
Jam tiga pagi Kirana mengeluh sakit pinggang, dan rasa mulas ingin buang air besar. Rasa sakit itu datang dan pergi silih berganti. Sebentar sakit yang sangat melilit, kemudian hilang beberapa saat. Lalu datang lagi, tak lama hilang lagi.
Mengetahui sang istri bolak balik kamar mandi, Aditya terbangun.
Sambil mengucek mata, "Kenapa kamu sayang?" Aditya terlihat khawatir menyaksikan istrinya meringis kesakitan.
"Perutku mulas dari jam tiga tadi..." Sambil meringis Kirana menjawab Aditya agar rasa khawatirnya hilang.
Namun itu justru membuat Aditya makin panik. Aditya bergegas menuju kamar ibunya lalu mengetuk pintu kamar.
Tok
Tok
Tok
"Mak, buka mak!" Aditya berteriak panik. membuat sang ibu pun ikut panik. Tak lama pintu pun terbuka.
"Ada apa nak?"
"Kirana sakit perut mak," Dengan sigap sang ibu bersiap-siap dan menyuruh Aditya serta Kirana menyiapkan diri.
Ibu Mira membawa sebuah tas yang telah disiapkan jika tiba saat persalinan.
Ketiganya bejalan dengan hati-hati menuju lobby, disana sudah ada supir yang menunggu Aditya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata mengamati mereka lalu tersenyum puas.
Di tengah jalan, tak henti-hentinya Aditya kebingungan. Sedangkan Kirana tampak santai menikmati rasa sakit di perutnya.
Malah Kirana sempat melahap beberapa potong roti yang ia bawa sebelum keluar rumah.
Melihat tingkah istrinya, Aditya melirik heran
"Sayang.,,,,, Apakah sudah tidak sakit lagi?" Tanya Aditya sembari menatap Kirana yang dengan santainya memakan roti.
"Siapa bilang nggak sakit? Tapi aku lapar.... Aku nggak mau saat nanti nggak punya tenaga buat memperjuangkan anak kita..." Sahut Kirana dengan wajah sewot.
Suami panik kayak gini, eh dia enak-enakan makan. Mana nggak nawarin lagi!!
Aditya sedikit kesal, namun juga lega karena istrinya tidak manja. Dia memilih mengumpulkan tenaga untuk melahirkan nanti, dari pada bermanja-manja.
Ibu Mira pun kagum dengan tekad menantunya. Dia lebih kuat dari kelihatannya.
Tak lama mereka sampai di rumah sakit. Begitu sampai di IGD, para perawat langsung menyambut Kirana dengan kursi roda. Tapi Kirana menolak, dia merasa masih sanggup untuk berjalan.
Kirana diarahkan ke ruang pemeriksaan khusus ibu melahirkan di IGD. Meski Kirana orang penting, dia tak ingin diistimewakan.
Setelah pemeriksaan, bagian kebidanan memberitahukan bahwa Kirana sudah pembukaan 5.
Kirana dibawa ke ruang bersalin dengan menggunakan kursi roda. Awalnya Kirana menolak, tapi setelah dibujuk akhirnya dia menyerah.
Begitu sampai di ruang bersalin, hanya Aditya yang di perbolehkan mendampingi. Tapi karena Kirana adalah cucu pemilik rumah sakit. maka ibu Mira pun dipersilakan mendampingi Kirana.
Setelah menunggu kurang dari satu jam, akhirnya air ketuban pecah dan tak lama terdengar tangisan bayi. Selang beberapa menit bayi kedua lahir.
Proses melahirkan dengan cara normal meski bayi kembar sungguh hal yang sangat menakjubkan. Meski telah disarankan untuk caesar, karena melihat posisi bayi memungkinkan untuk lahir normal. Akhirnya Kirana diperbolehkan melahirkan secara normal.
Suara tangisan bayi saling besahutan. Kedua bayi itu, berada di dada Kirana untuk melakukan IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Metode ini juga dapat merangsang Asi agar cepat keluar. Serta mengurangi kemungkinan pendarahan pasca melahirkan.
Bayi kembar perempuan dan laki-laki dengan berat masing-masing 2,3kg dan 2,4kg. Untuk ukuran bayi kembar itu terbilang bagus.
