Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 45



Waktu berlalu begitu cepat, insiden insiden kecil selalu saja terjadi. Namun dengan mudahnya dihalau oleh dua bocah kembar itu. Bagaimana pun juga si kecil Tama tidak dapat menandingi kecerdikan Vian dan Vina.


Karena sedari kecil Vina dan Vian ahli strategi dalam bertahan, menyerang bahkan mengelabuhi lawan. Di usia dini mereka secara otodidak dapat menguasai berbagai ilmu bela diri.


Kecil badannya, namun otak dan jiwanya seperti seorang profesor jenius. Menghadapi amatir seperti Tama tidak lah sulit bagi mereka. Bahkan keduanya menganggap Tama sedang mengajaknya bermain boneka.


Sering sekali Tama dibuat kesal dengan ulah tengil Vina yang meremehkan dirinya. Peringatan kakeknya yang menyuruhnya agar berhati-hati dengan anak bernama Tama tidak lah terbukti. Nyatanya Tama yang mungkin memang berada dibawah kendali iblis yang mencelakai keluarganya, tidak adaapa-apanya bagi mereka.


"Hey baby Tama yang unyu kalo lagi manyun!! Lain kali kalo mau main lego jangan di sekolahan ya!!!" Vina dengan tatapan kesal meninggalkan Tama yang. dudu kesal dibawah pohon di taman sekolah.


Sedangkan Tama menekuk wajahnya kesal, kesekian kalinya rencananya gagal untuk mencelakai bocah kembar itu.


Perselisihan ketiganya pun berlanjut sampai di bangku SMP. Lagi-lagi Pratama mengikuti dimana si kembar sekolah.


"Haduuuhhhh dia lagi!" Vina terlihat kesal melihat anak laki-laki menuju ruang kelas nya.


"Siapa Vin?" Tanya salah seorang sahabat Vina


"Musuh bebuyutan gue!" Masih dengan wajah kesal Vina menjawab tanya sahabatnya.


Terdengar riuh di kelas, Vina dan ketiga sahabatnya tidak peduli. Karena memang teman teman sekelasnya menyambut kedatangan anak laki-laki di kelasnya.


Setelah remaja memang tidak dapat dipungkiri bahwa Pratama itu tergolong tampan. Vina bergidik melihat para gadis tergila-gila dengan ketampanannya.


Tama tak sedingin saat dia di sekolah dasar. Berbeda dengan Vina, dia selalu dingin dengan orang asing.


Terlihat Tama berjalan mendekati Vina, mengusir gadis yang duduk disebelah Vina. Lalu dengan penuh percaya diri Tama duduk disamping Vina.


Kontan Vina murka dengan tingkah Tama yang seenaknya sendiri.


"Heh!!!! Ngapain duduk disini? Lo nggak liat udah ada yang duduk disini!!" Bentak Vina melihat wajah tak acuh Tama.


"Nggak ada! Dia udah pindah!" Jawab Tama dengan enteng


"Prisil!!!!! Tega lo ya!!!!" Vina mencari sahabatnya yang kabur entah kemana.


Berlari meninggalkan Tama yang duduk tenang dengan senyum kemenangan disana. Setelah menemukan Prisilia dan dua sahabatnya yang dengan mudahnya meninggalkan dirinya, Vina menghampiri ketiganya dan ngamuk tidak jelas.


"Kalian tega banget ya!! Udah tau gue musuh sama si Tama itu. Malah pake acara ninggalin gue lagi! Nah elo sil! Lo malah dengan mudahnya ngasih bangku lo kedia!!" Dengan penuh emosi Vina meluapkan kekesalannya.


"Udah belom nyah??" Sahut Joan gemes melihat tingkah lucu Vina.


"Kita nggak tega lihat wajah melas Tama Vin."


"Kalian semua ketipu!" Masih dengan wajah murung duduk disebelah Prisilia


"Kalian tau kan??? Dia selalu cari gara-gara sama gue juga abang. Meski selalu gagal sih. Tapi gue nggak mau deket-deket sama tu anak gila!!"


"Jangan gitu Vin! Terlalu benci bisa jadi cinta loh..." Ucap Lily dengan nada menggoda


Cieeeeeee


Disahut sorakan kedua sahabatnya.


