
Kirana, gadis yang sebenarnya cantik namun dia jarang terlihat menggunakan make up. Rambut lurusnya sepunggung lebih sering ia ikat dibelakang ketimbang digerai. Wajah polosnya yang lebih ia perlihatkan terbayang-bayang di kepala Aditya. Tubuhnya yang ramping dan berisi, sungguh sempurna sebagai seorang gadis remaja kini.
Kenapa gue jadi mesum gini sih, ngebayangin yang iya-iya. Kan kangen jadinya....huft
Rutuk Aditya yang memukul kepalanya dengan bantal karena telah membanggakan kecantikan Kirana, gadis pujaan hatinya.
Kirana memang sengaja menyembunyikan kerapuhannya dengan sikap dinginnya selama ini. Aditya dapat merasakan betapa lembut perasaan gadis itu sesungguhnya. Kirana hanya butuh perhatian dan kasih sayang lebih.
Lamunan Aditya terhenti kala ponselnya berdering, ia tatap layar ponsel itu. Betapa girangnya Aditya saat kontak yang menghubunginya adalah Bebeb alias Kirana.
"Assalamualaikum sayang, tumben telpon malem-malem gini" ucap Aditya mengawali percakapan di telpon
"Wa'alaikumsalam....Dit bisa minta tolong nggak???" Dengan penuh keraguan Kirana mengucapkan kata itu. Karena sesungguhnya ia tak tau harus minta tolong siapa lagi
"Tentu dong, apa sih yang nggak buat pacarku....." Aditya nampak kegirangan di kamarnya
"Kita ketemu di toko buku A ya, gue tunggu...." Suara Kirana sedikit lemah saat menyebutkan lokasi pertemuan mereka.
"Oke! Tunggu aku disana, nggak lama lagi.....jangan kemana-mana"
Aditya nampak tergesa-gesa keluar kamar, melewati keluarganya yang tengah asik mengobrol di ruang keluarga.
"Kemana bang??!!!" Seru Adelia
"Pacaran!!!!"
"Busyettt!!!! Emang tu cewek waras bang?"
"Diem lu bocah" sambil mengarahkan tinju kearah adeknya lalu berlalu.
"Tumben si abang keluar malem selain weekend. Apa bener abang pacaran mak?" Tanya Kirana kepada ibunya, yang hanya dijawab dengan pundak diangkat tanda tak tau.
"Kira-kira cantik nggak yaaa???? Minta kenalin ahhh,,,,,"muncul ide jahil Adelia
Ssampainya Aditya di tempat janjiannya dengan Kirana, Adit masih memutar pandangannya mencari sosok gadis pujaan hatinya. Tak lama setelah berkeliling dia menemukan Kirana di dekat rak buku bagian novel dan komik.
"Lama ya...."Ucap Aditya sambil mengatur nafasnya
"Nggak kok,"
"Ada apa?"
"Kita cari tempat ngobrol yang enak yuk...."Ajak Kirana sambil menarik lengan Aditya.
Baru kali ini Kirana menggandeng tangannya tanpa diminta. Aditya tersenyum bahagia mendapat perlakuan seperti ini oleh Kirana. Sesampainya di restoran junkfood mereka duduk di bangku kosong yang sebelumnya mereka telah memesan masing-masing satu porsi burger.
Saat duduk aditya tak ingin bertanya, dia ingin Kirana sendiri yang bercerita ada keperluan apa. Karena dilihat dari pancaran warna dari tubuh Kirana sungguh terlihat kelabu.
Akhirnya Kirana membuka suara setelah diam beberapa detik.
"Dit, gue minta tolong bisa nggak?" Pintanya dengan wajah melas
"InsyaaAllah"
"Gue nggak mau nikah sama Hendra,"
DUUAAARRRR DDUUUUAARRR DUUUAARRR
Berasa ada petasan menyambut kegembiraan yang dirasakan Aditya, namun ia masih tak percaya dan meminta Kirana mengulang lagi apa yang dia ucapkan
"Kenapa?" sedikit tak percaya dengan aoa yang ia dengar
"GUE NGGAK MAU NIKAH SAMA HENDRA, plis bantu gue bebas dari pernikahan bisnis ini...." pinta Kirana sekali lagi
"Apa yang harus aku perbuat sayang..."
Kata yang hampir mustahil diucapkan oleh gadis seperti Kirana. Akhirnya....
"Iya kita kan memang pacaran sayang."
"Itu kan menurut lo! Gue belum iyain!" Kilahnya dengan sedikit halus dan malu.
