Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 50



Hari ini sudah dipastikan bahwa Tama sudah bertolak ke Indonesia.


Vina melebarkan senyumnya menyambut pagi ini.


"Mulai hari ini, harus terbiasa tanpa Tama. Gue disini bisa tegar dengan atau tanpa Tama."


Vina berjalan penuh percaya diri memasuki kelasnya, disambut oleh ketiga sahabatnya.


"Vin! Lo tau nggak???? Musuh lo Tama katanya hari ini bakal balik kandang..." Lily terlihat antusias menceritakan gosip terbaru di sekolahnya.


Sedangkan Vina hanya diam saja, acuh tak acuh. Seakan tidak perduli.


"Iya,,, Tapi nggak apa lah. Masih ada abang lo. Setidaknya kemarin kita udah ditraktir Tama...." Prisil pun bergabung dan duduk di samping Vina.


"Gue bisa balik lagi dong....." Joan segera memindahkan tasnya dengan girang.


Vina berusaha tertawa gembira menutupi kekecewaannya.


*Memang artis lo ya dek* Vian melihat adiknya dari jendela dan hanya dibalas dengan senyum kecut dari Vina.


Pelajaran sudah dimulai, keempat gadis remaja itu selalu saja membuat keributan.


Untung saja nilai mereka bagus, sehingga para guru tidak mempermasalahkannya.


Hari hari berjalan seperti biasa, Vina mulai terbiasa tanpa kehadiran Tama hingga kelulusannya.


Vina dan ketiga sahabatnya memilih sekolah yang sama sekali lagi. Keempatnya sangat mudah masuk ke sekolah yang baru karena memang Mereka punya kemampuan lain di luar akademis sebagai pendukung.


Vina yang selalu menjuarai lomba musik, maupun olahraga. Juga lomba debat bahasa asing.


Joan yang memang seorang balerina.


Prisilia yang seorang atlet beladiri jepang.


Sedangkan Lily sangat ahli dalam permainan catur juga.


Keempat gadis itu memasuki sekolah paling bergengsi di Inggris.


Sedangkan Vian memilih sekolah khusus sains juga iptek


Untuk pertama kalinya Vina dan Vian berbeda sekolah. Vina tak lagi merengek agar satu sekolah apalagi satu kelas dengan Vian


Kehidupan remaja yang penuh warna baru saja mereka mulai.


Empat gadis yang cantik dan berbakat. Berita itu sudah menyebar di sekolah baru mereka.


"Vin, apakah kita sekelas?" Joan menyenggol Vina yang sedang asik memainkan handphone nya.


"No..."


"Ini dua bocah berisik itu kemana sih????" Joan celingak celinguk mencari Prisil juga Lily.


"Udah, nggak usah nyariin. Mereka lagi ikut kejuaraan mewakili sekolah baru kita. khusu olah raga..." Vina masih menatap serius ke handphone nya sembari bicara panjang lebar.


"Kok lo nggak???" Tanya Joan. Karena ia tahu bahwa sahabatnya itu gila olahraga. Semua olahraga tidak ada yang tidak dikuasai oleh Vina.


Dan juga tidak ada alat musik yang tidak bisa dimainkan oleh gadis ajaib disampingnya.


Joan selalu mendengat Tama dulu sering menyebutnya Wonder Girl


Karena memang Vina adalah gadis kuat dan tak bisa diremehkan.


"Lo nggak seneng di sekolah cuma berdua ama gue??" Vina menghentikan aktivitas nya menatap Joan yang menunduk.


Entah apa yang dipikirin oleh Joan.


"Tentu tidak baby.... aku malah bersyukur kamu tidak ikut mereka. Kalau kamu ikut aku bagaimana???" Joan menatap Vina penuh cinta..


"Iyewww jangan ketularan bocah tengil itu. Jangan panggil gue Baby!!!! Jijik dengernya..." Vina bergidik mengucapkan kata-katanya. meski terlihat tidak suka. Sesungguhnya Vina sangat sakit jika mengingat Tama.


Mungkin bisa dibilang cinta monyet, tapi justru kisah konyol seperti itu yang selalu teringat


Bener-bener deh, Tama lagi. Kenapa setelah sekian tahun Joan mengungkit soal Tama. Mungkin dia disana sudah berkencan dengan ribuan gadis.


Joan dan Vina yang masih duduk dibangku taman enggan beranjak dari sana. Padahal sudah hampir waktunya kelas dimulai.


