Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 11



Saat alarm berbunyi jam 5 subuh, Kirana sedikit malas benranjak dari tempat tidurnya. Ia harus bergegas karena jam 7 sudah mulai absen bagi dokter magang. Seusai mandi, Kirana memperhatikan rambutnya yang sudah memanjang di cermin, ternyata lumayan lama ia membiarkan rambutnya tidak terawat. Telah ia putuskan, pulang dari Rumah Sakit akan ke salon. Bagaimana pun semua perawat disana sangat pandai merawat diri, mereka cantik. Kirana tak ingin Aditya tergoda oleh salah satu dari mereka.


Setelah ia berani mengungkapkan perasaannya dengan jujur, dia bertekad tak kan membiarkan apa pun merenggut kebahagiaannya. Karena dia harus membuktikan bahwa dia bahagia dengan pilihannya, dan pernikahan bisnis itu bisa dibatalkan.


Dirasa cukup, Kirana menuju meja makan untuk sarapan. Ia mulai memberanikan diri menghadapi ketakutannya, bukan malah menghindari sejauh mungkin. Kasihan asisten rumah tangga yang sudah lelah menyiapkan makan untuk nya. Telah ia putuskan ia akan menikmati masa kuliahnya. Pekerjaan di kafe telah ia tinggalkan untuk sementara waktu agar fokus untuk magang. Karena jadwal magang tidak dapat ia jamin bakal mudah.


Usai menyantap makanannya, Kirana beranjak dari meja makan berpamitan kepada pelayan di rumah itu. Dan berjalan sedikit santai keluar rumah. Asisten rumah tangganya merasa sedikit bahagia melihat perubahan sikap majikannya itu.Kirana sudah kembali pada dirinya seperti dahulu, tepat sebelum orang tuanya bercerai. Setelah ia tau alasan mereka bercerai hatinya merasa lega, dan mendukung keputusan orang tuanya. Bagaimana pun keadaannya, meski terpisah mereka tetap orang tua Kirana.


®®®


Aditya bersiap akan mengantar kekasihnya ke Rumah Sakit. Meski jadwalnya sore, ia tak peduli. Aditya sudah komitmen akan mengantar kemana pun Kirana pergi.


Dengan perasaan gembira Aditya mengarahkan motornya ke rumah Kirana. Saat sampai di depan rumah Kirana, gadis itu sudah siap. Dan WOWW dia terlihat segar, manis, cantik. Wajahnya terlihat lebih ceria dibandingkan sebelumnya. Bisa dikatakan baru kali ini Aditya melihat Kirana secantik ini.


"Mau kondangan Yang?" Ledek Aditya


"Maunya di kondangin..."


Jiaaaaa dia ngelawak.


"Udah siap abang halalin dek?"


"Dengan senang hati. " jawab Kirana dengan senyum manisnya


"Kok cantik banget sih Yang? Mentang-mentang kita nggak bareng jadwalnya.."Gerutu Aditya sedikit memonyongkan mulutnya. Bikin gemas siapa pun yang melihatnya. Sikap manjanya itu baru Kirana sadari setelah sekian lama.


"Aku nggak mau kalah sama perawat yang kemarin godain kamu. "Sahut Kirana sedikit malu.


Ternyata bicara sesuai isi hati sungguh melegakan.


Wajah Kirana terlihat sedikit menahan rasa kesal mengingat kejadian kemarin sore.


"Jadi kamu cemburu nih???" Goda Aditya


"Iya lah.... Aku takut kehilangan"


"Hati abang meleleh dek....." ucap Aditya masih tak percaya


Begitu senangnya mendapat pengakuan Kirana semenjak semalam.


Saat tiba di Rumah Sakit, Kirana segera turun dan hendak meninggalkan Aditya. Segera terhenti karena tangannya terasa ada yang menahan. Benar saja, Aditya menarik lengannya pelan, meski tak membuatnya jatuh. Namun bisa menghentikan langkahnya.


"Ada yang ketinggalan....."Sambil memegang pipinya dan tersenyum


"Apaan sih! Malu tau...." Protes Kirana menghadapi tingkah Aditya


"Dikit doang,"


"Nggak ah malu..." Kirana memalingkan wajahnya. Karena permintaan Aditya memang membuatnya salah tingkah


"Oke!" Sembari melayangkan ciuman ringan di pipi Kirana.


Blusshh pipi Kirana langsung memerah. Pasalnya ini benar-benar pengalaman pertama baginya.


Masih mematung di parkiran, Aditya menyadarkan Kirana hendak berpamitan kemudian berlalu.


Gila, berani banget tu orang. Main sosor aja, kan malu...


