Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 37



Beberapa hari setelah Kayla sadar dan pulih sepenuhnya, Kayla mulai ingat kejadian gila yang dia lakukan di luar kendalinya untuk mencelakai Kirana.


Gimana keadaan tu anak sekarang ya? Udah berapa lama gue ngebo? Padahal udah lama nggak bangun, napa badan gue berasa enteng banget sih? Jalan-jalan keluar enak kali ya...


Kayla berjalan menuju pintu dan hendak membuka pintu kamar rawatnya. Namun belum sempat membuka pintu, dari luar sudah ada orang lain yang membukanya.


Setelah melihat sosok yang ada dihadapannya, entah kenapa Kayla merasa takut dengan tatapan tajam matanya


"Lo siapa sih? Kenapa disini?" Kayla berjalan mundur pelahan saking takutnya.


Sedangkan Arta tidak perduli dengan itu, dia terus melangkah maju tanpa ragu. Hingga tubuh Kayla terantuk pinggiran ranjang dan terjatuh.


"Tolong jangan mendekat!!" Setengah teriak Kayla memohon agar Arta tidak mendekatinya.


Teriakan itu tidak membuat Arta berhenti, malah semakin membuatnya lebih tajam menatap ke arah Kayla.


"Kamu nggak usah takut, karena kamu belum benar-benar pulih. Jika kamu sudah pulih, baru kita melakukannya. Suka ataupun tidak." Dengan tegas Arta mengucapkan kata itu


Kayla tidak tau apa dari ucapan Arta. Yang ada malah membuat jantungnya berdegub semakin kencang saking takutnya.


"Tolong biarin gue pulang.." Pinta Kayla dengan wajah dan suara memelas.


"Tenang saja, orang tua mu sudah mempercayakanmu berada dibawah perlindunganku!" Dengan sangat tegas Arta menekankan kalimat itu.


"Kamu harus nurut jika ingin bebas di luar sana!" Ucap Arta pelan namun masih membuat Kayla gemetar ketakutan


Lalu sebuah Arta meninggalkan Kayla sendiri lagi di ruang rawatnya.


"Kenapa lo lakuin ini ke gue? Gue bukan tahanan! B*ngs*t lo!!" Kayla berteriak penuh amarah. Dia ingin segera keluar dari penjara ini.


®®®


"Sayang ayo buruan, pak Willy bilang Kakek dan yang lainnya udah tiba di hotel sore tadi." Aditya sudah berpakaian rapi. Dengan celana jeans selutut dan juga kaos navy membalut tubuhnya yang kian hari kian jadi. Serta sebuah sneaker berwarna putih melengkapi penampilannya.


"Iya..." Sedangkan Kirana mengenakan dres motif bunga amarilis yang membuat warna kulitnya semakin cerah. Dengan riasan sederhana, Kirana tampak ayu.


"Sini," Aditya menjulurkan tangannya, disambut Kirana dengan penuh cinta


"Kamu cantik sekali sayang." Bisiknya sambil mencolek lembut hidung Kirana.


"Emang dulu nggak cantik?"


"Dulu cantik, sekarang makin cantik sayang." Aditya menggandeng Kirana menuju lift.


Disaat bersamaan lift tiba-tiba mati


JEGLEEKK


Kirana terkejut, memegang erat lengan Aditya. Lampu padam, lalu tak lama menyala lagi.


"Sayang, perasaan nggak enak banget." Ucap Kirana sangat khawatir.


Kirana tidak bisa tenang semenjak Sivia bilang ada yang mengikuti mereka saat belanja.


"Tenanglah, mungkin ini hanya kesalahan kecil." Aditya menenangkan Kirana yang tampak sangat panik.


Lift kembali beroprasi, lalu


Ting


Pintu lift terbuka. Keduanya menuju lobi, di luar sudah menunggu mobil untuk membawa mereka ke hotel tepat keluarga mereka menginap.


BRUUGGHH


Kirana hampir terjatuh saat seorang pria tak sengaja menabrak Kirana di depan pintu lobi. Untung gerakan pria itu lebih sigap untuk menangkap tubuh Kirana hingga Kirana tak terjatuh.


"Cantik, " Dengan senyum manis. Lalu membantu Kirana agar tubuhnya seimbang. Pria itu mengucapkan maaf lalu masuk ke apartemen.


"Kamu nggak papa sayang?" Aditya panik mendapati Kirana mematung setelah tadi tersenggol oleh seorang pria tak dikenal.


"Kenapa sayang?" Aditya bertanya lagi


"Kayaknya aku kenal orang itu. Tapi matanya sangat aneh. Dan membuat ku merinding.." Kirana mengikuti Aditya berjalan memasuki mobil.


