
Mengingat kejadian itu, keduanya tertawa.
"Kamu ingat? Aku sangat kesal saat kamu menuduhku. Tapi aku tak menganggapnya karena Charless." Lucy menatap Kirana sedikit marah namun dengan senyum
"Kalau waktu itu aku tidak menganggumu, mungkin saat ini kamu masih menjadi perawan lapuk!"
"Kamu tau? Aku kabur dari rumah hanya untuk makan coklat sepuasnya..."
"Benarkah?" Kirana melotot mendengar pengakuan Lucy
"Ya! Kakak ku tak suka jika aku sedikit gemuk. Padahal aku sangat suka coklat...."
"Aku pun saat itu sedang kabur dari rumah." Kirana menatap jauh.
Baru kali ini bisa berbincang dengan Lucy setelah pertemuan waktu itu. Biasanya hanya lewat video call, itu pun saat Charless menghubunginya.
"Aku masih bingung, kenapa kamu sangat marah hanya karena sekotak coklat?" Lucy memperhatikan wajah Kirana
"Karena aku sedang kacau, aku paling benci jika makananku hilang. Apalagi itu coklat kesukaanku." Kirana kembali menatap jauh keluar kafe.
Keduanya asyik berbincang sampai tak sadar hari sudah sore. Dari kejauhan nampak dua pria ampan mendekat kearah mereka.
Kedua pria itu adalah Charless dan Aditya. Mereka mendapat pesan dari Lucy bahwa Kirana bersamanya saat ini.
Kirana tak sadar Aditya sudah duduk disampingnya. Saat pundaknya direngkuh Aditya, Kirana mencoba menampik.
"Kamu kenapa sayang?" Aditya sedikit khawatir
"Oh tidak ada. Hanya teringat dulu, emosiku kembali memuncak." Jelas Kirana pelan
"Adek kecil, kamu jangan banyak pikiran. Kalau kamu ingin hamil harus happy terus." Charless mengingatkan Kirana. Sebenarnya dia berbicara seperti itu setelah Aditya mengeluh ingin segera punya anak.
"Haahh!!" Kirana terkejut dengan ucapan Charless.
"Melamun lagi dia beb!" Lucy memberi tahu mereka bahwa sedari tadi Kirana sering melamun.
Tiba-tiba Aditya mual mencium bau makanan yang baru saja disajikan oleh pelayan di mejanya
Kirana terkejut mendapati suaminya seperti itu.
Apa dia terlalu lelah bekerja hingga tak memperhatikan pola makan?
Kirana pikir Aditya masuk angin.
Saat sudah reda kembali Aditya duduk, belum lama Aditya ingin muntah lagi.
Kirana mengikuti suaminya ke toilet. Dan hanya bisa menunggu di depan pintu. Mana mungkin Kirana masuk ke toilet pria.
"Kamu baik-baik saja?" Kirana memijit pundak Aditya sambil berjalan menuju ke meja mereka.
Aditya tampak pucat, Charless menyarankan mereka agar segera pulang. Melihat Aditya yang tampak lemah seperti itu.
Makanan yang mereka pesan tak sedikit pun disentuh. Mereka berempat meninggalkan kafe tanpa makan apapun.
Charless mengikuti Aditya dan Kirana memastikan keadaan Aditya baik-baik saja.
Sesampainya di apartemen Aditya diperiksa oleh Charless,
"Kamu tenang lah, suamimu hanya terlalu lelah." Kirana merasa tenang setelah Aditya tertidur.
Charless dan Lucy berpamitan. Kirana baru ingat dia belum makan sama sekali. Dia mencari ponselnya di tas, malah menemukan testpack disana. Segera Kirana menuju kamar mandi. Setelah melakukan pemeriksaan sederhana tersungging senyum di wajah Kirana.
Dua garis merah tergambar disana. Tak sabar ingin memberi kabar baik ini, teringat suaminya terbaring lemah di ranjang. Kirana mengurungkan niatnya membangunkan suaminya.
®®®
Pagi tiba begitu cepat, Kirana sudah tidak mendapati Aditya disampingnya.
Saat akan bangun dari tidurnya, Kirana mendapat ciuman dari sang suami.
"Pagi sayang ku!!!" Kirana mendapat ciuman bertubi-tubi dari suaminya "Terima kasih sayang ku, sudah memberi hadiah terindah buat ku."