Gerutu Kirana sambil berjalan ke arah ruangan dokter untuk istirahat sejenak. Karena bagaimana pun serangan tiba-tiba dari Aditya sungguh membuatnya lemas karena jantungan.


Mencari air putih karena memang tenggorokan nya berasa kering.


Saat menuangkan air dari dispenser punggungnya terasa sedikit panas. Seperti ada bara api siap menyengat punggungnya. Dan benar saja, ada sepasang mata yang sedari tadi memperhatikannya.


®®®


Aditya cengar cengir sendiri di depan tivi. Tak luput dari perhatian sang ibu, tak biasanya anaknya seperti itu. Senyum-senyum sendiri, memegang bibir


Astaghfirullah,


"Nak! Ada apa?" Tanya ibunya lirih


"Nggak papa mak,"


Hahahahahah


"Iya mak kejedot tembok, tapi temboknya mulus. Jadi nggak sakit." Jawab Aditya enteng


Ibunya masih tak paham dengan kelakuan anak bujangnya. Mengkhawatirkan, apakah kejiwaan anaknya terganggu semenjak kecelakaan itu?? Ibunya mengerutkan keningnya, mengkhawatirkan kondisi putra sulungnya.


Memang belakang ini putranya sering senyum-senyum sendiri dan terlihat beda dari biasanya.


Semoga saja Aditya tidak kenapa-napa.


Meninggalkan putranya yang masih dalam kondisi mengkhawatirkan duduk santai di depan tivi.


®®®


Sudah siang, dan Aditya masih berada di depan tivi sambil remahan di sofa. Rumah Aditya memang sengaja hanya ada satu televisi, agar ada alasan bagi keluarga kecil itu untuk berkumpul. Adelia berlari masuk kekamar setelah mengucapkan salam.


Namun langkahnya terhenti saat melihat abangnya berada di rumah. Sedikit pelan langkahnya mendekati kakak tercintanya dan


YAAAAAAAA


Aditya terkaget sampai loncat dan reflek memasang kuda-kuda siap untuk bertarung, yang hanya disambut tawa oleh adiknya yang mungil itu. Puas menggoda kakaknya, Kirana segera berlari ke kamarnya menghindari amukan sang kakak.


Untung gue gesit, lengah dikit buyar rambut cantik gue.....


Hahahaha


Tawa Adelia kembali pecah kala ingat kejadian di ruang keluarga barusan.


"Dek!...." Tidak ada sahutan dari kamar Adelia.


"Dek! Keluar kita makan!" Sekali lagi memanggil adiknya dan menunggu sang adik keluar kamarnya


"Iya bentar, lagi ganti baju..."


Ceklek, suara pintu dibuka dari arah dalam kamar.


Aaawwwwww


Suara kesakitan Adelia saat mendapat jeweran ditelinganya, meski tidak sakit tapi malu juga.


"Ini hukuman buat adek yang nakal" Singkat Aditya


"Iya maaf bang, dikit doang ini isengnya..." Gerutu Adelia


Setelah melepas jeweran ditelinga adiknya berganti Aditya merangkul adiknya menuju ruang makan, mengambilkan makanan untuk adiknya dan ibunya. Tak sadar bahwa dua pasang mata mengawasi gerak-gerik Aditya yang tak wajar. Dan menurut mereka bukan Aditya banget.


Sadar dirinya diperhatian Aditya hanya tersenyum


"Nih makan yang banyak biar cepet gede..." ucap Aditya sambil menyerahkan piring berisi nas, sayur dan lauk pauk lengkap untuk adiknya


"Nah, satu lagi buat emak ku sayang, sehat selalu ya mak" Melihat tingkah putranya yang tak biasa, membuat hati ibunya sangat khawatir.


"Kalian nggak usah mikir yang aneh-aneh, ni lagi belajar cara memperlakukan istri kelak..." Jelas Aditya singkat


"Abang mau kawin?" Sahut Adelia santai


Aditya menyemburkan nasi yang ada di mulutnya karena kaget dengan ucapan gadis kecil dihadapannya, kecil bagi Aditya meski kini adiknya sudah kelas 3 SMA


"Nikah dek, bukan kawin. Ni anak kalo ngomong nggak bisa disaring dulu apa...."


"Sama aja bang." Jawab Adelia santai


"Beda adek!" Seru Aditya tak mau kalah


"Sama ihhhhh" Masih ngeyel dengan pendapatnya


"Ni anak susah bener dikasih taunya, kasian cowok yang mau jadi pacar adek." Ledek Aditya santai


"Yang jelas pacar Adelia kelak orangnya dewasa..."


Acara makan siang dirumah Aditya berlangsung penuh perdebatan kakak beradik itu. Kadang juga gelak tawa terdengar begitu bahagia.