
Aditya masih berada di ruang kerja Kakek Kirana begitu juga dengan Kirana dan kedua orang tuanya. Seperti akan sidang pendakwaan suasana di ruangan itu begitu dingin. Kakek Kirana masuk, dengan badan dibuat tegap dan duduk menghadap mereka.
"Kirana, jelaskan pada Kakek tentang semua ini. Kakek tidak akan marah..."Sadar dirinya sudah tua, sang kakek tak akan memaksakan kehendaknya terhadap cucu satu-satunya itu.
"Kirana tidak mencintai Hendra kek, Kirana sudah punya pria yang Kirana sayangi..."pelan namun dengan penuh keyakinan
"Apakah pria ini mencintaimu?"
" Bahkan Aditya yang membuat Kirana sadar, bahwa Kirana menyayanginya."
"Anak muda, saya dengar kamu satu kampus dengan Kirana. Dan sekarang malah satu tempat magang dengan cucu saya?"
"Benar kek , saya yang mengejar Kirana agar satu tempat magang..."Jelasnya singkat
"Apakah kamu tau Rumah Sakit tempatmu magang adalah Rumah Sakit milik keluarga Hendra?"
"Saya tau kek,"
"Kamu tidak takut?"
"Untuk apa saya takut? Toh saya tidak berbuat jahat disana." Jawabnya mantap
"Baiklah, sekarang kamu boleh pulang. Tinggalkan Kirana disini. Dia akan menginap disini. Neneknya sangat merindukannya"
Aditya berpamitan kepada kedua orang tua Kirana jug ih Zacha Kakek neneknya. Kirana mengantar Aditya hingga Aditya pergi.
Sebelum meninggalkan gadisnya, Aditya memeluk erat sang gadis cukup lama. Dia sangat khawatir dengan apa yang akan di putuskan oleh kakeknya.
Tak lupa Aditya mencium kening Kirana dengan lembut. Meski gelap tak dapat disembunyikan bahwa pipi Kirana memerah seperti kepiting rebus.
Kirana tak ingin melepas genggaman tangan Aditya, tapi harus dilepas karena memang sudah larut.
Diperjalanan pulang, Aditya sungguh kacau. Bahkan dia tak sanggup tersenyum. Hingga ia sampai di rumah, dan suasana rumah sangat sepi nampaknya mereka sudah tidur. Aditya berjalan perlahan menuju kamarnya dengan perasaan tak. tentu. Mencoba memejamkan matanya namun sangat sulit. Masih terbayang betapa tegangnya suasana di rumah kakek Kirana.
®®®
Aditya masih sangat mengantuk karena dia tidur pas adzan subuh. Dan hari ini dia mendapat jadwal pagi. Dengan sedikit malas mengendarai motornya menuju Rumah Sakit. Masih dalam keadaan kalut, saat ia dikagetkan dengan suara yang sangat ia rindukan.
"Pagi.....sayang." Dengan sangat malu Kirana mengucap kata itu sambil bergelayut di lengan Aditya
"Masih tak percaya dengan yang ia dengar, Aditya menatap dalam gadis disampingnya.
Semenjak kapan Kirana manja dan sangat berani?
Masih dengan beribu tanya, Aditya memeluk Kirana dari samping dan berjalan berdampingan.
"Kakek bilang, kamu harus jadi dokter dulu baru boleh nikahin aku..."
"Kamu bicara apa? Kakek tidak marah?" Tanya Aditya histeris
"Tentu tidak, kakek tidak ingin aku bernasib sama seperti orang tua ku. tak ingin membuat kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Dan kamu tau? Kakeknya Hendra dapat menerima alasan yang kakekku katakan. Dan sebentar lagi Hendra akan menikah dengan pacarnya karena pacarnya sudah hamil."
"Hamil?? Kita aja belum ciuman, Hendra malah menghamili anak gadis orang???" Goda Aditya
Kirana langsung melepas pelukan Aditya dan meninggalkan pria itu sendirian. Jantung Kirana serasa akan loncat keluar atas ulah Aditya. Kirana tak tau bahwa dirinya diawasi oleh mata tajam dibalik pintu ruangan dokter.
Diluar sana Aditya sedang meladeni para perawat yang menggodanya. Aditya melihat Kira a memperhatikan dirinya dari kejauhan. Terlihat dari sorot matanya bahwa gadis itu marah dan berjalan masuk ke ruangan dokter dengan wajah ditekuk.