Kirana masih bingung dengan perlakuan dan ucapan suaminya.
"Mulai hari ini apa pun yang kamu inginkan bilang saja, akan ku usahakan. Demi anak kita." Aditya memeluk Kirana dengan sangat bahagia.
"Tunggu, dari mana kamu tau kalau aku hamil?'
®®®
Aditya sudah membuat janji dengan ahli kandungan di rumah sakit miliknya.
Belakangan Aditya sering mual tanpa sebab. Padahal tidak pernah ia melewatkan jam makan.
Tiba-tiba Aditya ingin makan durian,
"Halo, Charless. Kamu bisa bantu aku?"
"Apa?" Suara dari sebrang terdengar penuh tanya.
"Dimana aku bisa mendapatkan durian? Entah kenapa aku ingin sekali memakannya."
"Apa??? Durian? Di Inggris?" Charless diam sesaat. Tak habis pikir dengan kemauan sahabatnya. .
"Biasa ada di toko Asia, " Jelasnya
"Bisa tolong minta orang untuk membelinya?" pinta Aditya. "Aku sudah sangat lapar."
Diseberang sana Charless menutup sambungan telpon. Lalu meminta OB untuk mencari durian.
Tak lama durian datang dan Charless membawanya ke ruangan Aditya. Tak lupa ia meminta Kirana datang.
Begitu Charless masuk ke ruangan Aditya, segera Aditya menyambut apa yang dia bawa.
Aditya sangat senang, seperti anak kecil mendapatkan mainan yang ia inginkan.
Segera dilahap dengan sangat rakusnya,
"Tumben amat minta durian? Kamu ngidam?" Charless menatap Aditya heran
"Kamu mau?" Aditya menawari Charless namun diacuhkan olehnya.
"Yaudah kalo nggak mau." Kembali Aditya melahap durian dihadapannya
Aditya sangat menikmati buah satu itu. Sampai tak sadar Kirana sudah memperhatikannya disamping Charless.
"Lihatlah suamimu, dia bahkan tidak menyisakan satu pun untukmu."
"Entahlah, aku juga heran. Belakangan bahkan dia sangat ganas di ranjang." dengan enteng Kirana membicarakan hal penting pada Charless
"Na!Apakah kamu hamil?"
"Memangnya kenapa?"
"Sepertinya Aditya sedang ngidam."
"Charless, apakah ada istri hamil suami yang ngidam? Aku memang sudah dua bulan ini tidak haid. Dan hasil test pack pun positif."
"Benarkah????? Aku akan segera punya ponakan??" Charless bahkan lebih heboh mendengar kabar ini. Sama halnya dengan kakek dan juga keluarganya di Indonesia.
®®®
Hari berikutnya, Aditya meminta Charless untuk mencarikannya mangga muda yang masih ada getahnya.
Sumpah ni orang, istrinya yang hamil. Dia yang ngidam, gue yang repot.
Gerutu Charless terpaksa menuruti kemauan Aditya, itung-itung latihan jika nanti Lucy hamil. Meski sulit Charless berusaha mendapatkannya dari salah satu kenalannya.
Hari berikutnya, Aditya ingin makan sayur asem dan juga ikan asin. Kali ini Charless pasrah, dia meminta Kirana untuk mencarikannya.
Begitu sampai usia kandungan Kirana 4 bulan.
Dari permintaan yang sulit ditemukan di Eropa ini, sampai sesuatu yang sangat sepele Aditya minta. Dan jika tidak dituruti maka Aditya akan mengamuk tiada henti. Bahkan orang yang berpapasan dengannya pun kena semprot. Padahal hanya melirik sebentar kearahnya.
Sempat Aditya meminta eskrim yang sedang dimakan anak kecil di rumah sakit. Tidak mau dibelikan yang baru, yang ia mau eskrim yang ada ditangan anak itu. Dengan berbagai cara membujuk anak kecil itu agar mau memberikan eskrim sisanya untuk Aditya.
Dengan rayuan Kirana akhirnya anak itu mau memberikan eskrimnya, dengan ganti sepuluh eskrim yang sama untuknya.
Heran gue, suami ngidam nya parah. Berasa gue yang jadi suami. Padahal dia yang bilang apa pun yang gue minta bakal dituruti.
Kirana tak habis pikir dengan tingkah suaminya yang melebihi ibu-ibu PMS.