Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 51



Sisi lain Joan


Joan adalah anak tunggal dari keluarga Albert. Dia merupakan pewaris dari sekian usaha maju milik keluarga Albert.


Gadis yang tidak pernah macam-macam dan memilih menjadi seorang balerina, karena dengan menarilah dia bisa menyalurkan emosinya.


Menjadi sahabat Vina selama lebih dari tiga tahun, membuatnya menjadi gadis yang kuat. Sedikit tertular kepribadian Vina yang cuek, membuatnya menjadi lebih mudah menghadapi kenyataan bahwa dirinya haus akan kasih sayang.


Bersama Vina beberapa tahun, ia sudah cukup merasakan kehanyatan antar sahabat.


Meski Vina sangat dingin dengan laki-laki juga orang asing. Namun dia sangat perduli dengan sahabatnya.


Joan memang tidak memiliki bakat spesial seperti Vina yang bisa segala hal. Namun dia selalu bersyukur, melihat Vina yang sangat kuat mentalnya. Membuat dirinya pun ikut terbawa suasana.


Sebelum Joan mengenal Vina waktu SD, Joan lebih sering murung. Karena diusianya yang masih kecil, dia harus selalu sendiri di rumah tanpa kedua orangtua.


Orangtua nya terlalu sibuk dengan urusan bisnis. Meski dia berkecukupan, segala macam benda mewah bisa dia miliki. Hanya makan bersama dan kehangatan keluarga yang sangat sulit ia dapatkan.


Semenjak Joan mengenal Vina, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana diperhatikan orang lain. Vina yang walaupun dingin, namun sangat perduli dengan orang lain.


Awal mula dia bertemu Vina adalah saat Joan pindah ke sekolah yang sama dengan Vina. Waktu itu mereka kelas empat SD.


Awalnya Joan sangat takut berada di lingkungan baru. Namun Vina mengajaknya makan bersama dengan alasan makan jika ada temannya lebih enak daripada sendirian.


Waktu itu Joan hanya mengikuti kemauan Vina, dia pikir tak ada salahnya jika dia berteman dengan Vina.


"Haiii, makan yuk! Aku paling benci jika harus makan sendirian. Melihatmu disini, aku jadi ingin mengajakmu...." Vina tanpa mendapat persetujuan dari Joan, langsung menarik lengannya menuju kantin sekolah.


Vina memesan dua menu makan yang sama untuk mereka. Joan hanya diam saja. Karena baru kali ini ada orang yang mengajak makan pertama kali.


Kejadian itu berulang hingga hampir sebulan, dan Joan pun akhirnya memutuskan untuk menjadikan Vina sahabatnya.


Joan merasa nyaman jika berada disamping Vina. Dia merasa ada yang memperhatikan juga menyayanginya.


Vina yang merupakan adik kembar Vian, anak laki-laki yang satu kelas dengannya juga.


Vina yang selalu bermusuhan dengan Tama, dan tak pernah akur.


Kadang melihat kejahilan Tama kepada Vina, membuat Joan merasakan bahwa Tama sesungguhnya hanya ingin mendapatkan perhatian Vina.


Joan mulai menikmati harinya bersama Vina. Hingga suatu saat, karena ulah Tama. Dirinya terluka walau tidak parah. Justru karena itu dia menjadi perhatian kepada Vian yang tak lain adalah kakak kembar Vina.


Saat Vina yang hampir jatuh karena lantai yang licin namun justru Joan yang terjatuh. Lumayan membuat tubuhnya sakit.


Dan Vina tau itu ulah Tama. Melihat Joan yang terjatuh karena lantai licin, Vian yang berjalan dibelakangnya membantu Joan untuk bangkit. Sedangkan Vina dengan mulut pedasnya, memaki Tama tanpa ampun.


"Hei bocahhh!!!!!! Jangan bermain sabun di lantai, kalau kamu mau mencelakaiku lihat tempat! Kamu lihat??? Temanku jatuh karena ulah mu!!!!"


"Salahmu, kenapa kamu pindah posisi? Harusnya kamu yang jatuh! Salahku dirimu! Jangan salahkan aku! Kamu menggagalkan rencana ku!"


"Rencana apa lagi??!!!" Vina masih berteriak dihadalan Tama


"Harusnya kamu yang jatuh, kalau kamu jatuh kan aku bisa jadi pangeran yang nolong kamu! Haahhhh kamu mengacaukan rencana ku....." Tama terlihat kesal karena rencananya gagal.


Joan yang berada di samping Vian, menatap Vina dan Tama melongo. Disaat seperti ini mereka masih saling menyalahkan????


