
Setelah semuanya siap, Aditya segera menuju rumah Kirana. Dengan mengenakan kemeja lengan panjang yang dilingkis sesiku dipadukan dengan celana jeans hitam serta sempatu kets warna putih. Rambut ditata rapi dengan gel sebagai pemanis. Dengan seikat mawar kuning di tangannya. Aditya melangkahkan kaki menuju pintu rumah Kirana. Sambil memencet bel, Aditya merapikan bajunya yang dirasa sedikit kusut. Disambut seorang gadis yang dengan wajah sedikit kesal karena telah mengganggu waktu istirahatnya.
Kirana nampak terkejut dengan kehadiran sang kekasih yang berpenampilan rapi. Segera Kirana menutup pintu kembali karena malu dengan keadaannya yang kacau. Rambut berantakan karena belum sempat dirapikan, hanya mengenakan hot pants dan kaos oblong yang sedikit kedodoran.
Kenapa dateng nggak kasih kabar sih, mana gue kayak gini. Nggak ada persiapan, malu gue....
Sebenarnya Aditya kaget dengan penampilan Kirana barusan, meski acak-acakan namun terlihat seksi di matanya. Jantung Aditya berdegup sangat kencang melihat pemandangan yang belum waktunya itu, dan wajahnya pun sangat merah karenanya.
"Tunggu sebentar, aku ganti baju dulu. " Teriak Kirana dari dalam sambil berlari ke kamarnya.
Betapa malunya, dia baru sadar bahwa ia tak mengenakan bra, karna memang tak ia duga akan ada tamu.
Setelah selesai berganti baju masih dengan perasaan malu.
Mungkinkah Aditya menyadarinya??
Kirana bertanya-tanya dalam hati sambil berjalan hendak mempersilahkan sang tamu masuk.
Setelah membuka pintu, dicarinya sosok Aditya. Dimana-mana tak ada.
Apakah dia marah? Apakah dia menunggu terlalu lama? Apakah...
"Nyari siapa sayang.."ucap lirih Aditya ditelinga kekasihnya membuat Kirana terkejut
"Lahhh kok ada di dalam?" tanyanya penuh dengan kebingungan
"Iya kan pintu tidak dikunci, dan menunggumu berganti pakaian membuat kakiku mati rasa..."Ucap Aditya enteng sambil memijat kakinya
"Lagian dateng kesini nggak ngasih kabar," Kirana mempersilakan Aditya duduk di sofa depan tivi
Aditya mengamatinya seperti siap memakannya dan membuat Kirana sangat gugup
"Kamu sudah memakainya? " bisik Aditya nakal sambil tersenyum menggoda nya
Dengan reflek Kirana menutupi dadanya dengan kedua tangan.Wajah Kirana langsung memerah mendengar ucapan nakal Aditya. Dia mendengus kesal, ternyata Aditya menyadari kecerobohannya.
"Ini untuk mu sayang." Seikat mawar kuning ia berikan kepada kekasihnya. Terlihat wajah Kirana sangat senang menerima pemberian sang kekasih. Dengan penuh senyum Kirana hendak mendaratkan ciuman di pipi Aditya. Namun Aditya menyadarinya dan menoleh, hingga bibir Adit lah yang ia cium. Hendak ingin memundurkan wajahnya namun ditahan oleh sebuah tangan yang memegang tengkuknya. Aditya menciumnya dengan sedikit ganas. Kirana mencoba melawan namun tenaganya tak cukup, hingga keduanya kehabisan napas. Lalu tertawa begitu ciuman terlepas.
Hendak berterimakasih malah mendapat pelajaran dari sang Kekasih.
"Itu hukuman buatmu karena nggak mau angkat telponku." Tuding Aditya gemas lalu mencubit hidung Kirana
"Kan udah kirim pesan ..." elak Kirana
"Dirasa cukup? Masih mau debat? Mau dihukum lebih?"Ancam Aditya langsung memajukan wajahnya siap beraksi
Kirana menghindar berdalih mengambilkan minum untuk Aditya. Berjalan menuju dapur, tak ada siapa-siapa. Karena asisten rumah tangganya meminta ijin pulang kampung selama seminggu.
Dituangkannya air dingin dicampur dengan sirup rasa jeruk, dua buah minuman jeruk telah siap dinampan. Akan membawa kedua minuman ke ruang tivi, sebuah lengan memeluknya dari belakang.
