
Beberapa hari tidak melihat langsung wajah sang kekasih, membuat Aditya lebih sensitif. Meski setiap malam seusai acara mereka selalu vidio call tetap berbeda rasanya jika bertemu secara langsung. Meski setiap malam berkumpul dengan teman-temannya, tetap saja ada yang kurang. Perasaan khawatir sang kekasih dirayu dan digoda si tua galak itu membuatnya semakin uring-uringan tidak jelas.
"Kenape lu Dit, muka ditekuk -tekuk nggak jelas gitu." Tanya Sam sambil mencomot keripik di atas meja
"Gue khawatir nih, " Jawab Aditya dengan wajah lesu
"Soal???" sahut Agung yang baru saja sampai barengan sama Adelia dibelakang
"Abang mah takut pacarnya kecantol duda kaya bang!" celetuk Adel semakin membuat kakaknya kesal
"Eh ngapain ni bocah lu bawa kesini Gung?" Serang Aditya dengan mata garangnya
"Emang ada larangan ngajak gebetan kumpul disini?" seru Agung sambil mengajak Adelia duduk disebelahnya.
"Anak kecil nggak boleh jauh-jauh dari Abangnya, ntar lo dimakan sama buaya prematur bahaya" Aditya menarik lengan adiknya agar duduk di sebelahnya
"Udah deh nggak usah lebay, giliran kak Kirana nggak ada aja sok....." meski mengelak Adelia tetap duduk disamping kakaknya bahkan memeluk lengan kekar sang kakak.
Yang tidak tau kalau mereka kakak adik, bisa jadi dikira mereka pacaran.
"Emang repot dah jadi cewek kece, direbutin cowok-cowok keren gini. Tapi sayang.....abang sendiri yang ngrebutin." ucap Kirana sambil memonyongkan mukanya
"Siapa bilang?" seru Sam dan Agung secara bersamaan
"Cieeeee kompakan kayak paduan suara lagi konser...hahahahah" Celetuk Adelia dengan polosnya yang berhasil membuatnya mendapat cubitan di pipi dan elusan di kepala oleh Sam dan Agung
Keduanya sangat gemas dengan tingkah polah adik sahabatnya itu.
Melihat kekocakan sang adik dan sahabat nya membuat Aditya terlihat ceria dan melupakan kegalauan hatinya karena saking rindunya.
Malam semakin larut, Aditya melihat jam di pergelangan tangannya. Lalu berpamitan hendak istirahat dan mengajak adiknya segera pulang.
"Kita balik dulu ra bro!" sambil menyalami kedua sahabatnya kemudian berlalu diikuti mereka meninggalkan kafe.
"Dit, jangan mewek ya nyampe rumah." Ledek Sam
"Kagak, besok dia udah balik dari rantau...."seru Aditya
Motor gede beriringan meninggalkan halaman kafe menuju rumah masing-masing.
®®®
Masa magang di Rumah sakit segera berakhir, dan itu membuat para dokter magang senang bukan kepalang. Karena sebentar lagi mereka akan benar-benar menyandang gelar dokter dan mendapatkan ijin untuk praktek sendiri. Kesibukan mereka menyiapkan bahan untuk wisuda nanti segera dikumpulkan agar nanti tidak keteteran mengerjakan tugas yang se abrek.
Beberapa perawat merasa kehilangan akan kepergian idola mereka, ada yang memberi bunga sebagai tanda perpisahan dan berbagai macam bingkisan. Foto sana sini, ada yang minta peluk, cipika cipiki. Membuat Kirana cemberut dan meninggalkan acara pelepasan yang dibuat secara sederhana di sebuah kafe. Dihadiri staf dan karyawan, perawat juga para dokter.
Melihat Kirana menjauh dari kerumunan meriah itu dokter Dhani melangkah mendekati Kirana
"Kenapa menjauh? Bosen ya? " tegur pria berperawakan tegak itu membuyarkan lamunan Kirana
"Oohhh tidak pak, hanya tidak biasa berada ditempat ramai saja."Jelasnya
"Setelah ini, kamu masih boleh kok berkunjung kesini untuk main atau mungkin menemui saya untuk makan siang bersama...." ujar dokter Dhani tegas
"Sekedar makan siang sih boleh juga..." ucap Kirana menyetujui ajakan dokter pembimbingnya
"Oke, nanti saya kabari. Bolehkah saya mengantar anda pulang hari ini?" Tanya dokter Dhani
" Boleh, kalau gitu sekarang saja...." Ucap Kirana sambil melirik ke arah Aditya yang masih asik bergurau dengan para perawat dan dokter muda lainnya.
