Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 38



"Pagi sayang...." Kirana menyapa suaminya yang baru saja keluar dari kamar. Susanti sedang membersihkan rumah, sedangkan Kirana memasak untuk sarapan.


"Sus, kamu nanti pas acara tujuh bulanan ikut aja ya,,,," Pinya Kirana kepada gadis yang sedang membantunya menyiapkan makanan di meja.


"Emang kapan mbak?" Dengan penuh hormat Susanti bertanya


"Minggu depan, kamu bantuin adek ku sama temen-temenku. Ya acaranya simpel kok."


"InsyaaAllah ya mbak." Susanti lalu membuatkan susu ibu hamil untuk Kirana


Aditya sudah rapi siap ke Rumah Sakit untuk bekerja. Bersiap untuk sarapan bersama Kirana.


"Sus, kamu duduk sini makan bareng sama kita." Seru Kirana


"Tapi mbak.." Susanti sedikit tidak enak


"Nggak papa, aku udah anggap kamu kayak adek q sendiri. Biarkan aku merasakan bahagianya makan bareng keluarga Sus," Pinta Kirana kali ini dengan sedikit paksaan.


Dengan kepala masih menunduk Susanti duduk di Sebelah Kirana.


Mereka menikmati sarapan tanpa ada perbincangan, karena memang Aditya sedang terburu-buru.


Usai sarapan Aditya berpamitan kepada Kirana.


Susanti membantu Kirana membereskan bekas makan mereka.


"Sus,"


"Iya mbak." Susanti menoleh ke sumber suara di depan kulkas.


"Kamu lulus kuliah ada rencana apa?"


"Belum ada mbak," Jawabnya pelan


"Kalo seterusnya kerja sama saya mau nggak?" Kirana mendekat ke arah Susanti


"Bukankah mbak Kirana hanya butuh bantuan saat hamil tua saja?" Susanti mencoba memastikan


"Rencana awal memang kayak gitu. Tapi ngurus dua bayi kalo nggak ada yang bantuin repot juga." Jawab Kirana sambil menikmati buah di meja makan.


"Iya nanti saya ijin dulu, kalo dibolehin baru saya kasih keputusan." Ucap Susanti masih didepan cucian piring.


"Emang pacar kamu udah ngajakin nikah?" Tanya Kirana enteng


Sedangkan yang ditanya malah menitikkan air mata.


"Kami sudah berakhir mbak." Ucap Susanti dengan nada bergetar.


"Kok putus? Bukannya kalian saling sayang dan juga dia kam bawahan mas Adit?" Tanya Kirana penuh selidik


"Orang tuanya tidak setuju dengan hubungan kami mbak. Dia dijodohkan dengan wanita kaya." Ada kesedihan di wajahnya.


"Sudahlah, kalau memang bukan jodoh mau gimana lagi. Kamu harus buktikan, begitu kami berpisah darinya. Kamu lebih bahagia, kalian masih tahap pacaran. Belum menikah, tidak ada anak yang kalian tinggalkan. Tidak ada hati yang lebih sakit dari pada kalian. Beruntunglah kamu berpisah sebelum cinta itu lebih dan lebih." Kirana diam sejenak. Mengingat masalalunya yang sangat menyakitkan.


"Mbak Kirana benar, Saya harusnya bersyukur. Ini berakhir sebelum semuanya terlambat." Susanti mulai berpikir jernih dan menimbang perkataan Kirana.


®®®


"Kalian tau? Semenjak dokter Kirana hamil dia bahkan tidak pernah datang ke rumah sakit."


"Benar, ternyata Pak Aditya tidak setia. Padahal istrinya sedang hamil dia malah selingkuh.."


Kasak kusuk perawat di rumah sakit, benar benar membuat geram.


"Aku juga heran, padahal dokter Zenith juga tau kalau pak Aditya dan ibu Kirana adalah pasangan suami istri. Masih tidak tau malu mendekati pak Aditya.." Salah seorang perawat menghampiri beberapa perawat yang asik bergosip.


"Kalian tau? Setiap pagi aku lihat dokter Zenith masuk keruangan Pak Aditya dan berada di dalam sangat lama...."


"Bahkan pernah saya lihat dokter Zenith pulang bareng Pak Aditya. Satu mobil!" Dengan penuh semangat mereka menggosipkan atasannya.


Amarah Kirana sudah tidak terbendung. Saat kondisinya hamil besar, penanpilannya tak semenarik dulu. Aditya tega bermain dengan perempuan lain.


