Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 52



Hahahahaha


"Mukamu...."


Cekrekk


Vina tak tahan melihat ekspresi wajah Joan yang memerah.


Menyadari dirinya difoto candid oleh Vina, Joan malu. Berusaha merebut ponsel Vina hendak menghapusnya.


Namun gagal, ternyata Vina mengirim foto itu kepada Vian.


"Vina!!!?"


Joan sangat malu, apalagi foto memalukan itu dikirim ke Vian.


"My lovely Joan, Vian pasti sedang tersenyum disana. Melihat wajah cantikmu yang amat merah ini...."


Hahahaha


Kembali Vina tertawa,


"Jujur saja, selama ini kamu menyukai kakakku kan???"


Deg


Ucapan Vina barusan sukses membuat Joan kembali memerah.


"Vin, darimana kamu tau??" Joan menatapnya penuh selidik


"Semua orang pun tau, bahkan Vian juga tau kamu menyukainya..." Vina terkekeh melihat Joan yang mulai masuk perangkapnya.


Vina mulai bosan karena kakaknya mulai jarang bermain dengannya.


"Apaa???? Trus aku harus bagaimana ?? Apakah Vian membenciku??" Joan terlihat sangat panik.


"Tentu saja tidak, " Vina masih tersenyum melihat ekspresi Joan yang kalang kabut merasa rahasianya terbongkar.


Dia merasa kecolongan, padahal sudah menutup rapat rahasianya.


"Tenang saja, dia tau dari dulu. Dan dia tidak masalah dengan itu..."


Mendengar pengakuan Vina, Joan semakin malu. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Haahhh??? Sejak kapan?"


"Sejak kita SD."


"Iya."


"Selama itu???"


"Apakah dia membenciku???"


"Tidak. Kamu tidak usah khawatir. Vian menikmati perhatianmu kok...hihihi" Vina merasa puas.


Setidaknya dia melihat sahabatnya bertingkah lucu.


Apakah aku keterlaluan? Aku membongkar rahasia Joan. Padahal sudah kujaga rahasia itu cukup lama. Apakah ini rasanya menjahili orang lain???


Vina terlihat bahagia. Mencoba membuang sifat kakunya slama ini. Vian sering memberitahunya bahwa dirinya harus berubah lebih lembut.


"Joan sayang, aku tidak keberatan kamu menjadi kakak ipar ku. Tapi aku tidak yakin kamu akan tahan dengan Vian..."


"Maksud kamu???"


"Iya, aku setuju jika kalian bersama. Aku akan membantumu agar Vian mau menerimamu..."


"Really??? Why????"


"Aku tak ingin kalian menyesal seperti aku." Kebahagiaan yang tadi terlukis di wajah Vina, seketika hilang.


"Aku tahu." Joan memahaminya, itu soal Tama.


"Beranikan dirimu, perjuangkan cintamu. Buang egomu, agar kamu tidak menyesal..." Nada bicara Vina semakin lama semakin tipis.


Joan merasakan kesedihan Vina, memang benar Vina terlambat menyadari rasa sayang di hatinya.


Dan nasehat Vina memang tidak salah. Melihat Vina yang sangat kacau setelah kepergian Tama. Saat Vina menyadari perasaannya, semua sudah terlambat.


Tama pergi setelah Vina mulai menerima kehadirannya. Meski waktu itu mereka masih sangat muda, bisa dilihat bahwa perasaan Vina pada Tama sangat dalam.


"Vin, kenapa kita jadi aku kamu? Apakah kamu sudah siap menjadi adik iparku??"


"Sial lo!!!! Menghancurkan momen indah ini. Hahhh sudah gue tahan dari tadi, lucu juga kita jadi aku kamu hahahahaha" Keduanya tertawa lagi.


Menyadari obrolan mereka yang mungkin terlihat aneh dimata orang. Karena keduanya selalu tertawa namun dingin kepada mereka yang menatap kearah keduanya.


"Apakah mereka gila?"


"Orang cantik mah bebas.... Apalah kita yang hanya sebuah upil semut."


"Selain cantik mereka juga berprestasi.... Jadi kita sudah kalah poin juga kalah tampang..."


Keduanya tidak memperdulikan omongan anak-anak di sekitarnya.


"Vin, bagaimana kalau pulang sekolah kita main. Hanya berdua..."


"Kamu memang cerdas Jo! Okey kita cabut pulang sekolah nanti."


Sambil membereskan bekal makanan yang dibawa Vina setelah selesai menyantapnya. Keduanya menuju kelas masing-masing.


