
Aditya merasa ada kejanggalan dalam operasi yang dia saksikan. Dengan kelebihan yang dia miliki, sangat mudah baginya mengetahui pasti titik sakit pasien.
Lalu Aditya memanggil salah satu asisten disana.
"Bisa saya lihat rekam medis pasien?"Pintanya sambil berbisik
"Ini Sir."
Aditya memeriksa dengan teliti. Pasien didiagnosa Kanker hati padahal jelas gejalanya tidak mengarah kesana. Sekilas dari hasil pemeriksaan berkala saja sudah dapat diketahui. Bahwa itu penyumbatan darah di jantung. Haruskah dia bertanya?
"Siapa dokter penanggung jawab pasien ini?"Tanya Aditya kepada asistennya
"Dokter Cedryck tuan."
"Saya ingin bertemu dengannya, tolong beritau dia. Setelah operasi untuk ke ruangan saya." Aditya langsung meninggalkan ruang pengamatan setelah berbicara seperti itu tanpa menunggu operasi selesai.
Setelah dia menunggu lumayan lama, terdengar suara pintu diketuk.
Tok Tok Tok
"Masuk"
"Anda memanggil saya Sir?" Dokter Cedryck mendekat kearah Aditya lalu duduk setelah dipersilakan duduk.
"Apakah ada yang ingin anda diskusikan dengan saya?" Dokter Cedryck masih belum paham alasannya dipanggil kesini.
"Bisa anda jelaskan dari hasil pemeriksaan medis pasien ini, lalu apa kesimpulan anda mengenai penyakitnya."
Aditya menyerahkan berkas berisikan hasil rekam medis pasien, namun tidak tercantum nama pasien.
Setelah mengamati beberapa saat, dokter Cedryck menarik napas dalam.
"Ini adalah penyumbatan darah Sir."
"Lalu apa tindakan yang harus dilakukan?"
Dokter Cedryck menjelaskan semua yang dia tau, sesuai dengan apa yang diharapkan Aditya.
"Lalu kenapa ada yang memvonis dia kanker hati dan barusan dia melakukan operasi pengangkatan hati."
Jedeeerrrr
Bak disambar petir, Cedryck mengerti maksud atasannya sekarang. Yang dimaksud atasannya adalah mengenai pasien yang baru saja ia operasi. Semua itu atas ancaman dari Profesor Kim. Begitu sadar bahaya mengancam, Cedryck segera menceritakan semuanya bagaimana semua ini bisa menyimpang.
Pantas saja kakek selalu mewanti-wanti agar aku lebih ketat mengawasi Prof. Kim. Jadi ini maksud kakek?
"Baiklah kamu boleh kembali, dan jangan bilang siapa pun kalau saya sudah tau semua ini. Maka aku akan merahasiakan identitasmu sebagai informanku. Selanjutnya mohon kerjasamanya."
Cedryck lalu keluar dengan gemetaran. Dia takut dilenyapkan oleh Prof.Kim. Berusaha tenang agar tidak ada yang curiga.
Dan benar saja, belum ada satu menit. Orang kepercayaan Prof.Kim memberitaunya agar segera ke ruangan Prof.Kim
Dengan langkah dibuat yakin dia menuju ruangan Prof.Kim
Selang beberapa menit Cedryck sudah berada di ruangan Prof.Kim dan mendapat ucapan terima kasih darinya.
®®®
"Sayang, apa yang kamu pikirkan?" Kirana belakangan sedikit manja dan sensitif dengan perubahan sikap Aditya.
"Ada yang tidak beres disini." Aditya memeluk istrinya lalu mencium kening Kirana.
"Apanya?"
"Ini." Aditya menunjuk kebawah, sambil menarik lengan istrinya menuju ranjang.
Aditya tidak ingin Kirana ikut pusing memikirkan masalah kerjaan. Dengan trik nya membuat Kirana tak banyak tanya dan mengikuti permainan Aditya.
Usai bergumul dengan istrinya, terasa sedikit lega dan rasa lelah menghilang. Ditatapnya sang istri yang segera bangkit menuju kamar mandi.
Maaf sayang, aku tak ingin kamu terlalu banyak beban. Aku ingin kamu segera hamil anak kita.
"Sayang, ini tanggal berapa?" Tiba-tiba Kirana melongok dari kamar mandi menanyakan hal konyol.
"15 September. Ada apa?"
"Aahh tidak.."Kembali Kirana masuk ke kamar mandi melanjutkan mandinya.
Sudah dari bulan kemarin aku tidak haid. Apa aku hamil? Tapi aku tidak ada muntah-muntah. Hanya saja aku cepat merasa lelah. Ah, nanti aku beli testpack saja.
Kirana masih termenung di kamar mandi, hingga sebuah pelukan membuatnya sadar.
"Aahhh ngagetin aja."
Tanpa jawaban, Kirana meninggalkan Aditya dikamar mandi.