"Kalian ya!!" Vina dengan kesalnya meninggalkan ketiga sahabatnya. Namun naas, kakinya justru tersandung akar pohon yang melintang.


Vina terjatuh telungkup ke tanah, penampilannya berubah menjadi seperti anak kucing tanpa tuannya.


Ketiga sahabatnya menghampiri Vina hendak menolong,, namun lebih dulu Vina di tolong seorang anak laki-laki yang tak lain adalah Tama.


Awalnya iya Vina menerima uluran tangan Tama tanpa melihat siapa pemilik tangan itu. Tapi begitu mendongak dan tau itu adalah Tama. Secepat kilat Vina melepas genggam tangannya dari Tama.


Kembali Vina jatuh dengan posisi duduk.


Sungguh sungguh sangat malu, lebih tepatnya sial! Dua kali udah jatuh setelah pertemuan dengan anak iblis itu.


"Nggak usah sok baik deh lo!" Bantak Vina kepada Tama.


Sedangkan yang dibentak hanya tersenyum geli.


Jam pelajaran hari ini telah usai, Vina segera pergi meninggalkan Tama yang masih duduk santai disana.


Bersama ketiga sahabatnya Vina beranjak meninggalkan kelas.


"Vin kenapa abang lo belum masuk juga sih???" Tanya Joan yang memang mengagumi Vian.


"Dia masih ikut kakek. Karena dia cowok jadi banyak urusan." Vina menunjuk ke arah mobil jemputan nya


"Ahhhh itu mobilnya, gue pulang dulu ya genk!!!!" Vina segera meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Pak Alex, ayo jalan."


Mobil pun meninggalkan area parkir sekolahan Vina. Sekitar tiga puluh menit, Vina sampai di rumahnya. Semenjak Vian dan Vina kelas tiga, Aditya memutuskan untuk pindah dari apartemen. Sebuah rumah yang nyaman untuk mereka tinggal.


Didalam sudah ada Vian yang duduk didepan Laptop nya tidak memperdulikan kedatangan Vina


"Udah pulang nggak kasih kabar gitu??" Dengan sedikit kekesalan Vina memukul Vian dengan bantal sofa.


Sedangkan Vian masih santai saja. "Dek! Kalo kamu bete sama si Tama itu jangan lampiasin ke abang dong. Abang lagi banyak kerjaan ini!!!" Vian masih tak bergeming dari posisi duduk nya dari tadi.


"Iya!!!!! Lanjutin aja pacaran sama laptop. semoga langgeng sampe kakek nenek!!!!" Vina lalu pergi menuju kamarnya. Masih kesal pada Vian yang kini semakin sibuk.


Melihat adiknya yang sangat kesal di hari pertama sekolah. Dasar Tama, masih saja jahil. Padahal semua pengaruh iblis itu sudah hilang sepenuhnya. Tapi masih saja suka menggoda Vina.


Vian menggeleng heran dengan kelakuan bocah satu itu.


®®®


Vian sudah mulai masuk sekolah, namun beda kelas dengan Vina, dan itu benar-benar membuat Vina uring-uringan. Bagaimanapun juga, baru kali ini Vina tidak sekelas dengan Vian. Meski masih satu sekolah, Vina tetap saja tidak terima. Tapi dengan pengertian dari Vian, akhirnya Vina dapat menerimanya.


Seperti biasa, Tama selalu jahil dan sok akrab dengan Vina. Tentu saja Vina selalu murka dengan kejahilan Tama pada dirinya. Dan entah kenapa, setiap Vina marah dan memakinya. Tama nampak sangat bahagia. Hanya dengan kejahilannya Vina akan menganggapnya ada.


Contohnya pagi ini, Tama sengaja membawa beberapa coklat silverking untuk Vina.


"Morning honey!!!! This's for you..." Dengan amat sangat lembut Tama menyerahkan beberapa bungkus cokelat untuk Vina.


Namun tidak semudah itu. Vina tidak menganggap keberadaan Tama di sampingnya. Jadi dia tidak perduli dengan segala tindakan Tama padanya.


Begitu seterusnya, tanpa bosan setiap pagi pasti Tama membawa sesuatu untuk Vina.