
"Sayang, kamu istirahat aja, biar Sivia sama adek yang siapin semuanya." Aditya menuntun istrinya agar duduk manis di ruang tamu karena khawatir dia lelah. Hamil dua bayi sekaligus memang membuat Kirana sangat mudah lelah.
Lalu Aditya meninggalkan sang istri menghampiri kedua sahabatnya yang sedang membantu Sivia dan adiknya.
Setelah semua siap Kirana diajak ke meja makan untuk makan bersama.
"Uwaahhhh, siapa nih yang masak?" Kirana sangat senang bisa melihat semua hidangan yang ia rindukan selama ini.
Ada ayam panggang, urap, tempe mendoan, sambal terasi, sayur asem bahkan ikan asin juga tersedia disana.
Mulut Kirana sudah banjir air liur, dia sangat tidak sabar ingin mencomot sepotong kecil ayam panggang namun tangannya dipukul oleh Sivia.
"Sabar napa buk!" Kirana hanya nyengir tidak peduli dengan peringatan sahabatnya. Ia tetap mengambil sepotong paha ayam yang sangat menggiurkan.
"Liat aja kakak ipar gue! Sumpah, selama inu gue kagum ama dia karena nggak banyak tingkah. Liat kayak gini gue undur diri jadi adek ipar aja lah..." Dengan semangat Adelia menggoda kakak iparnya yang terlihat lucu saat mengambil potongan daging ayam di meja.
"Kalian ngapain nggak makan? Emangnya kenyang liat gue makan? Kalo nggak mau makan, gue makan sendiri nih...." Dengan wajah ceria Kirana mengambil beberapa masakan dan menaruhnya di piring hingga berasa piringnya tak muat lagi menampung makanan di piringnya.
Setelah Kirana selesai mengisi piringnya, barulah ia mengambil untuk suaminya. Selapar apa pun Kirana tak pernah lupa melayani suaminya. Yang lainnya pun ikut mengambil makanan bergantian.
"Wuaahhh enak juga masakan kita, nggak salah kalo berguru sama eyang Gugel. Emang de best dah.." Adelia membanggakan hasil olahannya bersama Sivia.
Namun dari tadi Sivia hanya terdiam. Tak ada kata-kata polos yang biasa membuat riuh suasana saat mereka berkumpul.
Sebuah usapan lembut dikepalanya mengagetkannya dan menoleh kesamping dimana Sam berada.
"Mikirin apa sayang?" Tanya Sam lembut
"Mikirin masa depan." Singkatnya
"Kenapa dengan masa depan kita?" Sam sangat penasaran dengan penyebab perubahan sikap kekasihnya.
"Oke kita makan dulu aja, habis itu bantuin cuci piring, baru gue jelasin." Pinta Sivia sambil menyuapi Sam sebuah potong tempe.
"Enak."
"Iya makanya dimakan, jangan dianggurin."
"Maksud lo???" Sam bingung dengan kata-kata Sivia.
"Nggak dianggurin sayang, kan diapelin."
"Mmmm, untung aja gue nggak dikacangin." Sivia kembali menyuapi Sam dengan sesendok penuh nasi dengan sepotong daging.
"Ehemmm... Udah Sam, buruan halalin. Kasihan anak gadis orang elo gantungin lama-lama kayak jemuran pas lagi ujan. Kagak kering-kering, bau iya!! Hahahah." Suasana romantis yang tercipta kontan ambyar dengan celotehan Aditya.
"Oh iya, tadi pas kita lagi belanja. Kayaknya ada yang ngebuntutin kita deh..." Ucap Sivia serius
"Kok lo nggak bilang ke gue Vi?" Kirana menghentikan makannya dan menatap ke arah Sivia sedikit marah.
"Gue nggak mau lo panik di jalan." Jelas Sivia
"Lo inget ciri-cirinya nggak?" Aditya bertanya dengan sangat serius.
"Seunget gue, dia kayaknya cewek. Tapi pas kita turun dari taksi dan naik ke apartemen , gue lihat tu orang mau ikut tapi tiba-tiba jatuh kayak terpental gitu. Padahal nggak ada apa-apa disana." Jelas Sivia sambil mengingat-ingat kejadian tadi sore.
"Oke, kita makan dulu aja." Agung mencoba meredam situasi yang tiba-tiba tidak sesantai tadi.
