
Seusai film diputar, seluruh penonton sibuk meninggalkan kursi tempat mereka menikmati drama romantis bersama pasangannya. Kecuali Aditya yang secara tidak sengaja ditemani adiknya yang manis ini. Aditya tidak dapat memungkiri bahwa adik kecilnya itu kini telah tumbuh dewasa, sehat dan cantik. Seperti ibunya.
Kedatangan Adelia yang tiba-tiba itu secara tak langsung telah menyelamatkannya dari sebuah kesendirian kala menonton adegan romantis disetiap scene film tadi.
Hendra bersama wanita yang datang bersamanya telah lama meninggalkan bioskop entah kapan Aditya pun tak menyadarinya.
Sial, gue kecolongan.
Bahkan adiknya pun meninggalkannya sendirian di ruangan yang kini terang dan sukses membuatnya seperti orang bodoh.
Kenapa adek gue juga malah ninggalin gue sih? Tu anak kemana lagi? Sudah hampir petang, kemana anak itu pergi?
Aditya bergegas keluar mencari sosok adiknya yang membuatnya khawatir. Pasalnya, setau Aditya adiknya itu sangat ceroboh. Dia tidak ingin adiknya melakukan hal konyol dan mengadu kepada kedua orangtuanya bahwa abangnya yang ngenes ini nonton film romantis sendirian tanpa seorang wanita disampingnya.
Aditya tak ambil pusing jika hanya teman-temannya yang memberinya predikat jomblo keren, dari pada harus diberi beribu pertanyaan mengenai alasan dia menyendiri selama ini. Belum pernah Aditya membawa wanita ke rumah hanya untuk main, apalagi dikenalkan sebagai gadis yang ia kencani.
Tak lama setelah dia kelimpungan ngedarkan pandangan diseluruh pusat perbelanjaan, dan mengecek disetiap ruko yang ada disana. Akhirnya dia menemukan adiknya sedang memilih aksesoris wanita yang serba pink itu.
"Mau beli itu dek?"
Namun adiknya itu tak menggubris karena tau siapa pemilik suara yang telah mengganggu yang sedang asyik mencari barang untuknya.
"Bang, beliin ini dong. Ntar adek nggak bakal ngadu ke emak sama bapak kalo abang nonton film romantis sendirian tanpa pacar...."Dengan santai adiknya menyodorkan beberapa barang incarannya itu ke tangan kakaknya.
Aditya tak kuasa menolaknya, karena hanya ini yang dapat membungkam mulut bawel adiknya itu. Tanpa pikir panjang Aditya membawa semua belanjaan Adelia ke kasir dan membayarnya.
Setelah selesai pembayaran, Aditya mengajak adiknya untuk pulang. Karena mereka dihubungi bapaknya agar segera pulang karena akan ada tamu untuk makan malam bersama di rumahnya malam ini.
Mereka bergegas menuju parkiran.
®®®
Sudah waktunya Kirana meninggalkan kafe tempatnya bekerja, lelah ia rasakan. Ntah kenapa ia duduk berlama-lama di bangku halte menunggu angkot. Dan ketika angkot yang ditunggu tiba bukannya ia segera naik malah membiarkannya berlalu begitu saja.
Ia tak tau kenapa ia tidak segera menaiki angkot itu, kenapa ia malah menunggu kehadiran Aditya. Secara tak langsung dia menyanggupi permintaan Aditya untuk mengantar dan menjemputnya kemana pun ia pergi. Sudah hampir satu jam Kirana menunggu, yang ditunggu tak kunjung datang. Sedikit malas Kirana melangkahkan kakinya memanggil tukang ojek. Tak butuh waktu lama baginya untuk sampai di rumah besar yang dulu ia tinggali bersama kedua orang tuanya. Dengan perasaan kosong ia melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Seluruh asisten rumah tangga memang tidak ada yang dipecat sepeninggal kedua orang tuanya. Meski pun mereka bercerai dan meninggalkannya, namun mereka tak membiarkan Kirana mengurus rumah sebesar itu sendirian.
