
DUUAAARRRR
Terjadi ledakan hebat, kabut hitam menyelimuti bangunan itu. Semua hancur berantakan.
Orang-orang dengan jubah hitam yang ada didalam sana terpental jauh dari gadis yang mereka kelilingi tadi.
"Kenapa jadi seperti ini? " Tanya salah seorang dari mereka
"Tidak mungkin. Kita sudah membawa gadis yang benar." Kilah lainnya
"Coba kalian periksa gadis itu!" Perintah salah satu dari mereka, mungkin ketua nya atau pimpinan kelompok itu
Saat mereka mencoba melihat wajahnya, semuanya terkejut
"Sial!!!! Kita dibodohi! Semua karena kelalaian kamu Jaya!!" Teriak pria yang terlihat sangat dominan dibanding yang lain. Bahkan dari segi penampilan pun berbeda.
"Mana mungkin? Jelas-jelas tadi kalian juga ikut membantu membawanya kemari!!!"Protes orang yang bernama Jaya itu minta dukungan rekannya
"Kita tidak boleh terlambat, kalian segera kembali kesana dan temukan gadis itu! Kalian tidak ingin kita lenyap sepertu debu kan!!!" Perintah salah satu dari mereka dengan sangat murka
Begitu sadar mereka dibodohi, semua berhamburan secepat kilat menuju ke tempat resepsi pernikahan Aditya dan Kirana.
Namun disana sudah sangat sepi. Dan saat semua orang itu kembali ke tempat resepsi, tawanan yang dibawa tadi segera dibebaskan oleh Aditya dan beberapa bawahan sang kakek. Untuk segera mendapatkan perawatan. Bagaimanapun dia rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan Kirana.
®®®
Di tempat lain yang sudah aman dari kejaran manusia berjubah hitam itu, Kirana beserta yang lainnya merasakan sedikit lega. Karena dapat menggagalkan rencana jahat orang-orang itu.
"Kak, adek takut!!" Rengek Adelia dalam pelukan Kirana dan Sivia.
Sivia mencoba menenangkan Adelia sambil mengelus lembut rambut gadis kecil itu. "Tenang dek, Agung pasti baik-baik aja. Kita percaya sama mereka. Mereka sudah dilatih kakek."
Sivia sudah tahu kronologi kejadian yang akan terjadi hari ini, Sam sudah menjelaskan dan meminta kekasih agar jangan panik.
Kirana sudah paham, karena memang secara langsung dia hadir dalam pembuatan rencana penggagalan kaum hitam itu.
Adelia yang walau sudah diberi pengertian sebelumnya oleh Agung dan kakaknya, tetap saja masih merasa takut.
Takut jadi janda sebelum waktunya.
Gila, masih sempet aje gue mikirin kesono. Rutuk Adelia atas kebodohannya.
Kirana yang memang berpenampilan biasa, tidak mengenakan gaun atau kebaya kebanyakan pengantin wanita. Karena memang itu saran dari sang kakek. Bahwa resepsi ini hanya bohongan. Semua dilakukan untuk mengagalkan kelompok hitam untuk membangkitkan Dewi Kegelapan
Entah kenapa perasaan Kirana tidak enak, Namun sepertinya keberadaan Kirana tidak dapat ditutupi.
Seorang pria tinggi besar berjubah hitam, dengan mata merah menghancurkan pintu dimana Kirana berada.
Ketiga wanita yang berada di ruangan itu sangat ketakutan, Kirana melihat semua penjaga di luar ruangan sudah tergeletak tak berdaya.
Lalu pria berjubah hitam itu mendekati Kirana. "Kalian para manusia, beraninya membodohiku!!!!" Terlihat orang itu sangat murka
Kirana bersama Adel dan juga Sivia sangat ketakutan, pun tidak berani beranjak dari tempat mereka berada. Pesan dari kakek, jika mereka menemukan dirinya. Jangan pernah keluar dari lingkaran biru disekitarnya.
"Kenapa kalian takut kelinci kecil? Tidak sabar ingin bersamaku??Hahahahah" Semakin mendekat pria itu
Kirana terlihat sedang merapal mantra yang diajarkan kakeknya.
"Sialan!!!! Pasti ini ulah si tua bangka itu! Dia pikir bisa menggagalkan rencanaku lagi Hah?!!" orang itu benar-benar sangat marah
"Ternyata kau masih bisa mencium aura Kirana ya?" Sang kakek muncul dengan baju yang berbeda
"Tidak akan aku biarkan kamu menyentuh cucuku! Lagi pula percuma, dia sudah menikah. Jadi tidak akan pernah bisa membangkitkan Dewi Kegelapan!!Hahahah" Kakek tertawa puas
Namun sang musuh tidak perduli, ritual sudah dimulai, jika dia tidak mendapatkan Kirana maka dia akan lenyap bagai pasir.
