Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 47



Makan malam kali ini Aditya tidak bisa ikut karena sedang ada kasus virus baru yang gempar belakangan ini. Sebenarnya bukan virus baru, hanya saja virus lama yang lebih ganas.


Kirana mengambilkan makan untuk kedua buah hatinya....


Vian : "Biasa aja dek, jangan cemberut. kamu nggak mau kan mama ikut campur???"


Vina : "Iya, adek nggak sebodoh itu. Adek nggak mau mama masuk ke pikiran adek yang polos ini."


Kedua anak itu bicara lewat pikiran, karena tak ingin mamanya tau dan masalah kecil jadi nggak beres.


Karena kalau Kirana sudah kesal, dia akan memasuki alam pikiran lawan tanpa ijin.


Dan itu membuat orang yang bersangkutan tidak nyaman.


"Mamaaaa, mau ituuu....." Vina mulai manja meminta jengkol yang ada di piring saji


Senyum Kirana melebar, karena makanan kesukaan Aditya diminati oleh anaknya.


Vian hanya melirik tidak banyak bicara. dalam sekejap Vian mengambil jengkol yang ada di piring Vina tanpa diketahui oleh Vina.


Saat Vina sadar, dia mencak mencak dan mencubit lengan kakaknya.


Sandiwara mereka sukses, setidaknya Kirana tidak curiga.


Selesai makan kedua bocah itu langsung menuju kamar masing masing, namun Vina mengurungkan niatnya. Vina ikut masuk ke kamar Vian saat pintu kamar akan ditutup.


"Bang...."Vina menarik ujung kaos yang dikenakan Vian.


Vian berbalik dan menyuruh Vina duduk di kasurnya, sedangkan dirinya duduk di kursi belajar yang di seret menghadap sang adik.


"Katakan." Vian menatap adiknya yang cemberut


"Kenapa sih abang nggak mau sekelas sama adek lagi??"


Vina mengerutkan keningnya menatap Vian memelas.


"Abang banyak kerjaan, dan adek harus belajar mandiri tanpa abang......" Dengan nada datar dan dibuat setenang mungkin agar adiknya paham.


"Iya adek tau abang sibuk, tapi nggak harus pisah kelas juga kali bang...." Semakin monyong bibir mungil Vina, dan tak habis pikir dengan maksud kakaknya.


"Makanya abang usahain Tama sekelas sama kamu biar ada rem nya kamu..."


"Kenapa Tama bang?" Vina masih bingung dengan maksud kakaknya.


"Karena hanya dia yang mampu buat kamu aman..." Jelas Vian secara singkat.


"Iya abang tau kan? Tama itu rese!!!" Vina semakin kesal


"Dek, Tama udah berubah. Dia udah janji sama abang bakal jagain kamu. Kamu tau kan? Iblis itu sudah meninggalkan Tama, dan dia sudah mencari inang baru...." Kata-kata Vian terhenti saat mengungkapkan kenyataan yang sangat buruk itu.


"Adek tau, tapi Vina masih nggak bisa kalau harus baikan sama Tama."


"Jangan terlalu membencinya, Tama tidak bersalah...." Vian menggenggam tangan adiknya agar mengerti.


"Kalau tidak ya kamu abaikan Tama. Kamu fokus saja dengan diri sendiri seperti biasa..." Kembali Vian memberi jalan tengah agar Vina tidak merasa terbebani.


"Ingat yaa, kita masih jadi incarannya. Terutama kamu. Karena kamu seorang perempuan. Saat abang menemukan cara melenyapkan iblis itu sepenuhnya, kamu harua bersiap..." Genggaman Vian semakin kuat, membuat Vina sedikit merasa sakit dibuatnya.


"Udah, mulai besok kamu nggak usah ribut minta pindah kelas lagi. Kamu fokus dengan kesibukanmu seperti dulu.... " Vian mengusap lembut kepala adiknya. Dan memintanya kembali ke kamar.


Keesokan harinya, Vian dan Vina sudah akur. Tanpa ada rasa canggung diantara mereka.


Setibanya di sekolah keduanya berpisah. Dan lagi..... Tama sudah menunggu Vina di depan gerbang,,,,


"Morning honey bunny sweety......" Tama menggandeng tangan Vina tanpa permisi dahulu.


"Heh!!! Jangan sembarangan sentuh gue!!" Bentak Vina sambil memukul tangan Tama


"Waahhh pagi hari sudah dengar nyanyian merdu cintaku...." Tama tidak perduli dengan penolaka dari Vina.


