Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 22



Keadaan Adelia sudah mulai membaik, meski biasanya setiap kali datang bulan sakit.Namun, tak separah kali ini. Bagaimana tidak? Keracunan makanan saat jajan di luar, membuatnya sedikit trauma untuk membeli makanan di kaki lima.


Setiap hari Agung datang merawat Adelia, meliat Agung begitu telaten dan berani Menunjukkan keseriusannya terhadap sang Adik. Membuat Aditya berpikir,


Apa gue lamar Kirana aja? Tapi kan penghasilan gue belum seberapa, hanya punya bengkel kecil. Itu juga modal dari bapak. Iya aja si Agung, belum lulus kuliah dia sudah punya toko elektronik, bokapnya punya Rumah Sakit. Lah gue? Bapak hanya karyawan biasa. Emang sih Eyang kaya, tapi kan itu eyang.


Lamunan Aditya dibuyarkan suara berisik sahabatnya yang seru bercanda. Tak hanya Agung, Sam juga sering datang ke rumah.


Ting


Suara notifikasi hape, tanpa melihat pesan dari siapa. Aditya membaca pesan singkat di Aplikasi WashAp...


Kirana : "Sayang, gimana nih makan siangnya. Yang waktu itu gagal. " Aditya cengar cengir membaca pesan dari sang pacar. Sekarang sudah berani panggil sayang meski hanya lewat pesan singkat.


Aditya : " Yaudah, gimana kalo diganti makan malam. Adek kan udah mendingan, Emak sama Bapak juga udah pulang.


Kirana : " Serius? Kapan?"


Aditya : "Malam ini aja, sekalian biar kumpul."


Kirana : "Oke!"


Aditya meletakkan ponselnya ke meja.


®®®


Tok Tok Tok


Suara pintu diketuk, Kirana segera membuka pintu rumahnya. Berpenampilan sangat elegan, dengan gaun selutut, riasan wajah tipis serta tatanan rambut yang simpel namun menambah sempurna penampilannya.


Setelah membuka pintu Kirana terkejut dengan kehadiran seseorang disana. Sang tamu pun juga terkejut bahkan bisa dikatakan sangat kagum.


" Eeehhhh Mas Dhani, ada apa ya." Kirana masih bingung dengan kehadiran pria itu di rumahnya.


"Siapa Na!!" Teriak papa Kirana dari belakang menghampirinya.


"Ini to nak Aditya?" Sapa papa Kirana sambil membawa masuk Dhani dan nengajaknya berbincang di ruang tamu.


"Eeehhh iya om! Aditya???" Tanya Dhani masih bingung dengan situasi yang ia hadapi saat ini


"Paaaa dia bukan Aditya..."Cegah Kirana sebelum papanya salah paham terlalu lama.


"Trus siapa dong kalau bukan Aditya?"


"Beliau dokter pembimbing Kirana di Rumah Sakit pas magang pah"Jelas Kirana."Oh ya, Dokter Dhani ada keperluan apa ya kemari?"


"Cantik" dokter Dhani berucap lirih tak menanggapi pertanyaan Kirana, masih terpesona dengan kecantikan Kirana.


"Pak, pak!" Kirana menepuk pundak Aditya sambil melambaikan tangan di depan wajah sang dokter.


Dhani mulai tersadar setelah mendapat tepukan itu "Ehh iya, tadi bicara apa ya?"


"Bapak ada keperluan apa?"sekali lagi Kirana mengulang tanyanya


"Ngelamar kamu."tak sadar kata bodoh itu terucap dari mulut Dhani. Masih memandangi wajah Kirana yang memang sangat menawan sore itu


"Apaa???Maksud Bapak?"Kirana tak percaya dengan ucapan Dhani


"Maksud saya mau ngajak kamu jalan.."sergah Dhani segera membenarkan ucapannya


"Oohhhh maaf pak, saya sudah ada janji makan malam dengan orang lain."dengan enteng Kirana menjawab ajakan Dhani


Entah semenjak kapan papa Kirana meninggalkan dirinya berdua saja dengan Dhani. Namun masih mendengar percakapan mereka dari ruang sebelah


Ternyata putriku banyak juga yang naksir. Tapi hanya satu yang nyangkut.


Sebenarnya papa Kirana sudah sekali bertemu Aditya, namun lupa wajahnya. Pantas saja, tadi terlihat berbeda. Malah sok akrab, maklum saja orang tua. Padahal tidak setua kakek Kirana. Mungkin efek kerjaan yang menumpuk.


®®®


Pak Dhani? Ngapain dia kemari?


Aditya masih tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Pintu rumah terbuka dan terdengar suara yang ia kenali, suara dokter Dhani. Tanpa ragu Aditya masuk untuk memastikannya.


