Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 44



Setelah bernegosiasi dengan kakeknya, akhirnya Aditya dan Kirana dapat menyekolahkan anak mereka di sekolah umum. Mereka khawatir akan perkembangan anaknya. Bagaimana pun anak anak seusia mereka harusnya bebas bermain bukannya sibuk berlatih fisik dan juga tekhnologi.


"Ingat ya..... Mama ingin kalian bersikap biasa seperti anak pada umumnya. Jangan pernah menggurui guru kalian, seperti kalian bersikap pada para profesor di laboratorium..." Pesan Kirana sebelum kedua anaknya menuju kelas mereka.


"Yes mom!" Keduanya begitu kompak pagi ini. Bahkan tidak ada ribut kecil seperti biasanya saat sarapan.


Kirana paham, bahwa kedua anaknya tidak ingin batal sekolah karena sibuk berdebat seperti biasanya.


"Bye!!!! Bye!!!! Mama akan jemput kalian saat pulang nanti." Kirana mengecup pipi kedua anaknya lalu memeluk keduanya.


Vian dan Vina berada di kelas yang sama. Kelas satu sekolah dasar. Memasuki ruangan kelas, keduanya terlihat bahagia dengan pemandangan didalam kelas.


Disana banyak sekali anak-anak kecil yang masih polos. Tidak seperti mereka, keduanya saling menatap dan tersenyum penuh arti.


"Oke sister! Lets act?" Vian menggandeng adiknya yang berubah menjadi anak kecil pemalu yang menggemaskan.


Keduanya duduk di bangku paling depan karena memang bangku itu yang kosong.


Tidak lama guru masuki ruangan.


"Good morning my sweety student....." Guru muda itu sangat cantik. Menyapa semua muridnya dengan sapaan hangat, agar muridnya betah belajar dan tidak rewel.


"Morning mom!!" Jawab semuanya kompak


"No no no. panggil aku miss. Itu lebih manis...." Pinta guru itu kepada semua muridnya.


"Yes miss!"


"Oke, pertama-tama Let's introduce your self baby.... Start from you handsome!"


Vian dengan sangat beraninya menyebutkan namanya. Dilanjutkan Vina dengan tak kalah bersemangat, berlanjut hingga murid terakhir.


Hari ini perkenalan antar murid, miss Stevia sengaja memberi waktu muridnya untuk berkenalan dibawah pengawasannya agar mereka tidak canggung.


®®®


"Bagaimana rencana mu selanjutnya sayang...." Arta memangku seorang anak laki-laki.


Anak itu adalah anaknya bersama dengan Kayla. Arta membawa putranya untuk pindah ke Inggris menyusul pasangan Aditya dan Kirana.


"Aku sudah mencari info Dad, bahwa kedua anak itu akan bersekolah disekolah umum. Aku ingin sekolah disana." Pinta anak laki-laki itu kepada Arta.


"No problem. Akan saya siapkan tuan ku..." Dengan penuh rasa hormat Arta meninggalkan anak itu yang sedang tersenyum sinis.


®®®


Sedari tadi Vian memperhatikan anak laki-laki di sisi lain ruangan itu. Sama, anak itu juga duduk di bangku depan hanya saja di pojokan ujung.


Melihat kakaknya sangat serius menatap anak temannya yang berada diujung kelas, Vina tersenyum.


"Abang nggak perlu khawatir. Anak itu tidak akan berani mencelakai kita sekarang. Dia masih sangat lemah jika harus menghadapi kita berdua..."


"Kamu benar, aku hanya takut dia akan mencelakai mama. Anak itu sangat licik. Kamu pasti tau itu dek..."


"Oke baby.... Hari ini sampai disini, siapkan diri kalian. Mulai besok kalian sudah mulai belajar... " Miss Stevia membubarkan kelas.


Semua siswa kelas satu berjalan kegirangan, mereka merasa hari ini luar biasa menyenangkan. Hingga mereka tidak sabar untuk belajar keesokan harinya.


Vina dan Vian keluar ruangan menuju gerbang sekolah. Disana sudah ada mamanya berdiri disamping mobil.


Vina dan Vian berlari kearah mobil lalu memeluk Kirana.


"Bagaimana hari pertama sekolah kalian?"


