Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 34



Perbincangan para kaum lelaki tak jauh dari soal kerjaan dan kerjaan. Sam dan Aditya berencana membuat rumah sakit khusus untuk warga tidak mampu, didanai dari laba rumah sakit pusat milik mereka.


Dan mereka berencana membuka layanan bagi para donatur bagi yang ingin berbagi, serta menerima bantuan tenaga sukarela bagi dokter yang ingin membantu.


"Oh ya Dit. Apakah selama lo berada di Inggris lo merasa aman?" Sam mengalihkan pembicaraan karena memang niatnya kemari ingin membahas soal kejadian masa lalu.


"Nggak deh, malah gue rasa lancar-lancar aja. Cuma kakek pernah bilang, kalau Kirana hamil gue harus ekstra hati-hati. Karena sang kegelapan sekarang masih memulihkan diri dan masih mengawasi kami....." Kembali Aditya terdiam.


Lalu ia ingat apa yang paling penting, "Kakek juga bilang, kalau bisa gue nggak boleh USG kalau buat tau kelamin anak. Tapi kalau buat liat perkembangan bayi nggak masalah."


"Kenapa nggak boleh? Takut nggak surprise lagi?"


"Bukan, kata kakek. sang kegelapan mengincar bayi perempuan. Sedangkan terakhir kami USG bayinya kembar." Jelas Aditya sedikit membanggakan diri


"Whaattt!!!! Ponakan gue kembar?"


Hanya anggukan pelan dari Aditya yang menjawab kekagetan Sam. Bukan kaget takut, lebih tepatnya kaget karena kagum.


"Pantesan tu perut gede banget. Isinya dua. Dobel. Gimana lu bikinnya??"Sambil mengerlingkan mata genit.


Sedangkan Agung dan Adelia masih berada di kamar Aditya membersihkan diri setelah beraktifitas fisik yang melelahkan.😅😅


Agung pun keluar dengan kondisi sangat segar setelah mandi. Membuat kedua sahabatnya cekikikan melihatnya.


"Jangan lo bikin gempor adek gue ya!" Ancam Aditya dengan tinjuan ringan


Hahahaha


"Mana si bawel?" Aditya celingukan menunggu adiknya nggak keluar kamar.


"Masih tidur, kecapekan dia" Agung tertawa puas melihat ekspresi Aditya


"Lo tau nggak, kalau istri lagi hamil bawaannya lo pengen aja kalo lagi berduaan..."Ucap lirih Aditya kepada Agung


"Masakkk? Enak dong!!!" Aditya nggak nyangka reaksi Agung berbeda dari harapannya. Dikira Agung akan terkejut, tapi inilah terlihat senang.


"Kalian ngomongin apa sih? Mulai deh!!!"Sam penasaran dengan bicaraan seru Agung dan Aditya


"Nikah dulu, baru nimbrung!! Takutnya lo pengen, main hajar aja anak gadis orang!" Aditya mendorong wajah Sam yang mulai mendekatkan wajahnya bermaksud menguping


"Halah, soal gituan mah nggak usah nunggu nikah!" Sam mengibaskan tangannya ke udara, menyepelekan peringatan Aditya.


"Itu Via udah lo jebol?" Aditya dan Agung melotot kearah Sam


Yang dipelototi ketakutan dengan kesalahpahaman mereka.


"Ya nggak lah, gue nggak sebejat itu. Meski gue pengen, gue tahan meski nyesek!!" Buru-buru Sam menjelaskan agar kedua sahabatnya tidak salah paham terlalu jauh.


"Gue sih mau aja nikah besok, bokap nyokap juga udah setuju. Tapi masalahnya Via maunya biaya pernikahan dll harus hasil kerjaku sendiri. Dia nggak mau ngerepotin orangtua gue..."Sam yang tadi ceria kini terlihat lesu.


"Ya itu emang bagus maksud Via, tapi kalau kelamaan kasihan itu si Upin."Seru Agung


"Coba ntar gue bilang ke Kirana biar dia kasih pengertian ke Via. Kalau kelamaan takutnya terjadi hal-hal yang lo pengen." Aditya coba menengahi.


"Maksud lo??!!! Hal-hal yang gue pengen? Ya gue mau lah. Tapi takut dosa." Sam memperjelas alasannya.