"Bye bye my sister inlaw..." Joan melambaikan tangan dan memasuki kelasnya terlebih dahulu.


"Hahahaha gadis itu. setidaknya gue senang jika mereka benar akan bersama." V bergumam sambil tersenyum menuju bangkunya.


Tatapnnya berubah setelah melihat seorang pria duduk di bangkunya.


"Excuse me!!!! Ini bangku saya, kenapa kamu disini??" Dengan nada dingin Vina bertanya kepada pria di bangkunya.


"Ohhh my!!!! Kita sebangku cantik! Apakah kamu lupa?"


Vina mengerutkan keningnya, bingung. Sejak kapan?


Melihat kebingungan Vina, Pria itu bangun dan mengulurkan tangannya


"Hy! I'm Lucas. teman sebangkumu."


Vina tidak memperdulikan Lucas. Dia tidak menyambut tangan Lucas untuk berjabat tangan.


Vina bahkan tidak menatapnya, asal dia tau bahwa pria itu adalah teman sebangkunya. Itu sudah cukup.


Vina tidak ingin terlibat dengan anak bernama Lucas. Vina tidak perduli dengan apa yang dilakukan teman sebangkunya.


Selama pelajaran, Lucas selalu mencoba mengajak Vina mengobrol. Namun tidak pernah ditanggapi oleh Vina.


Semakin hari sikap Lucas semakin tengil, mengingatkannya pada Tama. Vina semakin acuh, dia tidak perduli dengan apapun yang dilakukan Lucas.


Kebenciannya semakin bertambah, karena semakin lama Lucas seperti Tama.


Semakin diacuhkan, semakin Lucas berusaha keras menarik perhatian Vina.


Entah kenapa Vina tidak membaca pikiran Lucas. Sama seperti dulu dia tidak bisa memasuki pikiran Tama.


Jadi dia tidak bisa mengetahui motif apa dibalik sikap mereka.


Hingga saat Vina mulai tak tahan.


Saat akan pulang sekolah, Lucas memaksa Vina untuk menerima sebuah boneka dari Lucas.


Namun seperti biasa, dengan tegas Vina menolak.


"Please Vin, terimalah boneka ini..." Lucas memegang tangan Vina memohon dengan wajah melas


Namun segera ditepis oleh Vina, kembali Lucas memegang tangan Vina.


"Lucas Stop!!!" Vina berteriak, sudah tidak dapat ditahannya lagi.


Mendengar teriakan Vina dari dalam kelas. Joan, Lily juga Prisil berlari menghampiri Vina.


"Kenapa Vin???" Lily bertanya sedikit panik.


"Maaf tuan Lucas. Tolong jangan berlebihan! Saya tidak suka anda bersikap seperti ini kepada saya!!" Vina menatap Lucas penuh amarah dan sekali lagi menarik paksa tangannya dari genggaman Lucas.


"Kenapa Vin? Selama ini kamu hanya diam saja, dan aku rasa kamu menyukainya..."


"Dengar ya tuan Lucas, diam bukan berarti suka! Sekali lagi, saya diam bukan berarti saya suka pada anda. Justru karena saya merasa sangat terganggu dengan sikap anda yang sok manis itu..." Vina meninggalkan Lucas mengajak ketiga temannya untuk segera pulang


Ketiga sahabatnya langsung paham, Vina tidak ingin mengalami hal yang sama. Vina mulai bisa mengambil sikap dan tidak diam seperti dulu.


Yang akhirnya justru membuat dirinya terluka, semua itu karena Tama.


Dan Lucas, seperti membawa memori itu kembali. Wajar jika Vina sangat marah. Mungkin lebih tepatnya Vina tidak ingin terluka lagi.


Karena Tama Vina pernah menyiksa fisik nya dengan latihan tanpa henti. Vina menyalahkan diri sendiri karena terlalu lembek.


Dengan bersikap diam kepada Tama, membuat Tama semakin terobsesi padanya.


Kali ini Vina tidak ingin mengulanginya. Karena Vina masih berharap bocah tengil itu akan kembali. Vina menjaga janjinya,


Janjinya kepada Tama untuk tidak tergoda dengan pria lain.


Meski semenjak kepergian Tama dia tidak pernah memberi kabar. Hanya lewat berita Vina tau kabar Tama. Bahwa di Indonesia, Tama telah menjadi seorang artis terkenal.


Tentu saja hal semacam itu mudah bagi Tama. Melihat latar belakang keluarganya juga fisik nya yang mendukung.