
Si kembar tumbuh dengan sangat sangat baik. Kakek buyutnya tidak mengijinkan mereka untuk mengikuti sekolah umum. Kakeknya telah menyiapkan guru terbaik untuk nya belajar di rumah.
Kadang Kirana merasa kasihan melihat kedua harus belajar di rumah. Mereka tidak sebebas anak pada umumnya
Aditya pun merasa sangat kasihan, anak-anaknya tidak bisa sebebas dirinya dulu. Bisa bermain sepuasnya, dan belajar seperlunya saja. Menyadari kenyataan itu, Aditya pun sangat sedih karena tidak dapat membahagiakan kedua buah hatinya.
Diusianya yang baru 7 tahun, keduanya sudah menguasai berbagai macam ilmu beladiri. Dari silat, Taekwondo, junjitsu, Karate, Judo, Taichi, Kungfu bahkan kapoera. Keduanya lebih sering menghabiskan harinya untuk berlatih di Laboratorium milik kakek Kirana.
"Maaaaa,,,,,, Jadi nggak kita piknik di taman?" Vina merajuk dengan wajah polosnya, Kirana menjadi sangat gemas dengan tingkah lucu anaknya itu.
"Tentu dong....Papa sudah mama minta untuk meluangkan waktunya untuk kita...." Kirana memeluk Vina. Putri kecilnya itu sungguh sangat cantik dan imut
"Ayolah Vin!!! Jangan manja seperti itu. Di luar sana kamu sangat dingin dengan anak-anak seusia kita..." Vian protes dengan tingkah adiknya yang selalu bermuka dua jika berada di rumah.
"Sirik aja sih.... bilang aja abang iri sama adek!" Vina kesana dengan kakaknya yang selalu saja mengajaknya berdebat. Bahkan masalah pelukan sang mama.
"Emang mama nggak mau peluk anak mama yang tampan ini..." Vian tak mau kalah dengan aksi adiknya. Dengan kedua lengan direntangkan ke depan siap menerima pelukan dari mamanya.
"Tentu saja mama sangat sangat ingin memeluk kalian...." Kirana pun menyambut pelukan Vian dengan sangat bahagia.
"Eh eh eh ada apa ini? Kenapa ada acara peluk-pelukan papa nggak diajak?" Sekali lagi Aditya cemburu kepada kedua anaknya yang mendapat perlakuan manis Kirana.
"Papa juga mau dipeluk wanita cantik ini..." Aditya pun ikut bergabung dengan acara peluk pelukan di pagi hari.
Setelah semuanya siap, ketiganya menuju sebuah hamparan padang savana yang sangat indah dihiasi bunga-bunga liar.
Kirana menggelar sebuah tikar dibawah pohon rindang, dan menyiapkan semua makanan dan bekal lainnya yang mereka bawa.
"Papa..... Ayo kita main..." Vina menarik Aditya sambil membawa sebuah bola. Keduanya bermain lempar bola.
Sedangkan Vian membantu Kirana menata semua bekal yang mereka bawa.
"Iya sayang, jagain adek kamu yaaa. Mama harap kalian akan selalu akur hingga nanti..." Kirana menarik tubuh Vian agar tidur di pangkuannya.
Melihat Vian yang tengah asik disuapi buah oleh Kirana, Vina pun cemberut meninggalkan papanya menuju pangkuan Kirana lalu berbaring disisi lain pangkuan Kirana.
"Adek juga mau disuapi kayak abang...."
"Iyaaaa sayang kuuuu." Kirana mencubit gemas hidung kedua anaknya yang tengah terbaring dalam pangkuannya.
Aditya yang melihat pemandangan indah itu langsung mengambil beberapa gambar untuk diabadikan.
Terasa lengan kekar merangkul di pundak Kirana.
I LOVE YOU bisik Aditya di telinga Kirana.
Dibalas dengan kecupan di pipinya. Senyum bahagia mengembang di wajah keempatnya.
"Mah ayo kita makan." Vian sudah tidak sabar melihat hidangan diatas tikar.
"Oke, ayo kita semua makan bersama..."
Vian dan Vina selalu saja bertengkar dalam hal sepele. Kali ini hanya karena selai coklat yang tidak sama banyaknya membalur di roti keduanya.
Perdebatan kecil sudah dimulai...
Vian : "Iihhh mama curang. Masak selainya nggak sama banyak sih..."
Vina : "Tergantung amal bang! Coba abang lebih baik lagi sama adek. Pasti punya abang lebih banyakkk.."
Masih berdebat soal selai. Mereka tidak ada yang mau mengalah salah satunya. Bahkan Aditya dan Kirana tidak sanggup melerainya. Hanya ciuman yang membuat keduanya berhenti dan mulai perdebatan baru soal ciuman mamanya.