"Membosankan!" Keduanya kompak membuat Kirana tersenyum melihat wajah dingin anak kembarnya.


"Sabar ya sayang...."


Ini sekolahnya yang kurang apa anakku yang berlebihan? Bagaimana mungkin anak seusia mereka lebih suka berkutik didepan komputer dan zat- zat aneh di laboratorium?


®®®


Beberapa hari sudah Aditya melepas kedua anaknya bersekolah di luar. Dari hasil laporan, semuanya masih tampak wajar. Tidak ada tingkah anak-anaknya yang harus dikhawatirkan.


Aditya mendapat laporan dari kakeknya bahwa iblis itu telah menggunakan wujud anak-anak seusia Vina dan Vian. Dan menurut informasi, anak itu juga bersekolah dimana tempat kedua anaknya bersekolah.


Tak lupa juga kakeknya memberitau bahwa anak itu sangat lemah jika dibandingkan kedua cucunya.


Kakeknya juga memperingatkan, jika terjadi insiden kecil jangan sampai mereka terluka.


®®®


"Sayang,,,,, sini peluk papa!!" Aditya hari ini pulang lebih cepat dari biasanya.


Bukannya mendapat pelukan Aditya malah mendapat cibiran dari Vian.


"Sudahlah papa, jangan bersikap manja! Diusia papa tidak pantas bersikap seperti itu..." Vian meninggalkan Aditya yang melongo ditinggal kedua anaknya masuk kamar


"Jangan begitu sayang, maklumi saja. Anak kita berbeda dari anak pada umum nya.." Kirana menyambut Aditya yang baru saja pulang.


"Sungguh beda sekali, bagaimana mereka bisa sangat manja padamu dan sangat dingin kepadaku?" Aditya masih saja merasa bahwa anak-anaknya terlalu berlebihan


"Cepatlah mandi. lalu kita makan malam..." Pinta Kirana setelah meletakkan tas dan juga jas Aditya kemudian berlalu keluar kamar.


Kirana bergegas menyiapkan makan malam dibantu kedua anaknya. Setelah semuanya siap barulah Vina memanggil papanya untuk makan.


Vina masuk ke kamar papanya dan mulai mengajaknya makan malam.


"Papa, ayo kita makan." Cukup singkat jadi terkesan dingin jika itu berbicara dengan orang tuanya.


"Apakah begini caramu berbicara kepada orang tua?" Aditya melotot dengan sikap dingin anak perempuannya


"Oh ayolah papa. Jangan manja. Oke! Vina minta maaf. Papa sayang...." Dengan wajah dibuat imut Vina duduk dipangkuan papanya.


"Gendong..." Dengan manjanya Vina mengulurkan kedua tangannya. Meskipun sedikit jangah dengan sikap kekanak-kanakannya.


"Nah ini baru anak papa" Dengan ceria Aditya menggendong putrinya menuju meja makan.


"Ooohhh lagi??!" Vian terlihat malas melihat sikap mengejek adiknya yang tengah digendong.


*Kau pikir aku tak bisa?* Vian bersungut melihat kelakuan adiknya.


"Ohh mama, rasanya aku ingin sekali disuapi. Tolong suapi anakmu yang malang ini mama...." Dengan muka seperti anak anjing Vian memohon kepada mamanya.


Senyum Kirana melebar, dia tau bahwa kedua anaknya sedang berebut kasih sayang kedua orang tuanya.


"Tentu saja my Prince!" Kirana mengangkat Vian lalu memangkunya. Sesuap demi sesuap Kirana menyuapi anak laki-lakinya.


Begitu pun Aditya, tengah sibuk menyuapi Vina yang bergelayut manja di pangkuannya.


Tak jarang kedua anak itu saling menjulurkan lidahnya saling mengejek dan memamerkan betapa disayanginya mereka.


Keseruan saat makan tetap berlanjut. Masih dengan tingkah konyol si kembar yang bahkan memamerkan bahwa mereka mendapatkan gelas bekas orang tua mereka hanya untuk minum.


Hingga acara makan malam selesai, Kirana membereskan meja makan dibantu si kembar.


DDUUUUAAAARRRRR


Terjadi ledakan di luar gedung apartemen