Forgive Me I Give Up

Forgive Me I Give Up
EPS-78



"Kamu sangat pandai memasak sayang, kakak tidak menyangka, wanita manja dimasalalu, kini benar-benar menjadi wanita luar biasa, dan mahir dalam segala hal."


"Aku begini karena kakak, dan aku akan selalu memasak khusus untuk kakak, setiap harinya."


"Tentu saja, karena kamu mahir dalam segala hal sayang, apa lagi di atas ranjang," goda Ziko sambil menikmati sarapannya yang sudah beranjak siang.


Sedangkan Cindy yang mendengar itupun tersipu malu, Cindy mempercepat makannya karena dia harus segera pulang kerumah ibu mertuanya, karena sikembar ada disana.


"Tapi kakak tidak ingin kamu kelelahan sayang, jangan dipaksakan, jika lelah biar bik Nah yang memasak."


"siap kak."


"Pelan-pelan sayang, nanti kamu tersedak, lagian kita tidak ada acara kemana-mana hari ini, jadi nikmati sarapannya."


"Lho anak-anak sama mamah lho kak, kita harus segera kesana, kasian mamah nanti capek mengasuh mereka."


"Tenang sayang, tadi kakak sudah menelfon mamah, dan anak-anak baik-baik saja, hari ini adalah hari untuk kita sayang, anak-anak kita juga tidak akan menangis, karena mereka pengertian."


"Tapi kak, Az-"


"Sayang" tekan Ziko.


"Baiklah kak, kak apa Aku boleh bertanya?" Terlihat Cindy ragu untuk bertanya, karena lama tidak bicara akhirnya Ziko melihat sang istri.


"Kenapa diam sayang, tanyakan lah, tidak perlu risau, kakak akan menjawab yang ingin kamu tahu sayang."


"Emmm, siapa Tere itu kak? Kenapa bisa ada dipernikahan kita kemaren? maksudku, apa dia masih ada hubungan keluarga dengannya."


"Dia adik sepupuku sayang, apa kamu mengenalnya?"


"Tentu saja, dia mantan kekasih kak Reno."


"Reno Darmawan, anak sahabat papa dan mamah," Cindy sengaja bicara begitu karena tidak ingin membicarakan masalahnya dengan Reno dimasalalu.


"Apa kamu mengenalnya sayang?"


"Tentu saja, kami sangat dekat seperti saudara, saat pemakan kedua orang tuaku, kak Reno dan seluruh keluarganya datang."


"Maafkan aku sayang, saat itu kakak tidak ada disisimu, maafkan kak," lirih Ziko, Ziko masih saja merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada istrinya, dan itu malah membuat Cindy tidak tega.


"Sudah kak, jika kakak ingin minta maaf, makan bahagiakan kami kak," pinta Cindy sambil membelai pipi Ziko, dimana itu justru membuat Ziko tersenyum haru, karena istrinya begitu hangat.


"Tapi tunggu dulu, istriku mengenal Reno darmawan, namun selama ini aku tidak tahu, bodohnya aku," gejolak batin Ziko.


"Kamu tahu sayang, Itu temanku, kapan-kapan kita akan berkunjung kesana, toh kalian juga saling kenal, makan akan lebih seru jika bertemu."


"Baik kak."


Tidak lama keduanya sudah usai sarapan, yang dirapel dengan makan siang.


Ziko terus memandang Cindy yang tengah meminum air putih yang ada dihadapan Cindy.


"kenapa kak? Jangan menatapku begitu"


"Aku sangat mencintai kamu sayang, apapun yang ada pada dirimu membuatku jatuh hati padamu sayang, rasanya kakak tidak ingin berhenti melihatmu" Ziko memegang tangan sang istri yang berada di atas meja makan sambil meremasnya.


Cindypun mengelus lembut punggung tangan Ziko, dia juga bersyukur bisa bersama kembali dengan Ziko, bahkan awalnya Cindy merasa mereka tidak akan pernah bertemu, namun siapa sangak, tuhan masih ingin mereka bersama.


"Aku juga sangat mencintaimu kak, sejak dulu prasaanku tidak pernah berubah, meskipun sudah berusaha, apa lagi malaikat kecil kita begitu mirip denganmu, hingga aku sulit menutup hati ini."


"Mulai sekarang jangan coba-coba melupakan kakak lho sayang, jika itu terjadi habis kamu sama kakak," ancam Ziko dengan senyum semiknya, dimana itu membuat Cindy merinding.