Sebenarnya Kirana tidak perlu kerja sambilan, karena uang saku dari kedua orang tuanya sangatlah cukup untuknya bersenang-senang bersama temannya setiap hari. Namun dengan siapa? Hanya Sivia teman satu-satunya yang tak keberatan dengan dirinya yang bisa dikatakan dingin.
Kirana menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk di kamarnya. Harusnya hangat dan nyaman yang ia rasakan. Namun hanya dingin, sunyi dan membuatnya frustasi menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak punya orang tua yang selalu ada didinya setiap saat. Mereka hanya sibuk dengan urusan bisnis masing-masing.
Belum sempat ia membasuh tubuhnya, kantuk tak dapat ia tahan. Matanya terpejam meski enggan ia akui bahwa dirinya harus istirahat.
Hingga pagi menjelang, Kirana terbangun masih mengenakan baju yang sama dengan apa yang ia kenakan kemarin. Segera Kirana menuju kamar mandi yang ada di kamarnya.
Satu jam Kirana berada di kamar mandi, berendam begitu lama. Dan berharap segala rasa sakit dihatinya ikut luruh terbawa air. Dirasa cukup, Kirana mengambil handuk dan segera berpakaian hendak ke kampus. Belum sempat ia memakai baju ponselnya berdering. Dilihat layar ponsel begitu terlihat panggilan dari Si Gila, Kirana menyambar ponselnya dan menerima panggilan itu. Belum sempat mengucapkan sebuah kata suara nyaring terdengar disana.
"Ku tunggu di luar, nggak usah buru-buru...."
"Iya."
Meski Adit menyuruhnya santai tetap saja Kirana tak bisa tenang dan dengan sangat cepat bersiap diri. Kirana tak sempat sarapan karena memang ia tak ingin. Meski asisten rumah tangga sudah memasak untuknya setiap pagi siang bahkan malam. Kirana hanya sesekali menyentuhnya. Karena setiap kali ia duduk di bangku ruang makan itu, akan mengingatkan dia kepada orang tuanya. Begitu dalam luka di hatinya, tak ada seorang pun mengerti rasa sakitnya. Sebelum keluar rumah sekilas ia menata ruang makan keluarga yang dulu hangat dan penuh cinta.
"Kenapa lo jemput gue lagi, kan lo tau gue udah punya calon suami."
"Baru calon, belum suami." Jawab Aditya singkat sambil membantu Kirana memakai helm.
"Sip, kita berangkat sekarang."
Dengan sedikit malas Kirana naik ke jok belakang motor Aditya. Motor melaju cukup pelan, entah apa yang dilakukan Aditya. Kenapa ia tidak segera menuju ke kampus dan malah santai saja. Apakah Aditya tak tau kalau Kirana benar-benar lapar? Cacing di perutnya sudah meminta jatah untuk diberi pajak per 6 jam.
Baru melewati sebuah lampu merah Aditya membelokkan motornya ke sebuah warung makan untuk mengajak Kirana sarapan bersama.
"Kenapa berenti disini?"
"Buset, belum sarapan aja suara mu udah nyaring. Ya kita kesini buat sarapan lah, masak mau nikah. Hahahahahah" Jawab Aditya dengan santai
Namun Kirana memonyongkan mulutnya sambil memaki pelan. Ntah Aditya mendengarnya atau tidak, buktinya Aditya masih santai berjalan menuju meja yang kosong sambil memesan dua porsi nasi uduk spesial.
Tak lama pesanan itu datang, tanpa banyak kata mereka menghabiskan makanan itu. Aditya tak menyangka Kirana akan menyambut hidangannya dengan sangat lahap seperti orang yang tak makan selama seminggu. Setelah habis Adit tersenyum puas tanpa banyak tanya dan berjalan menuju kasir untuk membayar makanan mereka.
Selesai membayar kembali kemeja dimana Kirana berada dan mengajaknya untuk segera meninggalkan warung itu menuju kampus.