Namun dalam hati Joan dia sangat bersyukur, ternyata Vian tidak seburuk omongan orang. Meski Vian pendiam, hatinya baik juga.


Vian masih memegang tubuh Joan. Sepertinya Vian tahu jika pantatnya sakit karena jatuh tadi.


"Kamu istirahat aja dulu, tenang saja. Tulang ekormu tidak patah kok, hanya pergelangan kakimu yang terkilir.." Vian terlihat tenang mengucapkan kalimat itu.


What????? Hanya terkilir? Dari mana dia tau aku terkilir? Bahkan aku sendiri tidak tau.


Awww


Ngilu dirasakan pada kakinya, Joan merasa penasaran dari mana Vian bisa tau kalau kakinya terkilir? Padahal Joan sendiri belum mencoba berjala. Setelah Vian berkata kakinya hanya terkilir, Joan pun melangkahkan kakinya dan benar. Kakinya sangat ngilu dan sakit sekali.


Pijatan kecil, namun sangat sakit walau setelah itu dia merasa sakitnya hilang.


Joan semakin takjub pada Vian, anak sekecil ini bisa mengobati luka dengan cepat.


Semenjak itu, Joan selalu memperhatikan Vian. Dia sangat bersyukur masih satu kelas hingga lulus SMP dengan Vina. Meski harus berbeda kelas dengan Vian, baginya tak masalah. Selama dia bisa melihat kehadirannya di sekolah.


Hingga saat SMA, mereka akhirnya berbeda sekolah. Dan yang membuat Joan sedikit kecewa, dirinya tidak sekelas dengan Vina juga.


Ternyata di SMA, pembagian kelas disesuaikan dengan bakat para siswa. Meski Vina mempunyai banyak keahlian, dia paling menyukai musik.


Sedangkan Joan lebih menyukai tari. Berbeda dengan Prisilia dan LiLy. Mereka masih tergolong satu bakat. Yaitu olahraga, jadi keduanya bisa satu kelas


Joan merasa semenjak kepergian Tama, sikap Vina menjadi semakin dingin kepada laki-laki juga orang asing.


Joan tidak berani bertanya, dia takut Vina meninggalkannya jika ikut campur urusannya.


Meski dapat ditebak, bahwa Vina sangat kehilangan Tama. Anak laki-laki yang biasa membuatnya kesal dan marah.


Kegaduhan dan kekonyolan yang sering membuat Vina uring-uringan.


Bahkan keromatisan Tama yang justru menghasilkan sebuah makian baginya.


Joan merasa Vina sangat beruntung, mempunyai kakak yang sangat perhatian dengannya. Dan mendapat perhatian dari pria tampan seperti Tama.


Walau Vina sering memaki Tama dengan sebutan bocah tengil.


Tama yang memang lebih muda dari Vina setahun. Sering membuat Tama mendapatkan ejekan dari Vina.


Joan selalu bersikap lembut, seperti saat ini. Joan bersyukur bahwa Vina tidak ikut kompetisi olahraga mewakili sekolah bersama Prisil dan Lily.


Dengan alasan tidak ingin dirinya sendirian, Vina memilih di sekolah menemani Joan.


Hingga jam istirahat, Joan menunggu Vina di depan kelasnya. Dia sangat senang melihat Vina berjalan ke arahnya walau tanpa ekspresi.


"Yuk!!!" Tanpa senyum, Vina menggandeng tangan Joan menuju kantin.


Meski tanpa ekspresi, namun dari tindakannya saja membuat Joan bahagia.


"Kita makan apa Vin?" Joan memandang Vina yang fokus ke depan.


"Kita makan bekal dari mamaku saja." Koq baru sadar bahwa Vina membawa kotak makanan di tangannya.


"Wawww mamamu bikin bekal???"


"Yeah... dan mama juga membuatkan untuk mu..." Vina tersenyum ke arah Joan.


Dan Joan terlihat kegirangan.


Sampai dikantin, Vina memberikan satu kotak bekal kepada Joan. Mereka menikmati makan siang buatan Kirana.


"Salam buat mama mu ya, Makasih makanannya Indonesia memang juara!!!!" Joan sangat gembira.


"Oh ya Vin, bagaimana kabar Vian..." Joan memberanikan diri bertanya kepada Vina.


"Oohhh dia baik saja." Singkat Vina menjawab rasa penasaran Joan.


Dengan senyum tipis Vina menggoda Joan yang terlihat sedikit kecewa.


"Kamu merindukan Vian?"


Blusshhh


Seketika wajah Joan memerah, melihat wajah Joan yang lucu. Vina tertawa terbahak-bahak.