Good Morning Miss Bengis

Good Morning Miss Bengis
Bagian 17



Matahari mulai merangkak pertanda hari mulai siang. Jika teringat kejadian malam itu di rumah Aditya, membuat dua insan yang tengah menikmati bubur ayam di kantin Rumah Sakit membuat jantung hampir loncat keluar dan berlenggang bebas dijalanan.


Saling tatap kemudian tersenyum tipis hingga dikejutkan dengan hadirnya dua dokter senior di meja yang sama.


"Ada apa dengan kalian berdua? Tersenyum malu satu sama lain,,,,Kalian pacaran?" Tanya dokter Dhani kepada dua sejoli itu


Hanya senyuman sebagai jawabannya.


"Oh iya Kirana, nanti sore kamu ikut saya ke pertemuan di RS Provinsi ya. Sekalian kamu bawa baju ganti lebih, karena acara diadakan selama 3 hari. " Ucap dokter Dhani santai


"Ssaaaya dok? Saya kan masih magang?" Kilah nya


"Justru karena kamu masih magang, biar banyak pengalaman.."Jelas dokter Dhani


"Harus Kirana ya dok?" Tanya Aditya protes


"Iya," Jawabnya singkat


"Iya karena dia asisten saya, simpel kan?"


Whaattt asisten bisa jadi alasan buat ngajak pacar orang nginep gitu? Nggak lucu bro!! Gue aja belum pernah ngajak nginep.


Aditya masih jengkel dengan keputusan pembimbingnya itu. Lalu pamit meninggalkan Kirana bersama para senior disana. Berjalan penuh amarah namun tak berani meluapkan kepada yang bersangkutan.


"Enak amat sih jadi senior, bisa bebas ngajakin siapa aja jalan. Meski pertemuan buat alasan, dia pikir dia siapa??"


"Jangan pergi ya, aku nggak percaya sama si tua itu..."Rajuk Aditya


"Nggak boleh gitu dong, dokter Dhani masih muda kok.Ganteng, belum beristri, sabar, tegas, bijaksana.."


"Puji aja terus, sebenernya pacar kamu aku apa dia sih??" tanya Aditya masih dengan nada kesal


"Ikut aku" Aditya menarik Kirana ke taman belakang Rumah Sakit. Tempat yang jarang didatangi orang karena memang letaknya yang berada di belakang gedung.


Dengan terengah-engah Kirana mengimbangi langkah lebar Aditya.


Belum sempat Kirana menanyakan sesuatu kepada Aditya dengan cepat Aditya memegang kedua pipinya dan mendaratkan ciuman lembut ke bibir tipis Kirana. Kali ini tak ada lagi yang menggagalkannya seperti terakhir kali di rumah Aditya. Tak ada perlawanan dari Kirana, semakin lama terasa semakin panas. Aditya telah melupakan bahwa mereka berada di tempat umum meski sepi. Tangan Aditya tak dapat diam saja, mulai meraba perut hingga naik sedikit keatas yang secara tiba-tiba didorong Kirana. Rupanya gadis itu kehabisan nafas, setelah dirasa cukup. Kembali Aditya melancarkan serangannya ke telinga Kirana, Leher lalu turun lagi.


"Cukup Dit, ini terlalu berlebihan." sergah Kirana menghentikan kegilaan Aditya. Jantungnya masih berdetak sangat kencang, tak tau harus bagaimana lagi. Mukanya sudah sangat merah saking gilanya perbuatan Aditya. Bagaimanapun juga ini pertama kali baginya.


"Maaf, aku kebablasan." Ucap Aditya sambil menahan getaran didadanya.


Untuk mengalihkan hasratnya, Aditya mengajak Kirana untuk kembali ke Ruangan untuk berkumpul bersama dengan rekan yang lainnya.


"Kalian tau? Hari ini kita akan berlatih melakukan bedah kecil. Ntah kasusnya apa, masih misteri." salah seorang mereka mengingatkan bahwa hari ini ada latihan bedah


"Jadi tegang, aku..."Sahut yang lain dengan sedikit ragu


"Gue malah takut kasih sayatannya terlalu dalam. Gue suka grogi kalo harus pegang pisau bedah.."Terang yang lainnya