Di dalam mobil Kirana masih mencoba mengingat dimanakah ia pernah melihat sorot mata seperti itu. Terlihat sangat menakutkan walau sedang tersenyum.


Kirana yang merasa ketakutan hanya membenamkan wajahnya dalam pelukan Aditya.


Tanpa banyak bertanya, Aditya memberi kesempatan Kirana menata hatinya. Bagaimanapun setelah peningkatan kemampuan Aditya waktu itu. Tidak hanya dia bisa melihat rasa sakit orang lain, tapi juga bisa merasakan emosi orang lain. Bahkan dapat menyelami pikiran lawannya.


Dalam diam Aditya menunjukkan rasa sayang dengan memberikan rasa aman kepada Kirana.


"Kamu sudah tenang sayang?"


Sebuah anggukan pelan dari Kirana membuat hati Aditya tenang.


"Jangan terlalu memikirkan hal yang lalu, kasihan anak-anak kita."


Aditya memeluk Kirana dari samping, tangan satunya mengelus lembut perut Kirana yang membesar. Sesekali dikecuplah kening Kirana .


Hingga tiba di hotel keluarga mereka menginap. Aditya menggandeng Kirana menuju tempat keluarga mereka sedang berkumpul.


"Cucuku..." Sang kakek menyambut kehadiran mereka. Dan memeluk Kirana cukup lama. Bergantian dengan orang tua Aditya lalu mamanya Kirana.


"Wauw anak emak cantik banget." Ibu Mira mendekat dan memeluk Kirana dengan sangat bahagia


"Iya anak sendiri nggak dipeluk, " Adelia memonyongkan mulutnya sembari membentangkan kedua tangannya. Ibu Mira dengan terkekeh memeluk putri nya.


"Gitu doang iri ni bocah, " Aditya gemas dengan Adiknya yang selalu manja kepada sang ibu. Seraya mencubit pipinya yang selalu jadi sasaran empuk


"Sakit abang..." Rengek Adelia masih dalam pelukan ibunya.


"Sini kakak ku yang bulet...." Adelia menarik lengan Kirana untuk bergabung dengannya


Aditya berharap rasa kalut Kirana hilang setelah berkumpul dengan keluarganya.


"Ini nggak ada yang minta peluk mama?" Mama Kirana pun ikut bergabung dengan yang lain


"Eh, biar adek aja yang sama mama. Emak adek pinjemin ke kakak bentar aja...." Adelia menghampiri mama Kirana.


Dia tau hubungan ibu anak itu kurang baik.


"Kita makan yuk, udah laper nih." Aditya mengajak semuanya untuk segera makan.


Setidaknya Kirana sudah bisa tersenyum. Itu sudah cukup. Aditya hanya menginginkan kebahagiaan Kirana.


Seusai makan mereka mulai membicarakan untuk membuat acara tujuh bulanan. Kirana meminta agar mengadakan amal sebagai rasa syukur di kehamilan. Dia tidak ingin pesta mewah seperti saran mamanya.


®®®


Setelah acara usai, Kirana dan Aditya berpamitan kembali ke Apartemen.


Suasana hati Kirana sangat baik, sehingga diperjalanan pulang hingga sampai di apartemen Kirana terlihat sangat ceria.


Begitu sampai di apartemen Kirana segera menuju dapur. Dan mengeluarkan beberapa buah dari kulkas, lalu membawanya ke depan tv.


"Sayang, tidak mandi dulu?"


"Duluan aja, laper banget soalnya..." Kirana sibuk dengan buah-buahan dimeja sambil menyalakan tv.


Aditya mendekat dan ikut bergabung.


"Katanya mau mandi? Kirana menatap suaminya yang duduk disampingnya


"Nanti, pengennya mandi sama kamu.." Goda Aditya


"Wah, alamat ini kalo ngajak mandi bareng.." Dengus Kirana


"Kenapa?" Aditya menarik dagu Kirana dengan lembut.


Sebuah ciuman yang sangat dalam, perlahan semakin lama memacu jantung keduanya. Semakin panas hingga keduanya sudah dalam keadaan polos. Melihat perut Kirana yang membesar, semakin menambah gairah Aditya. Entah kenapa, dalam keadaan hamil besar istrinya terlihat sangat seksi dan menggairahkan.


Dengan napas tersenggal-senggal keduanya berpacu menuju titik kenikmatan. Hingga keduanya terkulai lemas.


Belum merasa puas, Aditya menggendong Kirana ke kamar mandi untuk melanjutkan season kedua malam ini.


®®®