aja dengan tingkah konyol lo!" Dengan penuh emosi Vina memaki Tama habis-habisan
Yang dimaki hanya tersenyum bahagia, What!!! Bahagia?
"Akhirnya kamu ngomong juga sama aku ya my honey!" Ucapnya dengan senyum manis andalannya.
Biasanya senyuman itu bisa menarik ribut gadis agar tidak memalingkan pandangannya. Namun berbeda dengan Vina, tatapan marah juga wajah kesal yang ada.
"Hey bocah! Nggak usah sok akrab. Lo nggak ingat....." Vina menghentikan kata-katanya. Dia tidak mau keceplosan membahas masa lalunya.
Lo nggak ingat seberapa inginnya lo menghabisi gue sama kakak gue? Seberapa inginnya lo gue lenyap! Hah percuma saja. Sikap jahatnya hilang bersama kegelapan itu. Diganti dengan sikap menyebalkannya ini. Sumpah, salah apa aku dimasa lalu.
Vina tak mlanjutkan makiannya, dia hanya terduduk menahan amarah.
"My sweety Vina. Kamu kalau seperti itu membuatku semakin jatuh cinta padamu..." Tama yang melihat Vina sedikit melunak, mulai merayu Vina.
"What!!!! Jatuh cinta sama brondong? Anak kemaren sore yang tengil?? Ingat! Lo lebih pantas sama anak SD!" Vina sangat kesal dengan Tama yang seenaknya saja saat bicara.
"Aduh baby....kita ini seumuran. Hanya saja kamu lahir setahun mendahului aku. Harusnya aku dulu! Kamu yang kecepatan lahir kedunia ini. Apakah kamu tidak sabar ingin bermain denganku waktu bayi dulu???" Dengan mata maka Tama selalu menggoda Vina seperti saat ini
"Please!!! Jangan panggil gue B A B Y ....gue bukan bayi. Dan gue nggak kecepetan lahir. Lo yang lambat tumbuh di rahim mama lo!" Vina meninggalkan Tama diikuti ketiga sahabatnya.
Kalai Vina berada di kelas lama-lama bisa gila dia.
"Gimana kalo kita bolos???" Joan mengusulkan agar mereka main. Namun wajah Vina semakin muram dengan usulan sahabatnya itu
"Demi apa Jo??? Lo mau gue dihukum abang gara-gara bolos? Lo mau bikin sekolah heboh karena nggak ada gue saat pulang nanti?" Vina terlihat putus asa
Sungguh, dia sangat ingin bolos seperti usulan Joan. Tapi dia tak mau mati konyol mendapat ceramah bahkan hukuman dari Vian.
Meski mereka hanya berbeda beberapa menit saat lahir, tak dapat dipungkiri jika Vian lebih tua. Bahkan jika Vian bukan kembarannya, bisa dikatakan Vian dan Tama mereka duo nyebelin.
Vina pulang bersama Vian, tak luput dari ulah Tama yang membuat Vina merinding.
"Bang, bisa nggak abang usahain buat adek sekelas lagi sama abang?" Tampang Vina sangat memelas sekali kala itu
"Kenapa? Kan disana ada Tama yang jagain kamu." Jawab Vian datar sambil menatap laptopnya tanpa menoleh sedikit pun
"Tama??? Justru itu yang adek mau. Karena ada Tama, adek pengen pindah kelas... Kita manipulasi ingatan kepala sekolah. Biar kita bisa sekelas lagi..." Vina merengek sambil menarik lengan baju Vian yang masih tak bergeming.
"Ingat dek! Semenjak Tama tidak bisa apa-apa. Kekuatan kita dikunci kecuali kemampuan fisik kita. Kita tidak boleh sembarangan bermain dengan pikiran orang lain." Mendengar usul konyol Vina. Vian menutup paksa laptopnya. Dia harus menunda kerjaannya.
"Kenapa sih musti dikunci segala??? Kakek buyut mana nggak ngijinin kita ikut ke Indonesia malah di suruh disini. Mama Papa juga nurut aja. Apa mereka nggak pengen pulang ke Indonesia???"
"STOP VINA!! "
Bentakan Vian membuat seisi mobil ketakutan. Termasuk Vina yang menjadi kaku, takut kakaknya ngamuk dan lepas kendali.
Bagaimana pun juga Vina tak suka dengan adanya Tama di dekatnya. Harusnya kakaknya khawatir Tama berada sedekat itu dengan Vina. Apakah Vian tidak khawatir jika Tama punya niat tersembunyi?
Setidaknya itu yang ada dipikiran Vina.
"Maaf... " Kembali Vina diam dengan wajah tertunduk.
Hingga tiba di rumah, keduanya masih diam.
"Welcome duo kesayangan mama...." Kirana menyambut kedua anaknya yang terlihat dingin sepulang sekolah.
"I miss you ma" Vian dengan manjanya memeluk Kirana.
Sikap dinginnya berubah drastis di depan mamanya. Dan itu membuat Vina semakin kesal.
Hah???!!! Lagi? Disaat kayak gini malah ngajak ribut? Berubah sok manis di depan mama. Dikira aku akan diam saja dia berbuat seperti itu??
"Maaaa, asek capek. Lapar...." Ucap Vina manja sambil mengelus perutnya.
Senyum lebar dibibir Kirana, dia tau. Kedua anaknya sedang berebut perhatiannya. Sikap mereka yang seperti ini tidak hilang walau keduanya telah remaja.
"Ups.... Princess mama lapar???? Ayo kita makan siang dulu. Tapi kalian harus ganti baju baru kita makan. Oke?"
"Oke!!" Kedua kompak menjawab mamanya.
Saat berjalan menuju kamar masing-masing kembali suasana jadi dingin. Vian melirik sebentar lalu tersenyum sebelum masuk ke kamarnya. Sedangkan Vina langsung masuk tak peduli dengan kakaknya yang memperhatikan kekesalan dirinya dari tadi.
Vian sebenarnya memperhatikan Vina, hanya saja tak ingin Vina manja. Dengan sikap Tama yang posesif, setidaknya Vian bisa tenang jika harus meninggalkan Vina saat ada kerjaan yang harus diurus.
Setidaknya Tama bisa diandalkan.