Gila, laki-laki kalau udah nikah baru ketahuan betapa gilanya mereka. Nggak liat waktu maupun tempat. Kan jadi mau akunya.
Kirana senyum-senyum sendiri dengan tingkahnya yang konyol.
®®®
Keesokan harinya Kirana membeli testpack ke apotik, berharap tak ada yang melihatnya.
Namun saat sedang melakukan pembayaran dia tegur oleh seorang perempuan yang tak lain adalah Lucy istri Charless.
"Hay, sedang apa kamu disini?" Suara indah itu mengagetkan dirinya yang masih berjaga-jaga takut ada yang memergokinya.
"Ah..Hay Lucy, apa kabar?" Keduanya berpelukan. Usai melakukan pembayaran keduanya berjalan menuju sebuah kafe dekat situ.
Setelah memesan beberapa makanan dan jus keduanya berbincang akrab.
"Lama kita tidak berkumpul seperti ini Lucy." Kirana membuka percakapan mereka.
"Benar, aku merindukanmu."Lucy memegang tangan Kirana.
Keduanya berbincang sangat akrab. Kadang beberapa tawa menyelingi percakapan keduanya.
"Masih ingat saat kamu dulu menuduhku mencuri coklat mu." Kenang Kirana
"Tentu saja, dan itu adalah awal kita kenalan. Juga awal aku mengenal Charless. Dulu ku kira Charless adalah kekasihmu. Ternyata bukan, begitu aku tau dia bukan kekasihmu. Tanpa ragu aku mendekatinya..."
"Bahkan beberapa hal konyol kita lakukan untuk berebut perhatian Charless."Kirana kembali mengenang, betapa dia ingin memisahkan Lucy dari Charless.
®®®
7 tahun lalu saat Kirana berlibur ke Inggris, kemana-mana hanya bersama Charless. Hanya dia yang dikenal Kirana. Sampai saat bersantai disebuah taman berbagai macam camilan Kirana beli.
Kirana ingin melepas semua masalahnya, orang tuanya yang mulai sering ribut. Membuat Kirana tak nyaman berada di rumah, hingga ia memutuskan untuk berlibur ke Inggris atas saran sang kakek.
Berbagai macam camilan, minuman, coklat Kirana beli. Dia ingin memakan segala jenis makanan enak untuk menghilangkan mood jeleknya. Hingga ia menyadari ada coklat kesukaannya tak ada.
Kirana tau Charless tidak suka coklat, jadi tak mungkin jika dia memakannya. Hingga pandangannya terhenti pada seorang gadis yang sedang asik menikmati coklat persis seperti coklatnya yang raib.
Tanpa pikir panjang Kirana menghampiri gadis itu.
"Dasar lo pencuri coklat!!!! Balikin coklat gue!" Kirana memaki gadis itu lalu merebut sekotak coklat dalam pangkuan gadis itu.
Lucy sangat bingung, tiba-tiba dituduh mencuri coklat miliknya. Yang jelas-jelas ia beli secara diam-diam karena takut dimarahi oleh kakaknya.
"Heh, itu coklat gue!!" Lucy tak mau kalah dengan tuduhan Kirana secara sepihak.
Melihat kegaduhan didekatnya Charless lali bangkit dari tidur nya. Ya...sedari tadi Charless berbaring dirumput karena lelah.
Melihat sosok yang ia kenal berada di kerumunan itu, Charless bergegas mendekat dan melerai perkelahian kedua gadis dihadapannya.
"STOP!!!" Teriak Charless , membuat kedua gadis itu terdiam.
"Ada apa ini?" Yang ditanya hanya diam saja. Sedangkan Lucy terpana dengan ketampanan pria dihadapannya.
Kirana membuka mulut "Dia mencuri coklatku."Kirana mengadu kepada Charless
Merasa difitnah Lucy membantah tuduhan itu
"Ini coklat gue! Gue beli sendiri dengan kartu ini. Kalau nggak percaya kita bisa ke tokonya untuk memastikannya
Setelah tau permasalahannya Charless tersenyum. Kirana memang sangat protektif terhadap makanannya. Apalagi keadaannya yang sedang kacau seperti ini.
"Na, lo ikut gue." Charless menarik tangan Kirana ke tempat mereka tadi tanpa mempedulikan Lucy disana.
Lalu menyodorkan barang yang ia maksud. Coklat yang ia cari ada disana,
"Tadi ketutuoan sama Coat ku "Jelas Charless
"Sekarang kamu minta maaf ke gadis itu"Perintah Charless dengan tegas
Keduanya berjalan kearah Lucy, dengan sangat malu Kirana meminta maaf kepada Lucy.
"Sorry, " menyodorkan tangannya kearah Lucy
Sebenarnya Lucy enggan memaafkan Kirana, namun melihat pria disampingnya Lucy menjabat tangan Kirana.
"It's Ok!" Jawabnya pelan. Meski sedikit enggan, Lucy membuang egonya.