Aditya tersenyum dan pamit kepada perawat itu untuk segera masuk ke ruangan dokter. Saat hampir memasuki ruangan dokter, terdengar suara Kirana sedang berbincang dengan seorang pria.
Dokter Dhani, apa yang mereka bicarakan?
Aditya tanpa ragu memasuki ruangan itu dan duduk disamping Kirana tanpa permisi. Seperti kepergok sedang selingkuh, Kirana terkejut dan setengah gelagapan
"Eeehhh kamu uuudah masuk?"Tanya Kirana tanpa perlu adanya jawaban
"Ada apa?" Tanya Aditya penuh selidik
"Persiapan diri kalian, sebenar lagi pergantian shift."Singkatnya. lalu meninggalkan Kirana dan Aditya disana. Diikuti kedatang dokter lainnya
"Jelasin maksud dokter Dhani tadi!" Pinta Aditya sedikit kesal namun masih berbisik
"Yah kenapa? Kamu aja dengan bebas tebar pesona ke semua perawat, kenapa aku nggak boleh jadi asisten dokter Dhani?" jawab Kirana sewot
"Cemburu????" Goda Aditya
"Menurut looooo??" dengan wajah kesal Kirana meninggalkannya
Imut banget sihhh, kan jadi pengen cium...
®®®
Hari ini sungguh sangat banyak pasien dengan berbagai kasus. Ada yang hidungnya kemasukan ***** pestol mainan, bahkan ada juga pasien percobaan bunuh diri yang mencoba meminum cairan pencuci piring. Sungguh berbagai kasus aneh, bahkan tak ada waktu untuk istirahat makan siang harinya. Aditya memperhatikan keuletan Kirana menghadapi pasien yang punya banyak mau dan sungguh manja.
Senyum tipis tersirat diwajah Aditya,
"Serius amat pak dokter,,,,,, " sapa seorang perawat kepada Aditya. yang hanya dibalas senyuman di bibirnya
"Bapak naksir dokter Kirana ya?"Tanya perawat itu penuh selidik
"Tidak hanya naksir, bahkan saya tergila-gila padanya. Padahal saya belum pernah diperlakukan seperti itu. Saya cemburu!" tegasnya
"Cemburu?" tanyanya tak percaya
"Iya!" Aditya menghampiri Kirana yang kewalahan menghadapi pasien pria yang banyak mau dan bisa dikatakan sedang merayu pacarnya
"Bisa saya bantu mas?" Tanya Aditya dengan mata sedikit melotot karena tidak terima pacarnya diperlakukan seperti itu
"Tidak dok, sudah kok."
Kirana dan Aditya meninggalkan pasien itu dan meminta perawat mengurusnya
"Makasih ya..."bisik Kirana
"Iya sayang."balasnya
"Pulang kita mampir nonton yuk!" Ajak Aditya
"Boleh, "jawab Kirana singkat
"Ini kencan perdana kita loh...."
"Terusss kenapa?" dengan wajah polos Kirana bertanya
"Adaa dehhh" Aditya meninggalkan Kirana yang masih bingung maksud Aditya
®®®
Setelah mandi, Kirana berdandan seadanya karena memang tak ada persiapan sama sekali kalau Aditya akan mengajaknya berkencan sepulang dari Rumah Sakit.
Meski hanya riasan tipis, Kirana tampak cantik. Dengan kemeja motif bunga dan celana baggy, serta sepatu flat shoes yang ia kenakan cukup membuatnya tampak manis tanpa berlebihan sama sekali.
Penampilan yang biasa ini lah yang membuat Aditya menyukainya, tidak terlalu berlebihan dalam riasan maupun berbusana. Gadis yang sangat sederhana.
Aditya yang terlihat segar setelah mandi menambah ketampanannya dan membuat setiap wanita yang dia lewati terpesona dengan penampilannya.
"Ganteng banget sih dokter Adit,,,,, udah punya pacar belum ya?" Seru salah seorang perawat kepada temannya sesama perawat.
Keduanya berjalan berdampingan menuju motor Aditya, tak peduli dengan orang lain yang menatap mereka penuh kekaguman.
Membelah jalan perkotaan kala sore, menuju salah satu pusat perbelanjaan yang menyediakan fasilitas bioskop, toko buku, taman bermain dan fasilitas menyenangkan lainnya.
Kencan pertama mereka sedikit canggung dirasakan Kirana, pertama kali menonton film dengan pacar. Jalan bareng, bergandengan tangan. Keduanya baru pertama kali dalam hal ini. Namun wajah Aditya tampak tenang tak secanggung Kirana.