
Malam ini, didalam kamar. Vina menatap langit-langit kamarnya yang dibuat menyerupai indahnya malam.
Bertabur bintang, seindah angkasa di luar sana. Keindahan malam di kamar Vina tidak lepas dari rancangan Vian kakaknya.
Setidaknya itu bisa mengurangi rasa kalutnya kala itu. Masa dimana dia harus merelakan orang yang sudah merenggut hatinya. Meski terlambat namun indah.
Sehari Vina merasakan indahnya bersama Tama, tanpa ada kebencian. Vina belakangan mencoba mengasah kemampuannya menggerakkan barang dari jauh.
Dipusatkan pikirannya pada sebuah bunga plastik dimejanya, perlahan bunga itu melayang. Menari dibawah langit buatan di kamar Vina.
Tidak lama hal itu terjadi.
Praakkk
Bunga plastik yang tadinya melayang terjatuh cukup keras. Dan seketika tubuh Vina lumayan lemas.
Semenjak kepergian Tama, Vina terlalu sibuk melupakan bocah gila itu.
Namun semakin ia mencoba melupakan, maka Tama akan semakin sering hadir di mimpinya.
Meski hanya lewat mimpi, setidaknya bisa menenangkan hatinya.
Mungkin jika ketiga sahabatnya tau kenyataan ini, Vina akan sangat malu.
Vina tengah asik dengan dunia gilanya, karena terlalu mengagungkan bocah yang tak pernah memberinya kabar semenjak kepergiannya.
Hingga akhirnya Vina terlelap dengan sendirinya.
®®®
Kirana tengah menunggu kepulangan Aditya, belakangan ini Aditya terlalu sibuk hanya untuk makan malam bersama kedua anaknya.
Tentu saja Aditya sangat sibuk, dengan adanya Virus yang mewabah belakangan ini. Dan rumah sakitnya menjadi tempat perawatan bagi pasien penderita terduga virus itu.
Aditya sempat berpikir untuk mengajak Vian juga Vina untuk membantunya. Namun diurungkannya karena dia tidak ingin membuka penyegelan kekuatan keduanya.
Karena jika dibuka, itu akan mengundang iblis itu kembali lagi. Dan mungkin saat ini iblis itu tengah mengembangkan kekuatannya untuk menghancurkan keluarganya.
Aditya temenung di ruang kerjanya, Kirana memasuki ruang kerja suaminya lalu menaruh jahe madu hangat di meja.
Kirana duduk disamping Aditya, melihat suaminya tampak gelisah. Ia mencoba menanyakan keadaan suaminya.
"Sayang.... Apakah terlalu berat belakangan ini?" Kirana memijat lembut pundak suaminya agar lebih rileks.
Tangan Aditya memegang tangan istrinya, dan menatap wajah sang istri kemudian mengecup punggung tangan perempuan yang amat dicintainya itu
"Maaf ya sayang...." Dengan mata nanar Aditya menatap istrinya.
"Tenanglah, ini semua demi anak kita."
Kirana tau beban berat apa yang dipikul suaminya. Meski tanpa ijin telah memasuki alam pikiran suaminya.
Aditya hanya tersenyum, karena memang dia telah mengijinkan istrinya untuk melakukan hal itu jika dirinya terlihat mengkhawatirkan.
"Tidak adakah cara lain? Virus itu sengaja dia ciptakan untuk memancing kedua anak kita..." Kirana juga sedikit khawatir akan hal itu.
"Sayang, apakah kakek juga menghubungi mu?" Tiba-tiba Aditya menanyakan hal itu.
"Mungkin belum, tapi jika itu yang terbaik. Maka kita harus segera kembali." Kirana menatap jauh ke depan tanpa berkedip.
"Anak-anak kita masih kelas 1 SMA, apakah tidak masalah membawa mereka kembali ke Indonesia?" Aditya merasa bimbang
"Disini sudah tidak aman lagi. Jadi mau tidak mau kita harus kembali sesuai perintah kakek." Kembali Aditya mencium punggung tangan istrinya.
Ini memang berat, sudah belasan tahun keduanya meninggalkan tanah air. Mungkin dengan kepergian mereka maka wabah virus itu akan hilang dengan sendirinya.
"Masuklah!!" Aditya menatap ke arah pintu menunggu masuknya orang di luar.
Kirana pun menatap ke arah yang sama dengan Aditya.
Vian berjalan dengan tubuh tegap tanpa takut. Jika itu anak lain, mungkin akan bergetar ketakutan jika ketahuan menguping pembicaraan orang dewasa.
"Pa, Ma. Apakah seburuk itu jika kami membuka belenggu ini?" Vian nampak serius dengan ucapannya.
Perilaku Vian tidak mencerminkan anak seusianya. Dia terlihat lebih dewasa dibandingkan tampangnya.
"Kamu dengar sendiri kan? Dan yang membuat kami khawatir tentunya adikmu. Dia lah yang diincarnya. Semuanya menjadi semakin bahaya karena kalian keturunan kami. Maafkan kami yaa...." Aditya terlihat putus asa dan kacau.
"Apakah rencana kita sejauh ini berhasil?" Aditya menatap tajam kearah Vian
"Sepertinya belum ada pergerakan. Semenjak kejadian Tama, kelihatannya mereka lebih berhati-hati."
Ketegangan di ruang kerja Aditya semakin parah saat ada pesan masuk ke ponsel Vian.
"Ada apa Nak?" Kirana khawatir dengan perubahan mimik Vian
"Vina melakukannya lagi."
"Apakah kamu sudah memperingatkan adikmu?"
"Sudah Ma. Sepertinya emosinya kembali labil.."
"Ya sudah, jangan sampai dia curiga."
®®®
Keesokan paginya, Vina kembali ceria. Setidaknya setelah tenaganya terkuras semalam. Memaksakan kemampuannya dapat menguras energi di tubuhnya.
"Hy baby!!!" Joan berhasil mengagetkan Vina yang tengah melamun.
"Please!!!! Jangan panggil gue B A B Y!!!!"
Hahahaha
"Teringat si tengil???" Goda Joan
Vina semakin emosi mendengar Joan membahas Tama lagi.
Bukan permintaan maaf, tapi justru tawa yang ia dapatkan.
"Sepertinya Lucas itu, serius padamu." Joan menunjuk kearah yang dimaksud.
Vina pun mengikuti jari telunjuk Joan.
Dari parkiran, Lucas mendekat dengan membawa bunga juga coklat.
Tanpa ada ragu, Lucas melangkah mendekati Vina dan juga Joan.
Lucas tidak perduli dengan teriakan para gadis disekitarnya.
Pandangan Lucas hanya tertuju pada satu titik. Yaitu Vina.
Setelah dekat, Lucas menyerahkan buket bunga yang ia bawa juga coklat di tangannya.
"Morning Baby Vina....Terimalah ini...." Lucas menatap Vina tajam.
Hattcchhhhiii
Bukan rasa haru yang ia dapat, tapi justru makian.
"Kenapa sih pagi ini gue denger kata BABY lebih dari sekali. Dan ini!!! Kamu kalau mau
Hatctcchhhhhiiiii
ngerayu cari tau dulu. orang itu suka apa!!!! Jangan main
Hattcchhhiiiii
Joan mendekati Lucas dan merebut bunga di tangannya lalu melempar bunga itu jauh.
"Thakyou honey." Wajah Vina kembali lega setelah benda terkutuk itu dibuang oleh Joan.