"Vin... Kita ke kelas yuk..." Joan menarik Vina meninggalkan taman. Keduanya berpisah menuju kelas masing-masing.


Vina duduk dipojokan paling belakang. Baginya tidak ada bedanya mau duduk dimana, toh semua pelajaran sudah ia kuasai. Bisa dibilang Vina kesekolah hanya untuk bermain.


"Haiii,,, Boleh duduk disini?" Seseorang duduk disebelah Vina.


Tanpa ada respon dari Vina.


Seorang pria tampan duduk disampingnya. Vina tidak perduli dengan siapa dia akan duduk, karena bagi Vina itu tidak penting


Ciihhh dia diam saja, dan berani mengacuhkanku...


Pria disamping Vina pun mengeluarkan bukunya untuk mengikuti pelajaran hari ini.


Merasa diabaikan oleh muridnya, Miss Victoria melempar spidol kearah Vina.


Vina kaget mendapat serangan tiba-tiba. Dia langsung beranjak dari duduknya dan memasang kuda-kuda.


Berhak-jaga jika ada orang jahat menyerangnya


Kontan seisi kelas tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Vina


Sedangkan Vina yang langsung sadar dengan apa yang dia lakukan duduk kembali tanpa peduli dengan tawa mereka.


"Nona Vina!!!!! Pahamkah anda apa yang saya terangkan di papan tulis ini???" Miss Victoria terlihat murka sambil menunjuk tulisan nya di whiteboard.


Setelah membaca beberapa kalimat di sana, Vina dengan lantang mengulang dari awal dan menjelaskan lebih rinci pelajaran tadi.


Dan penjelasan Vina malah mudah dimengerti oleh teman temannya.


Semua teman sekelasnya tampak takjub menyaksikan Vina yang dengan lancar menjelaskan mata pelajaran Miss Victoria.


Padahal mereka tahu bahwa Vina dari tadi hanya melamun, tidak membuka buku juga tidak menyimak.


Miss Victoria bukannya senang malah semakin murka.


"Kamu pikir meski kamu pintar kamu bisa mengabaikan saya di jam pelajaran saya??'' Miss Victoria terlihat sangat marah.


Vina pun tak perduli dengan ucapan guru nya. Sikap Vina mulai dingin seperti dulu lagi. Semakin cuek, tidak pernah memperhatikan pelajaran dan selalu terlihat murung.


Pria disamping Vina, memperhatikan mimik wajah Vina dari tadi. Dia terpana, terpesona, kagum dan tidak menyangka bahwa gadis disampingnya sungguh luar biasa


Saat jam istirahat tiba, Vina segera meninggalkan kelas tanpa perduli dengan obrolan teman sekelasnya yang membicarakannya.


Ada yang memuji, ada yang mencibir, ada lupa yang masa bodoh.


Banyak sekali yang mencibir Vina, menganggap Vina mencari sensasi dengan melawan miss Victoria.


Tidak sedikit pula yang kagum padanya.


"Jo,, kita makan ok!" Vina menghampiri Joan yang telah menunggunya di depan kelas Joan.


Melihat sahabatnya sudah datang Joan berlari lalu menggandeng lengan Vina.


"Haiii girls.... Mau kemana?" Goda beberapa siswa laki-laki disana.


"Wuuhhh sungguh sexy sekali mereka. Apakah keduanya masih Virgin???" Salah seorang murid laki-laki mulai menyinggung hal sensitif bagi wanita.


Vina masih tidak perduli.


Hahahahaha


"Mana mungkin masih Virgin. Gadis macam mereka berdua pasti sudah jebol.." Sahut salah seorang anak laki-laki yang menyindirnya


Kalian mencari masalah dengan orang yang salah


Vina sudah tidak tahan dengan makian anak-anak itu


Dengan tatapan membunuh, Vina menghampiri kumpulan anak laki-laki yang menghinanya.


Tanpa permisi Vina menghajar mereka tanpa ampun.


Joan yang melihat itu segera menarik Vina, sebelum mereka mati.


"Come on Vin. Jangan ladenin mereka. Hidup mereka tidak penting buat kita" Ucapan Joan memang benar.


Untung saja Joan tepat waktu sebelum Vina lepas kendali. Bisa berurusan dengan hukum jika telat sekian detik.


Wajah Vina masih terlihat sangat emosi.


Dari kejauhan sepasang mata mengawasi Vina "Tidak mengecewakan. Sungguh gadiaku."