Rona merah di pipi Kirana kian menambah ayu wajahnya. Meski tanpa make up Kirana sangat cantik.
"Iya deh sayang, hari ini kita resmi jadian. Bukan pacaran dari sudut pandang aku aja kan sayang..." Goda Aditya karena semakin gemas melihat wajah polos gadis dihadapannya itu
"Nggak usah sayang-sayang deh! Geli tauuu" Masih dengan nada tinggi namun terlihat betapa ia tak dapat menutupi rasa malunya.
"Masak udah pacaran elo gue sih yang. Panggil sayang dong biar romantis..."
"Iihhh elu mahhh, eh kamu.." Sedikit canggung Kirana mengucapkan kalimat itu
"Cantik." bisik Aditya
"Hah?" Kirana tak dpat mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Kirana.
"Trus kalau kita pacaran apakah benar perjodohan kamu akan dibatalkan?" Tanya Aditya penuh selidik
" Harusnya iya, karena Hendra pun sudah membawa pacarnya buat dikenalin sama keluarganya.Namun keluarganya nggak setuju. Jadi gue...eh aku sama Hendra punya rencana buat sama-sama ngenalin ke keluarga besar bahwa kami punya orang yang kami cintai." Kata-kata Kirana berhenti sampai disitu. Dan mulai memakan makanannya sedikit demi sedikit.
Aditya masih mencerna ucapan Kirana yang menurutnya sangat tidak mungkin.
Berarti Kirana cinta gue dong!!!
Aditya tersenyum bahagia mendengar pernyataan Kirana, walau sangat lambat. Jadi dia tak perlu khawatir dengan dokter Dhani pembimbing mereka.
"Kamu beneran cinta sama aku Na?" Ucap Aditya memastikan apa yang ia dengar dari bibir manis Kirana
"Sebenarnya udah lama guee... maksudnya aku suka sama kamu."
"Kapan?"
"Sejak kamu kecelakaan karena menyelamatkan aku..."Ucap lirih Kirana yang hampir tak terdengar oleh Aditya
Karena bagaimana pun ini pertama kalinya Kirana mengungkapkan perasaannya kepada seorang pria.
"Whaattt!!!! Selam itu? Dan sebenarnya kamu udah suka sama aku waktu aku ajak kamu pacaran??" Aditya masih tak percaya dengan apa yang ia dengarkan
"Trus kenapa kamu nolak aku?"
Kirana terdiam mendengar pertanyaan Aditya
"Kamu kan tau aku dijodohin sama Hendra, mana mungkin aku menerima mu walau aku ingin..." Jelasnya dengan wajah sendu
Ternyata benar, gadis ini sangat lembut. Dia hanya menutupi kelemahannya dengan sikap dinginnya selama ini. Dan yang paling penting Kirana suka sama gue dari dulu...
Aditya sungguh sangat senang, sampai loncat kegirangan seperti anak kecil yang dibelikan mainan impian oleh sang ibu.
Kirana hanya menatapnya dengan senyum, sebenarnya Kirana juga sangat senang dan lega karena dapat jujur dengan dirinya sendiri
Hari sudah semakin malam, Aditya mengantar pacarnya, yang kali ini benar-benar pacarnya bukan pacaran sepihak saja. Karena sungguh berat menyimpan rasa yang tak berbalas.
Begitu sampai di depan rumah Kirana, Aditya mulai berani mencium kening gadis itu tanda perpisahan malam ini.
Kirana kaget dengan apa yang dilakukan Aditya, pasalnya ini kali pertama baginya mendapatkan ciuman dari orang lain selain keluarganya. Kirana tersipu malau, pipinya memerah dan dengan senyum tipis berlari masuk rumah karena saking malunya.
Kini Kirana tak perlu memakai topeng lagi, dia bebas menjadi apapun yang dia inginkan. Ini semua adalah awal perubahan kehidupan Kirana. Dan ini semua berkat Aditya yang dengan sabar menantinya walau sering mendapat cemoohan darinya. Kirana bersyukur ada Aditya yang menyayanginya. Sejenak ia lupa akan kesedihannya akibat perceraian kedua orang tuanya. Kirana membasuh kedua kakinya, tangan serta mukanya agar segera tidur karena dia mendapatkan jadwal pagi. Namun begitu ia ingat Aditya mendapat tugas di sore hari setelahnya, wajah Kirana kembali muram. Apalagi banyak perawat yang mengidolakannya di hari pertama mereka magang. Dan itu sukses membuat hati Kirana memanas dan ingin mencabik gadis-gadis itu.