"Biarkan seperti ini sebentar saja.."Pinta Aditya
"Setelah ini baru jelaskan kemana saja tadi?"
Setelah beberapa lama, mereka duduk sambil menikmati acara tivi. Karena memang Aditya tidak merencanakan untuk kencan di luar.
"Sekarang jelasin, kabur kemana tadi?" tanya Aditya sambil menggenggam tangan Kirana
"Sama mas Dhani ke taman liat bunga, ternyata ada tempat seindah itu di kota lohhhh" Cerita Kirana penuh semangat. Namun kata-katanya terhenti saat Aditya menempelkan jarinya ke bibir Kirana
"Tunggu tunggu.....Mas Dhani???Maksud kamu dokter Dhani?" Ucap Aditya tak percaya. Yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Kirana
"Sejak kapan kalian akrab gitu? Mas? Mas Dhani????? Hahaha " seru Aditya dengan nada mengejek
"Sejak tadi, habisnya dipanggil Pak nggak mau. Malah tadi minta dipanggil nama aja, kan nggak pantes. Kesannya seumuran. Padahal dia jauh lebih tua dariku..." Jelas Kirana tanpa henti.
Kirana ini polos apa bego sih? Itu tandanya dia pengen lebih deket sama dia. Aditya tak habis pikir dengan pola pikir kekasihnya yang kelewat positif.
"Kamu nggak ngerasa aneh gitu? " Tanya Aditya penuh dengan rasa penasaran.
"Aneh gimana? Ya nggak lah. Malah katanya ntar kapan-kapan mau ngajak makan siang..." Jawab Kirana jujur
"Makan siang bareng?" Kirana mengangguk
"Berdua?" Kirana mengangguk lagi
"Kapan?" Tanyanya penuh selidik
"Katanya ntar telpon sih,," Jawab Kirana enteng
"Pokoknya nanti kalo dia ngajak makan siang, harus sama aku. Nggak boleh berdua.. "Tegas Aditya sekali lagi.
Udah mulai si tua itu. Halus banget mainnya. Liat aja bakalan gue gagalin rencana dia buat ngajakin pacar orang kencan!
Melihat kekesalan di wajah Aditya, Kirana mengajak Aditya makan seadanya di dapur. Hanya ada Daging dan beberapa sayuran. Mereka memutuskan membuat steak untuk makan malam. Berdua memasak di dapur, kadang malah saling lempar bawang saling menggoda. Setelah acara masak yang lumayan mengacaukan dapur karena ulah kekanakan mereka, kedua saling tatap laku tertawa gembira.
Menikmati masakan sendiri bersama pasangan, memang paling pas ditemani cahaya lilin.
Seperti adegan di film saja. Kirana yang ceroboh, menyisakan noda saus di bibirnya.
"Sayang itu," tunjuk Aditya kearah pipi Kirana
Kirana mengelap bagian yang salah, hingga membuat Aditya gemas dan hendak membantu nya mengusap noda saus itu.
"Sini...."Panggil Aditya agar Kirana mendekat.
Aditya memegang dagu Kirana lalu mengusap sisa saus di pipinya dengan lidahnya. Dilanjutkan ciuman yang lumayan panas setelah makan malam. Aditya sudah tidak bisa mengontrol naluri kelelakiannya. Sudah ia tahan semenjak ia disambut di depan pintu tadi.
Tangan Aditya mulai berkelana dari dagu hingga turun ke dada, mencoba meremas namun ditarik agar tidak melanjutkan aksinya. Namun pria itu tak kehabisan cara, digenggamnya tangan Kirana dengan tangan kirinya. Lalu tangan kanan Aditya mulai beraksi lagi. Menyusup bawah kaos menuju perut. Diusapnya lembut perut rata Kirana.
Kirana tak kuasa menahan getaran dari tubuhnya
Tuuuuuttttt Tuuuuutttttt Tuuuuttttt
Ponsel Kirana berdering, menghentikan aksi panas Aditya. Dilihatnya kontak di layar ponsel
Papah
Segera Kirana menerima panggilan dari sang Ayah. Beberapa menit Kirana bicara dengan sang Ayah ditelfon.
Beberapa saat kemudian Aditya berpamitan, karena malam semakin larut takut setan semakin kuat mebujuknya melakukan yang iya iya..