"Assalamualaikum...." terdengar salam dari luar. Kirana segera menghampiri sumber suara


"Wa'alaikumsalam, masuk yuk"Kirana mempersilahkan keluarga Aditya untuk masuk, menggandeng tangan Adelia menuju ke ruang tamu bergabung dengan Dhani.


"Siapa tuh kak?? Belum apa-apa udah diembat orang lain aja. Abang sih nggak buruan..."Adel dengan polosnya menggoda sang kakak


Gila ni bocah, asal ngejeplak aja. Nggak ada bosennya bikin malu gue. Astagfirullah dosa apa gue???


"Sore Pak!" Aditya menyapa Dhani dengan hormat, disambut jabatan tangan dari mantan pembimbingnya itu


"Wah wah wah rombongan besan udah dateng,...."Papa Kirana segera menyambut keluarga Aditya, dan duduk disana berbincang-bincang dengan ayah Aditya.


"Kalau begitu saya permisi dulu,..."Dhani berpamitan kepada semua yang ada di ruangan itu


"Loh, nggak ikut sekalian makan malam aja?"Tawar papa Kirana


Dengan sopan Dhani menolak permintaan papa Kirana yang memang hanya basa-basi belaka.


Dhani pergi meninggalkan rumah Kirana dengan perasaan kesal


Brengsek, aku udah keduluan bocah ingusan itu. Tenang aja, masih belum nikah ini. Aku masih ada kesempatan sebelum kekuatan di diri Kirana muncul dengan sempurna. Kuharap Kirana belum menyadari akan kemampuan itu, jika aku terlambat. Semua rencana yang sudah disusun selama ini akan sia-sia. Manusia yang mempunyai kemampuan khusus seperti Kirana sangat sulit ditemukan.


Dhani membawa mobilnya menuju daerah hutan yang masih sangat sepi, menyusuri jalan yang hanya bisa dilewati satu mobil. Tidak akan ada yang sadar bahwa ada sebuah lab didalam sana.


®®®


Seusai makan malam, keluarga Aditya berpamitan, tak lupa mengucapkan terimakasih atas undangan makan malamnya.


Semua terlihat bahagia setelah adanya acara malam kali ini.


"Akhirnya abang duluan yang nikah!"Adelia bersorak gembira didalam mobil. Dan membuat yang berada didalam mobil menggelengkan kepala dengan tingkah gadis itu.


"Emang udah waktunya dek, abang kamu nikah. Ntar keburu tua, jelek keriput, nggak ada yang mau. Kapan emak gendong cucu dari abang kamu..."Ibunya juga terlihat sangat bahagia dengan kabar ini


"Buset dah, nikah aja belom ni emak atu udah minta cucu. Dikira bikin anak dari terigu apa?"Protes Aditya sambil mengemudikan mobilnya


"Bapak juga sudah tidak sabar pengen main sama cucu"tak mau kalah dengan sang istri. Ayah Aditya pun mengiyakan perkataan Mira.


Diperjalanan menuju rumah, tak pernah terasa sunyi. Dengan celotehan Adelia yang super konyol dan membuat suasana sangat ramai. Melihat kebahagiaan keluarga kecilnya membuat Aditya sangat bangga menjadi bagian dari keluarga ini.


"Mak, si adek udah berani pacaran tuh" dengan muka serius Aditya melirik kearah sang adik


"Emak sudah tau, nak Agung sudah minta ijin ke emak...."Jawab sang ibu enteng


"Gila tu anak, udah minta restu sama emak??"ucap Aditya tak percaya


"Sama bapak juga."Sahut sang ayah dengan bangga


Aditya tampak seperti orang bodoh mendapati serangan balik yang seharusnya membuat adiknya diomeli orangtuanya.


"Justru karena itu, tadi bapak berani melamar Kirana buat kamu. Masak iya kamu kalah gentle sama Agung. Agung saja berani nunggu Adek lulus sekolah buat nikahin adek kamu."Tambah sang Ayah membuat Aditya semakin malu


"Beneran mau dinikahin habis lulus sekolah?" Tanya Adit masih ragu


"Permintaan nak Agung, dia tidak mau berbuat dosa. Nak Agung juga bilang akan membiayai kuliah Adekmu sampai S2. Lumayan, bisa irit biaya kuliah...."Ayahnya masih dengan nada enteng menceritakan awal mula Agung minta restu dari kedua orangtua Aditya.


Memang tidak heran jika Agung berbuat seperti itu. Agung selalu memberi saran kepadanya agar jangan mengganggu anak gadis orang. Kalau yakin ya segera lamar, biar nggak banyak dosa. Kalau sudah halal kan bisa ngapain aja tanpa takut salah..