Keduanya bertarung saling baku hantam dengan kekuatan masing-masing. Kakek sengaja mengulur waktu sebisa mungkin, memberi isyarat kepada Kirana agar menghubungi Aditya lewat telepati.
Pertarungan keduanya sangat berbahaya, jika ruangan itu tak dilindungi maka dengan sangat mudah akan hancur. Aditya beserta kedua sahabatnya telah tiba setelah mengurus gadis pengganti Kirana.
Pergerakan pria berjubah itu semakin lambat, dan terlihat badannya semakin lemah. Ini kesempatan kakek menyerang organ vitalnya agar tidak dapat kembali lagi setelah dia hancur. Dengan pedang emas perak jantung pria itu ditusuk, dan
Wussshhhh
Pria itu menghilang. Lenyap seperti pasir terbawa angin. Namun ada sinar hitam yang pergi meninggalkan tempat itu. Menjauh hingga mendekati ke tubuh Kayla dan memasuki tubuh lemah itu.
Sudah dirasa aman, Aditya mendekat kearah Kirana lalu memeluk Kirana. Begitu pula Sam dan Agung "Maaf.."Keduanya meminta maaf kepada Adel dan Sivia secara bersamaan.
Adegan saling peluk oleh ketiga pasang kekasih itu membuat sang kakek bahagia. Setidaknya rencana ini bisa menggagalkan rencana jahat mereka. Paling tidak butuh tiga generasi untuk kekuatan hitam memulihkan dirinya. Entah tubuh siapa yang menjadi sarang barunya. Kakek tidak peduli.
Melihat ketiga cucunya itu, sang kakek meninggalkan mereka dan menyuruh bawahannya mengawasi mereka.
Meski sudah berumur, Kakek terlihat masih keren. Mungkin itu efek kekuatan pada dirinya, penampilannya masih sangat jauh dari umurnya. Ketampanannya tak luntur terbawa usia.
"Kamu tidak apa-apa sayang?"Aditya masih panik melihat Kirana yang masih gemetaran. Tidak ada jawaban, trauma bisa dikatakan telah menyerang ketiga perempuan yang tadi menyimak pertarungan sengit antara kakek dengan pria berjubah hitam.
Aditya, Sam dan Agung, menggendong kekasihnya ke dalam mobil menuju rumah kakek untuk mendapatkan penangan psikologi.
"Abang, sebenernya tadi itu apa?" Adelia berusaha mengeluarkan kata-kata meski tubuhnya sangat lemas karena syok
"Petunjukan badut sayang." Agung menimpali pertanyaan Adelia dengan candaan agar kondisi mental sang kekasih membaik
"Say, ngeri banget. Makhluk apa tadi? Hilang kemana?"Sivia yang masih punya tenaga cukup memberondong Sam dengan seribu tanya
"Nanti kita jelasin." Kedua pria itu dengan kompak menanggapi keingintahuan Sivia dan Adelia
Kejadian itu membuat Kirana merasakan kilas balik saat dia mengetahui orangtuanya sering bertengkar. Itu membuatnya sangat takut, sakit, tidak ingin mereka berpisah.
Dalam pelukan Aditya, Kirana menitikkan air mata, dan itu disadari olehnya.
" Tenang sayang, semua sudah berakhir. Kita akan menjalani hidup normal seperti dulu sebelum ada ancaman dari kegelapan."Aditya menenangkan Kirana yang masih kalut.
Perpisahan orang tuanya membuatnya sangat tertekan, meski ia tau ini lebih baik dari pada dipaksakan bersama. Kirana memeluk erat Aditya, dia tak ingin kehilangan pria yang ia cintai.
"Jangan tinggalin aku."
"Tak akan sayang, kita akan hidup bahagia." Dengan kecupan lembut di kepalanya, Kirana merasa sangat tenang. Sepertinya kejadian tadi telah menguras emosi sang istri, sehingga membuatnya nampak kelelahan. Tak lama ketiga perempuan itu terlelap dalam pelukan pria yang menyayangi mereka.
Berharap semua akan berakhir, namun ini merupakan awal perjuangan mereka mencegah agar kejadian seperti ini takkan terulang lagi. Peningkatan kemampuan masih dilakukan, Kegelapan takkan hilang begitu saja. Kakek menjelaskan bahwa kegelapan telah mendapatkan inang baru untuk berkembang dan berlindung. Suatu saat masa seperti ini akan terulang lagi.
Mereka mulai menjalani kehidupan normal, namun kewaspadaan selalu ada.