
Kirana dan Aditya pun kembali ke apartemen mereka. Disana mereka disambut seluruh keluarga dan kerabat.
"Welcome!!!!!" Nampak ramai suasana Apartemen mereka. Apartemen yang bisa dibilang luas. Dapat menampung sekian orang.
Kirana sangat terharu, ternyata pikirannya selama ini salah. Banyak orang yang menyayanginya. Dia menyesal tlah berbuat sangat ceroboh. Harusnya dia dapat berpikir jernih.
Tanpa terasa butiran bening mengalir dipelupuk matanya. Tangis bahagia lebih tepatnya.
Adel merebut Kirana dari gandengan Aditya. Lalu membawanya duduk di sofa.
"Kak Nana yang cantik. Lain kali kalo ngambek jangan bikin kita spot jantung dong....." Adelia mengelus lengan Kirana.
Sedangkan Kirana melongo, mendapat panggilan yang asing ditelinganya.
"Nana??" Kirana mengerutkan dahinya, menatap ketawa adelia dengan senyum curiga
"Iya kak Nana. Mulai saat ini, adek panggil kak Kirana kak Nana. Biar nggak ribet. Enak juga didengernya....."
Ibu Mira : " Lain kalau ada masalah, kamu hubungi emak ya. Biar kita nggak panik." Ibu Mira merangkul Kirana dari samping setelah mendorong Adelia putrinya untuk menyingkir.
Sedang Adelia memonyongkan bibir nya karena merasa disisihkan.
Sivia : " Kalo nggak lu hubungi gue buat curhat."
Kirana : " Sambungan internasional mahal buk.Iya aja sekarang lu ada disini. Lah besok. Lu nya balik ke amrik."
Sivia : " Yak elah pelit amat, lu kan kaya non!" Ucap Sivia sambil nyengir
Kirana : " Calon suami lo juga kaya!"
Ucapan Kirana membuat wajah Sivia memerah seperti tomat.
Agung : "Kapan Sam pestanya?" Agung ikut nimbrung disana, menarik lengan istrinya agar duduk disampingnya.
Ibu Mira : "Loh, kalian jadi nikah? Kapan? Kok emak nggak tau?"
Sam : "Secepatnya mak, tenang aja. Emak orang pertama yang bakal Sam kasih tau sebelum mereka." Sambil menunjuk kedua sahabatnya yang tertawa puas.
Kakek : "Kakek harap kalian akan selalu seperti ini. Jangan berubah jika nanti sudah punya anak cucu."
Aamiiin serentaj semuanya mengamini ucapan kakek Kirana.
Mama Kirana : "Udah ayo buruan sini makan, mama sama emak kamu sudah masak banyak." Berterima dari dapur memanggil semua yang ada di ruang tivi
Semuanya menuju meja makan, bahkan kursi pun tak muat menampung mereka untuk makan bersama disana. Sehingga sebagian memilih duduk di ruang tivi untuk makan.
Semuanya sengaja berkumpul di apartemen Kirana untuk memberikan ketenangan padanya. Agar dia tidak beranggapam bahwa dirinya diabaikan.
Emosi ibu hamil emang harus selalu dijaga. Apalagi hamil bayi kembar sekaligus.
Mereka tak ingin terjadi hal yang buruk pada Kirana. Karena memang ada hal buruk sedang mengintai Kirana.
Setelah selesai makan, satu persatu berpamitan hendak kembali ke hotel. Karena besok mereka akan sangat sibuk dengan acara tujuh bulanan.
Meski acaranya amal untuk panti asuhan disana. Namun baik sembako maupun pakaian dan lain lain mereka siapkan sendiri.
"Maafin aku ya sayangku, cintaku, maniskku kasihku...." Aditya memeluk tubuh Kirana lalu mengecup lembut keningnya.
Sedangkan Kirana hanya mengangguk dan menpererat pelukannya. Keduanya larut dalam diam hingga tertidur dengan sendirinya.
®®®
Keesokan harinya, semua berkumpul di panti Asuhan terdekat dengan rumah sakit yang dikelola oleh Aditya. Dari acara doa hingga pembagian sumbangan berjalan lancar sesuai yang diharapkan.
Saat acara usai, ada seorang wanita muda mendekat kearah Aditya. Kehadirannya membuat Kirana yang tadinya ceria Menjadi cemberut.
Sadar dengan perubahan wajah kakak iparnya Adelia mencari arah mata Kirana memandang. Saat tau yang dilihatnya adalah sesosok wanita muda nan cantik. Adelia memberanikan diri bertanya kepada Kirana.
"Siapa tuh kak?" Mulut Adel sedikit monyong ke arah perempuan yang dimaksud
"dokter Zenith." Jawab Kirana singkat.
Mendengar nama itu disebut, Sivia langsung ikut nimbrung.
"Mana dek si genit genit itu?" Ucap Sivia sangat penasaran.
Adelia menunjuk ke arah perempuan yang dimaksud.
"Ooooo pantesan, cantik gini. Jelas Kirana cemburu lah..." Sivia manggut-manggut sendiri.
Merasa diperhatikan Zenith menyapa Kirana dengan anggukan pelan.
"Cih, nggak tau malu banget. Masih punya muka dia senyumin kita...." Adelia mencibirkan bibirnya melihat kelakuan Zenith
"Mana santai banget lagi jalannya, kayak nggak punya dosa aja. Lagian tuh si abang, kenapa nggak dipecat aja sih...." Adelia kesal sendiri melihat Zenith yang jalan dengan penuh percaya diri.
Aditya sedang berbicara dengan Agung dan juga Sam.
Setelah Zenith sampai di depan Aditya, Zenith menyapa Sam dan juga Agung lalu berkenalan dengan menjabatkan tangan. Setelah itu memberikan map kepada Aditya untuk ditandatangani.
"Idiiiihhh genit amat sih tu cewek! Ngajakin salaman suami gue lagi..." adelia geram melihat suaminya berjabat tangan dengan Zenith.
Begitu pula dengan Sivia.
"Baru juga kemaren ngajak nikah, sekarang udah genit sama cewek lain." Sivia pun kesal melihat Sam terlihat menhobrol akrab dengan Zenith.
Adelia yang tak bisa menahan rasa cemburunya menghampiri Agung dengan wajah ditekuk. Lalu menarik Lengan Agung agar menjauh.
"Buruan ikut!" Adelia menarik paksa Agung, namun Agung yang tak tau sebab istrinya cemberut dengan pasrah mengikuti langkahnya.
Tak beda jauh dengan Sivia, dia pun menghampiri Sam dengan mata melotot dan bibir manyun. Melihat calon istrinya sangat murka, Sam dengan sangat cepat berlari kearah Sivia. Dia tak mau gagal sebelum berperang. Tak ingin Sivia membatalkan rencana pernikahan mereka. Aditya melihat kedua sahabatnya sedang merayu wanita dihadapannya yang terlihat sangat marah.
Sedang Aditya masih bersama Zenith disana. Sadar apa penyebab kedua sahabatnya mendapatkan masalah, Aditya segera pergi meninggalkan Zenith disana.
Aditya menghampiri Kirana. Namun Kirana hanya diam tak menjawab satu pun pertanyaan dari Aditya.
Kakek Kirana melihat Aditya yang mengejar Kirana yang terlihat sangat murka, tersenyum dengan sebuah ide dikepalanya.