Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 39



Sudah hampir dua hari Kirana tidak ada kabar. Lapor polisi?Jangan harap. Karena kakek Kirana menghindari berita hilangnya Kirana sampai ke telinga orang-orang yang mengharapkan kehancuran keluarganya.


"Abang yang sabar ya,,,,kita semua terus bantuin cari kak Nana..." Adelia memegang tangan Aditya menenangkannya agar sedikit tenang


"Emang tadinya kenapa sih bang? Kok kak Nana bisa kabur gitu? Padahal bentar lagi mau tujuh bulanan. Hamil tua nggak boleh banyak masalah bang..." Adelia kembali nyerocos tak karuan.


Sama, Adelia juga panik.


"Kayaknya dia salah paham dek. Hari itu abang lagi ngobrol sama dokter muda soal kerjaan. Ditambah lagi abang lagi digosipin sama tu dokter muda....." Ucap Aditya datar.


Tubuhnya terlihat lebih kurus, karena panik. Bagaimana keadaan Kirana.


Tak lama, kakek Kirana menghampiri Aditya lalu meminta Adel dan yang lainnya meninggalkan mereka berdua.


Aditya menatap tajam ke arah Kakek, namun masih terlihat betapa ia sangat cemas.


"Kamu tidak perlu cemas lagi. Kakek sudah tau Kirana ada dimana. Kakek sudah dapat lokasinya dari riwayat pemakaian kartu kreditnya..." Ucap kakek pelan


kenapa gue nggak kepikiran sampe situ sih! Goblok gue goblok!!!


Sambil memaki diri sendiri Aditya terus memukul kepalanya.


"Sebenarnya ada apa nak?" Dengan penuh kesabaran, kakek bertanya kepada Aditya.


Lalu Aditya menjelaskan kemungkinan penyebab Kirana kabur, dan juga insiden saat Zenith menggodanya sebelum tau dirinya telah beristri.


Sang kakek manggut-manggut setelah tau titik permasalahannya.


"Tolong pahami Kirana, dia sangat trauma dengan perpisahan keluarganya. Kirana masih sangat rapuh jika menyangkut hal-hal seperti itu. Saat ini dia butuh ketenangan, dia butuh waktu mencerna segalanya...Besok kamu jemput Kirana ya..." Kakek meninggalkan Aditya yang masih duduk diam.


Sambil menepuk bahu Aditya sebelum meninggalkan cucu mantunya. Lalu berjalan meninggalkan ruangan dimana Aditya berada.


Kenapa bisa Kirana mendengar gosip gila para perawat itu sih!!! Kenapa juga dia dateng pas Zenith lagi konsultasi. Kenapa Kirana nggak langsung masuk aja. Kenapa!!! Kenapa!!!! Kenapa!!!!


AAARRRGGGHHH


Aditya berteriak sambil menjambak rambutnya sendiri. Adelian, Agung, Sam dan juga Sivia langsung masuk menghampiri Aditya begitu mendengar Aditya berteriak sangat kencang.


"Sabar bang..." Adelia mengelus punggung kakaknya dan memapah sang kakak agar duduk kembali.


"Pokoknya abang harus ambil tindakan. Adek nggak mau tau, pokoknya abang harus pecat tu dokter ganjen. Kalo kakak nggak mau, jangan harap adek juga bakal ngebelain abang. Kalo adek diposisi kak Nana sekarang. Adek juga bakal berbuat hal yang sama. Pokoknya gimana caranya, itu dokter ganjen jangan sampai ada di rumah sakit itu lagi." Adelia yang awalnya mencoba memahami masalah kakaknya, lama-lama geram juga. Setelah tau penyebabnya seorang perlu. Telepas itu benar atau tidaknya hubungan mereka.


Adelia beranjak dari duduknya. Meninggalkan kakaknya dan suaminya disana.


Sivia beranjak mengikuti Adelia dan memberi waktu para pria untuk mengobrol.


"Emang tadi kakek bilang apa Dit?" Agung mulai pembicaraan diantara mereka bertiga.


"Besok gue baru boleh jemput Kirana di hotel F. Gue yang begok men! Gue sadar, belakangan sibuk banget. Dan gue juga goblok menganggap remeh omongan para perawat. Harusnya gue membantah sejak awal gosip itu beredar. Menurut gue nggak perlu banget gue anggep serius kabar nggak guna gitu." Aditya mengambil napas agar lebih terkontrol emosinya.