Kirana teringat saat dulu Aditya mengejar dirinya, bersikap seenaknya sendiri. Meski tak pernah mendapat respon darinya, dulu Aditya sangat gigih.


Tapi sekarang, setelah bersama. Dengan mudahnya dia berpaling?


Dengan amarahnya yang berkobar, Kirana berusaha berjalan anggun menuju ruangan Aditya. Saat akan membuka pintu Kirana mendengar perbincangan Aditya dengan seorang perempuan.


Karena merasa dikhianati tanpa pikir panjang Kirana segera pulang. Dengan tangis yang tak bisa ditahannya lagi. Tempat makan yang ia bawa dibuangnya ke tempat sampah dekat ruangan Aditya.


Aditya merasa seperti ada yang akan masuk ke ruangannya, lalu Aditya beranjak keluar hendak melihat siapa yang disana.


Namun tidak ada seorang pun di luar. Kembali Aditya masuk ke ruangannya.


Kirana bersembunyi di balik tembok sisi lain ruangan Aditya. Dengan perasaan yang sangat kacau, Kirana berjalan menuju parkiran. Melajukan mobilnya membelah kota London.


Mencari ketenangan, Kirana menuju ke sebuah taman. Mencari tempat teduh untuk meredam amarahnya yang kian membeludak.


Hingga hari mulai gelap, Kirana memilih sebuah kafe untuk mengisi perutnya yang sudah lapar. Kirana untuk sesaat tak ingin pulang. Cukup lama Kirana berada di kafe, hingga jam ditangannya menunjukkan pukul 11 malam. Kirana lebih memilih mencari hotel daripada kembali ke apartemen dan melihat wajah pria yang telah menghianatinya.


Setelah diingatnya, memang Aditya lebih diam dan tidak perhatian lagi padanya. Setiap hati selalu ingin cepat cepat pergi ke Rumah Sakit. Pulang pun sangat larut.


Mengingatnya saja membuat Kirana sangat frustasi. Kirana tak ingin rumah tangganya seperti orang tuanya, tapi kalau dipaksakan akan lebih sakit lagi. Apalagi Kirana sedang mengandung sekarang.


Didalam hotel Kirana berendam sangat lama. Hingga tertidur di bathup.


®®®


Aditya bersiap untuk pulang, belum beranjak dari kursinya Charless masuk ke ruangan Aditya tanpa mengetuk.


"Udah mau pulang?" Charless duduk di sofa menghadap Aditya.


"Kamu makan enak nggak manggil aku. Nggak inget waktu minta aneh-aneh sampe pusing nyariinnya..."Charless nyerocos tanpa peduli raut wajah Aditya yang berubah kebingungan


"Maksud kamu? Makanan enak apa?" Aditya duduk mendekat di sebelah Charless


"Iya tadi kan Kirana kesini bawa makanan, satu paper bag penuh." Jawab Charless biasa saja


"Dia tidak kesini, jam berapa dia kesini?" Kembali Aditya bertanya


"Sebelum jam istirahat"


Aditya mencoba mengingat sekitar jam itu dia kemana. Setelah diingatnya lagi dia tetap disini, dan berbicang dengan Zenith.


Astaga!!! Jangan sampai Kirana salah paham.


Aditya nampak panik, lalu segera keluar. Dan benar saja, di tong sampah dekat ruangannya dia melihat paper bag. Dilihatnya tong sampah itu, dan dibukanya isi paper bag nya. Makanan Indonesia semua, dan itu kesukaan Aditya semua.


Kembali Aditya masuk ke ruangannya bergegas mengambil tas dan juga kunci mobilnya tanpa memperdulikan Charless yang kebingungan dengan sikap Aditya.


Segera Aditya berlari ke parkiran , tanpa perduli sapaan dari semua karyawan di rumah sakit. Hatinya sangat cemas kalau Kirana salah paham. Dengan sangat terburu-buru Aditya melajukan mobilnya ke apartemen.


Begitu masuk apartemen tidak ada orang sama sekali. Dengan sangat panik Aditya menghubungi Kakek, beserta semua yang ada disini. Tak lupa Aditya juga menelpon Charless.


Namun semua tak ada yang tau dana dia berada.


Semuanya pun ikut mencari kemana pun tempat yang mungkin didatangi Kirana.


Hingga hampir pagi tak ada yang tau tentang keberadaan Kirana. Sampai berhari-hari tak ada kabar tentang Kirana. Semua yang mengenal Kirana telah dihubungi, tetap tidak ada kemajuan


®®®


Selamat membaca