Semuanya menikmati makan malam dengan sangat puas. Sam mengajukan diri untuk mencuci piring dengan Sivia. Dan menyuruh yang lain agar segera berpindah ke depan tivi.
Sivia dan Sam membereskan meja, dan mulai mencuci piring kotor.
Sambil mencuci piring Sam menatap lembut kearah Sivia.
"Kenapa?" Sebuah colekan di hidung mengagetkan lamunan Sam.
"Minta cium dong..." Sam memonyongkan bibirnya dengan wajah melas.
"Kok tiba-tiba?" Sivia langsung merah pipinya mendengar permintaan Sam yang menurutmu aneh.
Sam mendekatkan wajahnya kearah Sivia, dengan sangat sadar Sivia mengecup pipi Sam lalu melanjutkan mencuci piring. Wajahnya terlihat sangat malu dengan tindakan yang tiba-tiba.
"Kok pipi?" Sam protes namun sangat senang dengan inisiatif Sivia kali ini.
"Kita nikah yuk!!!" Kembali Sam membuat Sivia tersipu mendengar kata-katanya.
Sivia mengangguk pelan, dia ingat nasehat sahabatnya siang tadi. Dan dia tak mau kehilangan Sam jika menolak permintaan Sam lagi.
"Beneran?" Sam masih tak percaya, senyum lebar menghiasi Wajahnya
"Serius???" Kembali Sam bertanya dengan mata berbinar.
"Iya, serius, duarius bahkan sepuluh rius!" Sivia memutar tubuhnya menatap wajah Sam dengan sangat malu.
Alhamdulillah Yeayyyy
Sam bersorak kegirangan, hingga membuat Aditya, Kirana, Agung dan juga Adelia menoleh kearah mereka.
"Ini nyata kan? Bukan mimpi?" Sam menampar pipinya sendiri saking tidak percayanya
Lalu sebuah ciuman lembut mendarat di pipinya.
"Hah" Sam melongo mendapat ciuman yang kedua dalam waktu secepat ini
"Gimana? Nyata kan?" Ucap Sivia lembut
"Bibir dong...." Rajuk Sam
"Kelarin dulu cucian piringnya, baruu....."
"Baru boleh cium bibir?" Sahut Sam gemas
"Nggak gitu juga kali!!" Sivia mengalihkan wajahnya melanjutkan aksi cuci piring. Sam sangat senang melihat reaksi Sivia yang tampak malu-malu.
Begitu selesai cuci piring Sam menahan Sivia dan mengurungnya disamping Kulkas dengan lengan kekarnya.
"Jangan kayak gini sih, malu..."Sivia menundukkan wajahnya, tak berani menatap wajah Sam. Sam mengangkat dagu Sivia dengan telunjuknya, kedua wajah saling berhadapan
"Ngapain mau? Mereka aja nggak malu..." Dengan lembut Sam mengecup bibir Sivia.
Meskipun ini bukan pertama kali mereka berciuman, tapi masih mampu membuat jantung keduanya berpacu sangat cepat. Debaran yang luar biasa, lebih dahsyat dari sebelumnya. Mereka berciuman sangat lama, sampai keduanya kehabisan napas.
"Kamu yakin dengan keputusanmu?" Tanya Sam kembali.
"Iya, aku juga pengen punya anak. Dan aku maunya sama kamu Sam." Sivia kini mengambil inisiatif untuk mencium Sam duluan.
Dengan perasaan bahagia Sam menyambut kekasihnya dengan sangat ganas. Kembali mereka berciuman lagi, lagi dan lagi. Hingga
"Udah deh, kalian buruan nikah. Biar enak!" Suara Aditya mengagetkan keduanya yang sedang asyik bermesraan.
"Sialan lu! Ganggu aja!" Gerutu Sam disambut tawa puas Aditya sambil membawa sebotol air dingin dari kulkas.
Kembali Sam mengecup bibir Sivia lalu keningnya kemudian menggandeng tangan Sivia bergabung dengan yang lainnya.
Disana mereka sedang menonton film romantis sambil menikmati camilan di meja. Aditya yang memangku kepala Kirana sambil mengelus perut gendut Kirana. Sedang Adelia bersandar di dada Agung. Sam bergabung di kursi sebelah Agung menarik tangan Sivia agar duduk dipangkuannya.
Belum sempat Sivia menolak dia sudah terduduk dipangkuan Sam dengan pelukan hangatnya.