Kedua bayi pun kini tertidur pulas setelah dibedong dengan selimut bayi yang tebal. Kedua bayi mungil itu ditidurkan dalam sebuah inkibator untuk menjaga kehangatan tubuh bayi. Setelah mendapat imunisasi pasca melahirkan, mereka dibawa ke ruang rawat.
Seharusnya Kirana bisa langsung bisa dibawa pulang setelah 6 jam pasca melahirkan. Itu jika kondisi ibu tidak mengalami pendarahan dan resiko lainnya.
Karena Kirana terlihat sehat, maka dia meminta untuk segera pulang. Dia tak mau menginap di rumah sakit. Keinginannya disetujui oleh dokter, dan setelah 6 jam pasca persalinan Kirana diperbolehkan pulang.
Susanti yang seharusnya membantu di rumah, dia tidak bisa karena harus segera kembali ke Indonesia.
®®®
Beberapa hari sudah kedua buah hati Kirana dan Aditya menikmati udara bebas. Kembali rumah Aditya dan Kirana ramai dengan kehadiran sahabatnya dan juga adik mereka.
Hari ini mereka sangat sibuk karena akan ada acara pemberian nama untuk si kembar. Mengundang ahli agama untuk tasyakuran di rumah, serta beberapa WNI dan anak yatim.
Acara berlangsung secara khidmat.
VINA ADITYA PUTRI
dan
VIAN ADITYA PUTRA
Kedua bayi silih berganti digendong oleh para tamu serta sanak saudara yang hadir disana.
Kebahagiaan menyelimuti keluarga itu. Meski sedang bahagia, tidak mengurangi kewaspadaan mereka akan keselamatan kedua bayi mungil itu.
Hanya menunggu waktu yang tepat, pihak yang ingin memanfaatkan bayi bayi mungil itu selalu mengawasi. Kapan saja siap membawa salah satu bahkan keduanya sebagai persembahan.
Sejak kehadiran si kembar, Kirana dan Aditya terlihat semakin kompak dan saling menjaga. Kirana yang sepenuhnya dapat mengendalikan kemampuannya setelah melahirkan. Kini sudah dapat menjaga kestabilan emosinya.
Jika saja tidak, itu akan berdampak buruk untuk dirinya sendiri. Karena pihak lain akan memanfaatkannya untuk keuntungan mereka sendiri.
Setelah melahirkan bayi kembar, Kirana dapat memasuki emosi lawannya, serta dapat memanipulasi memori lawan. Meski membutuhkan tenaga ekstra. Bahkan Kirana juga dapat melihat titik rasa sakit seperti Aditya, itu membuat Kirana sedikit terganggu pada awalnya.
Seiring berjalannya waktu, Kirana dapat menerima semua itu.
Bahkan Kirana sangat tenang saat menghadapi kedua bayinya ketika rewel. Karena ketenangannya, membuatnya tidak lah sulit menghadapi rewelnya bayi.
®®®
Menginjak usia 5 tahun, tampak perubahan sikap pada kedua anak mereka. Untuk anak seumuran mereka, tindakan Vian dan Vina tergolong Berlebihan.
Seperti mereka dewasa sebelum waktunya. Bahkan sikap mereka yang terlalu perfect membuat Aditya dan Kirana kewalahan.
Sering kedua bocah itu mengajari neneknya dalam hal memasak dan lainnya. Bahkan saat keduanya dibawa ke rumah sakit, kedua bocah itu dengan sangat enteng bicara bahwa ada kesalahan penanganan pada pasien. Dan dengan penuh percaya diri keduanya malah mengajari para dokter muda untuk menangani pasien.
Semua yang ada di rumah sakit dalam waktu singkat langsung mengidolakan duo bocah jenius ini. Bahkan, keduanya dapat menguasai teknologi terkini dan dapat mengoperasikan berbagai alat medis super canggih yang ada di rumah sakit itu.
Kejeniusan Vian dan Vina sampai ke telinga Arta, dengan sangat ambisius Arta bertekad untuk mendapatkan kedua bocah jenius itu.
Tidak semudah memprovokasi anak kecil pada umumnya, dengan diberi permen dan uang maka akan menurut. Berbeda dengan Vian dan Vina, diiming-imingi sebuah Laboratorium super lengkap dan super canggih, dengan nada remeh mereka menolak. Karena semua yang mereka tawarkan sudah didapatkan dari kakek buyutnya.
☘☘☘