"Nah ini baru sobat gue. Makanya mending dihalalin dulu, toh orangtua lo juga nggak keberatan. Ntar biar Adel bantuin Kirana bujukin Via" Agung mencoba menenangkan Sam yang sedang kalut.


Tiba-tiba ada perempuan masuk ke apartemen Aditya saat mereka berbincang. Perempuan itu adalah Susanti.


"Sore Mas Aditya, maaf saya mau ijin." Susanti mendekat kearah Aditya lalu menyapa Sam dan Agung dengan anggukan.


"Iya ada apa Sus?" Aditya mengalihkan pandangannya ke Susanti


"Kamu nggak usah masak, ada temen-temen saya. Biar mereka nanti yang masak. Oh iya tadi kamu sudah ijin ke Kirana kan ya? Dia nitip ini, katanya buat jajan." Ucap Aditya sambil memberikan beberapa lembar uang ke Susanti.


"Tapi mas? Ini terlalu banyak, yang tadi pagi saja masih banyak." Susanti mencoba menolak namun Aditya memaksa


"Makasih mas," Susanti terpaksa menerimanya lalu mencium tangan Aditya, Sam dan Agung kemudian pamitan untuk kembali ke kampus.


Sepeninggal Susanti Sam dan Agung bertanya penuh selidik.


"Bini muda?" Kompak keduanya menanyakan hal yang sama


"Asisten rumah tangga." Jawab Aditya enteng


"Tapi kok..."


"Kirana suka ngasih uang jajan diluar gaji dia kerja disini. Karena dia nggak punya adik. Kirana sayang banget sama dia." Jelas Aditya menjawab rasa penasaran Sam dan Agung.


®®®


Di supermarket


Sivia dan Kirana selesai belanja bahan makanan untuk mereka selama beberapa hari bahkan lebih dari cukup.


"Telpon dari siapa Na?" Sivia bertanya kepada Kirana penasaran


"Oh, asisten rumah tangga. Dia ijin katanya mau nginep di kampus ada acara." Jelasnya


"Pelajar?"


"Mmmm. Tapi WNI kok, meski dia dapet beasiswa tapi buat biaya hidup masih kurang." Jelasnya lagi


"Nggak takut Aditya kecantol?"


"Ya nggak lah, orang dia disini ada pacarnya. Dan pacarnya juga mahasiswa juga orang kepercayaan Adit."


"Owh, kirain. Yaudah yuk kita pulang." Mereka bergandengan menuju taksi, walau ada mobil Kirana memilih naik taksi.


"Vi, Sam belum ngajakin lo nikah?" Kirana sebenarnya penasaran apa yang membuat mereka betah untuk pacaran.


"Oh, gue belum siap." Jawabnya datar


"Lo cinta kan sama Sam?" Pertanyaan itu tak disangka keluar dari mulut Kirana


"Gue cinta, sayang ama dia. Lo juga tau dia anak orang kaya. Sedangkan gue cuma anak pemilik warung sate. Gue malu Na" Jelasnya dengan wajah sedih


"Ngapain malu? Orangtua Sam emang nggak kasih restu?"


"Mereka malah ngedesak kita buat buruan nikah."


"Trus kenapa lagi?" Kirana semakin tidak paham dengan sudut pandang sahabatnya soal pernikahan


"Harus ya gue terima lamaran Sam buat nikah?" Tanya Sivia ragu


"Iya lah! Emang lo mau bikin dosa? Emang lo mau Sam kecantol cewek lain? Emangnya lo..."


"Cukup, jangan banyak-banyak. Dua itu aja udah bikin gue merinding. Jangan ditambahin lagi. Lo yakin semua bakal baik aja kalo gue nikah sama Sam sekarang?"


"Baik, tapi nggak sekarang juga. Sam di rumah, kita dijalan.Mana bisa lo nikah... Gemes gue ama lu." Kirana memeluk sahabatnya memberi keyakinan akan keputusannya


"Tapi Na!"


"Nggak pake tapi, pokoknya lanjut demi masa depan. Emang lo nggak mau punya bayi? Seru loh. Apalagi bayinya pas aktif gerak diperut. Ini anugrah paling indah bagi setiap wanita." Ucap Kirana sambil mengelus lembut perutnya yang sangat besar diusia kandungan menginjak usia 6 bulan.