"Besok kan lu bisa jemput dia men! Besok lu jelasin semuanya. Dan apa yang adek lu bilang ada benernya. Mending lu pindahin tu dokter muda kemana kek. Apalagi udah pernah dia godain lu!" Sam membenarkan ucapan Adelia yang memang masuk akal kalau soal kasus seperti ini


"Oke, makasih ya. Kalian sudah ada buat bantuin gue. Inget! Jangan sampai kasi gue, kalian juga ngerasain. Nyiksa lahir batin men!!" Aditya sedikit ceria karena besok bisa bertemu dengan istri tercintanya.


®®®


Dihotel tempat Kirana menginap.


Sudah hampir tiga hari menyendiri di hotel. Tanpa keluar kamar. Makan selalu pesan, begitu juga pakaian ganti. Saat ini Kirana sedang duduk diam menghadap jendela yang mengarah ke kota. Dengan tatapan kosong, Kirana masih betah duduk diam disana.


Sampai kapan gue kayak gini. Harusnya waktu itu gue masuk aja. Kenapa gue jadi lembek gini sih??? Harusnya gue langsung aja masuk, siapa tau mereka hanya ngobrol soal kerjaan. Pikiran gue kenapa jadi gini sih. Nggak seharusnya gue lari...


Butiran bening meleleh di sudut mata sembab Kirana.


Ibu hamil yang sangat sensitif perasaannya membuat akal sehat Kirana tak dapat bekerja. Selama hamil memang emosinya sangat sensitif. Namun baru kali ini tak dapat ia kontrol dengan baik.


Bagaimana kalau Aditya khawatir?? Ahh nggak mungkin. Dia kan sibuk. Tapi kalau kakek kawatir? Emak? Bapak? Adek? Mereka kan sayang banget ama gue.


Kirana bergegas mencari handphone yang semenjak ia tinggal di hotel tidak pernah ia sentuh.


Dan benar saja, handphonenya kehabisan baterai. Buruan Kirana menelfon layanan kamar untuk meminta charger hp, dan juga beberapa makanan.


Tak lama suara pintu diketuk dari luar. Kirana bergegas membuka pintu, begitu pintu dibuka. Kirana sangat terkejut. Bukan karyawan hotel yang berada disana.


Hendak menutup kembali pintu namun dengan sangat pelan tubuh Kirana direngkuh oleh seseorang dibalik pintu.


Aditya memeluk erat tubuh Kirana, tanpa ada perlawanan dari Kirana. Karena Kirana memang sangat merindukan pelukan hangat suaminya.


"Maafin aku sayang, harusnya para perawat itu aku kasih teguran dari awal. Harusnya aku tidak terlalu sibuk. Harusnya aku menemanimu lebih sering. Maafkan suamimu ini sayang." Aditya masih memeluk Kirana sambil mengelus rambut panjangnya. Dan mengecup lembut keningnya. Kemudian Aditya membawa masuk Kirana ke kamar hotelnya.


Kirana diajaknya duduk di sofa. Lalu digenggamnya kedua tangan Kirana lalu bergantian menegecup lembut punggung tangan istrinya.


Kirana masih menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah atas keputusannya yang terlalu gegabah.


Kemudian keduanya kembali berpelukan tanpa ada kata terucap. Mereka menikmati kebersamaan ini. Saling melepas rindu. Saling menginstropeksi diri masing-masing.


Hingga dirasa cukup, Aditya mendekatkan wajahnya dan mulai mencium bibir Kirana yang sangat ia rindukan. Ciuman yang semakin dalam . Keduanya larut dalam kerinduan mereka. Hingga tak sadar sedari tadi pintu di ketuk dari luar.


Keduanya menghentikan aktifitas masing-masing. Kemudian Kirana bangkit menuju pintu dan membukanya. Seorang pegawai hotel membawa permintaan Kirana tadi, lalu membawanya masuk. Kemudian Kirana mencari ponselnya lalu mengisi daya ponsel yang sudah tak menyala.


Kembali Kirana duduk disamping Aditya lalu memeluk suaminya.


®®®


Jangan lupa ❤ dan komennya setelah membaca karya ini. Terimakasih sudah membaca karya saya 🙏🏿🙏🏿🙏🏿