
"kita akan kemana sih kak?" sejak dari rumah Cindy bertanya, namun sama sekali Ziko tidak memberi tahu, sedangkan Cindy sudah mulai tidak sabar karena penasaran.
"nanti kamu juga akan tahu sayang," akhirnya Ziko menjawab setelah hampir sampai ditempat tujuan, Ziko terus menggenggam tangan Cindy sambil mengemudi mobilnya, senyum Ziko sama sekali tidak surut sejak tadi, dimana itu justru membuat Cindy merasa aneh.
"kakak baik-baik saja kan?" selidik Cindy, "apa kakak sedang sakit?"
Ziko menautkan kedua alisnya, "sakit?"
"iya sakit, sejak tadi kakak senyum-senyum tidak jelas."
"maksud kamu gila sayang?"
"hehe bukan begitu kak, sudah lupakan, sebaiknya kakak fokus saja, takut nabrak nanti kalau terus melihat kesini."
"karena melihatmu lebih indah sayang, dari pada melihat jalanan didepan," gombal Ziko.
"ck,,, kakak selalu saja gombal, hingga gombalan kakak sudah tidak mempan lagi." gruru Cindy, Cindy melihat kearah samping, dimana jalanan yang luamayan sepi, karena jam segini semua penghuni bumi tengah bekerja.
Sedangkan Ziko yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, 5menit setelahnya, Ziko membelokkan mobilnya disebuah mansion yang cukup menggah, dan tidak kalah megah dengan mansion utama.
"kakak ini kita kerumah siapa?" tanya Cindy, ketik melihat mobilnya berhenti disebuah mansion yang lumayan megah itu.
"sudah tanya nanti saja, sekarang ayo kita masuk," Ziko mengulurkan tangannya pada Cindy setelah membukakan pintu mobil yang berada di sebelah kirinya, dan disambut baik oleh Cindy, tidak lupa disertai senyum teduhnya, mereka berduapun berjalan beriringan menuju pintu utama mansion itu.
Ketima memasuki pintu banyak ART bersiri disana, "selamat datang tuan muda," seluruh ART berjejeran disana menyambut Ziko dan Cindy yang baru memasuki mansion itu.
"Hem, kenalkan ini istriku tercinta, Nyonya Cindy Anderson," ujar Ziko memperkenalkan Cindy.
"siang Nyonya muda," sapa serentak para ARt pada Cindy.
"siang," kini Cindy memandang Ziko, Ziko yang mengertipun membawa Cindy kedalam sebuah kamar, yaitu kamar utama mansion Ziko.
Cindy hanya diam saja, dia masih belum mencerna perkataan Ziko dengan baik, "tunggu dulu kak, ini rumah siapa kak?"
"rumah ini untuk kamu dan anak-anak kita sayang, dan ayo kakak tunjukkan kamar sikembar," Ziko membawa tangan sang istri menuju kamar sikembar yang ada dilantai 2.
"ini kamar Azzura," Ziko membuka kamar sang putri, yang berwarna ping, identik sekali dengan warna perempuan.
"kapan kakak membuatkan mereka kamar? sedangkan kakak baru bertemu mereka 1bulan lalu." tanya Cindy, Cindy menyusuri seluruh ruangan kamar Azzura, yang begitu indah, dan Cindy yakin, putrinya akan suka.
"sejak kakak tahu, kalau kakak punya putra dan putri yang lucu-lucu, dan kalau rumah ini, kakak sudah membelinya 3tahun silam, saat itu kakak berencana memberikan kejutan setelah pesta ulang tahun kantor, tapi sepertinya takdir belum mengijinkan."
Cindy yang mendengar penjelasan Ziko, berkaca-kaca, dia berbalik dan memeluk suaminya begitu erat, "maafkan aku kak."
"No sayang, ini semua salah kakak, kakak yang terlalu bodoh, sehingga kakak terhasut perkataan wanita sialan itu!" geram Ziko, Ziko akan selalu emosi jika mengingat Jesica.
"wanita?"
"iya, Jesica."
Cindy hanya mangguk-mangguk, "ayo kak kita pulang," Cindy berjalan keluar, sebelum pulang dia akan melihat kamar anak laki-lakinya, Azzam.
"tunggu kakak sayang," Ziko segera menyusul Cindy yang sudah masuk kedalam kamar putranya.
Tidak lama keduanya menuruni tangga untuk kembali ke mansion Anderson.
"besok akan Cindy bereskan baju-baju Cindy dan anak-anak kak, supaya bisa dibawa kesini."
"tidak perlu sayang, semuanya sudah kakak siapkan disini, jika ada yang ingin kamu rubah, rubah saja sesuai keinginanmu sayang."
Ya, Ziko akan menyerahkan segala urusan rumah dan lain-lain pada Cindy, Ziko hanya bertugas mencari nafkah, sisanya biar sang istri yang mengurusnya.