Tanpa berpamitan Kirana bersama meninggalkan Aditya, berbeda dengan dokter Dhani yang memohon diri dengan sopan kepada semua yang hadir di acara pelepasan itu.
Kirana duduk di kursi penumpang, sedangkan sang dokter memegang setir membawa mobil Pajero Sport putih menuju kota.
Tidak ada kata terucap dari keduanya, sampai ada tanda di depan bahwa ada taman disekitar situ dokter Dhani memberanikan diri mengajak Kirana untuk berjalan-jalan sebentar berdalih mencari udara segar. Kirana hanya mengangguk pasrah. Dia masih marah melihat kedekatan Aditya dengan para perempuan di kafe tadi.
"Waaaahhhh tamannya cantik banget, bunganya juga warna warni....makasih pak sudah bawa saya kesini...saya baru tahu ada taman seindah ini di kota." ucap Kirana sangat takjub dengan apa yang ia lihat di taman itu
"Panggil saja Dhani..."Seru dokter tampan itu
"Mas, gimana kalo saya panggil mas saja. Nggak sopan kalo panggil nama dan kurang gimanaaa gitu."
"Terserah kamu, yang penting jangan panggil saya Pak. Kesannya saya tua sekali seumuran bapak kamu...."kata dokter Dhani
"Hahahahaha pak Dhani eh mas Dhani bisa aja. Kalo bapak saya setampan dan sehebat bapak saya pasti betah di rumah..."masih dengan tawa nya Kirana berceloteh riang seperti anak kecil.
Saat sedang menikmati jus di bangku taman ponsel Kirana berdering, dilihatnya layar ponsel agar terlihat siapa yang menghubunginya.
Si Gila sayang
Masih diliputi dengan rasa cemburu, Kirana menolak panggilan dari kekasihnya.
Melihat panggilannya ditolak, Aditya panik menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Aditya telah mencari Kirana kemana-mana. Dari toilet, parkiran bahkan ke Rumah Sakit barangkali dia kembali kesana.
Masih dengan perasaan kawatir dan kacau ada notif masuk di ponselnya
*Lanjutin aja seneng-senengnya sama cewek-cewek seksi itu. Nggak usah nyariin gue!*
Begitu isi pesan singkat yang diterima Aditya dari sang kekasih.
Hah???Jadi dia marah gue ngobrol sama para perawat tadi? Kenapa nggak gabung aja malah kabur! Emang cewek tu ribet, susah dimengerti.
*Maaf ya sayang, masak iya diajak ngobrol aku nggak tanggepin. Ntar dikira sombong lagi akunya🤗🤗🤗.Maaf ya sayang....*
Pesan terkirim namun belum ada balasan dari sana. Ingin marah tapi seneng juga Kirana bisa cemburu. Tandanya Kirana benar-benar cinta padanya.
Aditya telah memutuskan untuk pulang ke rumah dan menemui Kirana esok paginya. Atau nanti malam sambil membawa buket bunga mawar kuning kesukaannya.
Di taman
Mendapat pesan dari Aditya itu, rasa kesalnya sedikit berkurang. Yang membuat Kirana marah adalah karena Aditya tidak mempedulikan keberadaannya disana.
Sudah hampir maghrib, Kirana mengajak sang dokter untuk segera pulang. Meski dokter Dhani mengajaknya untuk ke tempat lain Kirana menolaknya dengan halus. Dengan alasan capek, sehingga dokter Dhani memakluminya.
Diantar hingga rumah Kirana tak perlu keluar uang untuk bayar taksi. Kirana memang jarang bahkan tak pernah terlihat membawa mobil sendiri kemanapun ia pergi.
Kirana mengucapkan terima kasih kepada dokter muda disampingnya
"Terimakasih ya pak, maksud saya mas hari ini sudah mengajak saya main ke taman yang indah itu...."Sambil belepas sabuk pengaman, Kirana segera turun namun dicegah. Dokter Dhani langsung turun lalu membukakan pintu untuknya.
"Terimakasih."
Mobil dokter Dhani berlalu setelah Kirana masuk kerumahnya. Segera Kirana menuju kamar mandi untuk berendam agar lelahnya hilang.