Tama sudah meminta bantuan Vian, namun Vian pun tak ada jalan keluar. Karena memang adiknya terlalu keras kepala.


Sesungguhnya Vina merasa nyaman juga jika berada di sisi Tama. Hanya dia tak sanggup mengakui itu. Rasa bencinya lebih besar dibandingkan dengan kenyamanan nya.


Terkadang dada Vina bergemuruh kala tangannya tak sengaja bersentuhan dengan Tama.


Terkadang tanpa sadar wajahnya memerah saat Tama berlaku manis padanya.


Terkadang merasa kehilangan jika Tama tidak ada.


Justru karena semua perasaan aneh itu yang membuatnya semakin kasar pada Tama.


Sungguh ini membuat frustasi Vina. Ingin mengakui terlanjur sakit. Tidak mengakui hati pun tak tenang.


Kegundahan itu membuat Vina berlatih seperti orang gila agar semua kegalauannya berkurang.


"Vin.... kamu kenapa sih??? Nggak kayak biasanya. Cerita dong ke kita...." Joan, Prisil juga Lily merasa kasihan kepada sahabatnya yang menyiksa tubuhnya sendiri.


Vina memeluk samsak didepannya dengan wajah kelelahan.


"Jo, gue musti gimana?" Suara Vina tampak putus asa


"*Jujur dek! Jangan sangkali perasaanmu. Jangan siksa batinmu."


"Abang... Apakah adek keterlaluan sama Tama*?"


Wajah Vina terlihat serius tanpa kata. Hanya Vian yang dapat mendengar jeritan hati Vina.


Ketiga sahabat Vina pun mendekat lalu memeluk Vina meski tak tau apa penyebab sahabatnya menggila.


Dan terbukti itu sangat manjur, Vina merasa nyaman dan tenang.


Setelah membujuk Vina agar menghentikan kegilaannya, Joan mengajak ke sebuah kafe agar Vina melupakan apa yang membuatnya kacau.


Keempat gadis keluar dari tempat latihan Vina, sebelum berjalan ke luar sekolah lengan Vina seperti ada yang menahan.


Dan itu menghentikan langkah Vina. membalikkan badannya dan menatap pria yang menahan lengannya.


Tama????


"Vin,,, jangan marah ya..." Raut wajah Tama nampak kusut. Vina tak pernah melihat wajah Tama yang seperti itu.


"Marah???" Vina berpura-pura bingung dengan ucapan Tama.


"Iya, jangan marah karena beberapa hari ini aku nggak bisa jagain kamu. Aku habis ikut papa juga mama ke tempat kakek. Ada hal yang mendesak..." Tama nampak sangat menyesal


"Whaattt!!!!" Vina terkejut dengan ucapan Tama.


Vina kira Tama minta maaf karena berbuat seenaknya dan membuat dirinya merasa bersalah hingga membuatnya tidak masuk sekolah beberapa hari.


Dia malah salah paham, dikira Vina ngamuk karena Tama pergi nggak pamit???


Gila ni bocah, narsisnya nggak ketulungan. Iya juga sih, gue kehilangan dia. Kesel juga ditinggal tanpa pamit.


Senyum tipis menghiasi wajah Vina.


"Kalau gitu, lo traktir kita-kita hari ini. Gimana?"


"Oke! Gue bakal traktir Vina sama sahabatnya. Sahabat Vina , sahabat Tama juga. Karena Vina itu sayangnya Tama." Wajah Tama yang tadi terlihat kusut. kembali ceria seperti biasa.


Dan entah kenapa Vina sedikit senang melihat senyum Tama yang seperti anak kecil. Terlihat tulus.


Eitttsss Jangan gila. Vina nggak mungkin goyah hatinya. Vina nggak mungkin mulai nerima perasaan Tama. Vina nggak mungkin mulai suka sama brondong satu ini.


Secara dia masih bocah dimata Vina. Dan Vina nggak mau dibilang jalan sama bocah. Sesungguhnya salah satu alasan Vina bersikap dingin pada Tama juga karena Tama terlalu baik dan masih bocah.


Tama lebih muda dari Vina. Tama terlalu baik. Tama juga terlalu tampan. Terlalu perfect. Vina hanya tidak ingin penggemar Tama menghujatnya. Cukup fans girl Vian saja, itu pun sudah membuat Vina pusing.